بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Ahad 9 Rabi'ul-Akhir 1448 H /20 September 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Manusia
menyukai kepastian. Kita menyusun rencana, menyiapkan tabungan, menambah
keterampilan, menjaga relasi, dan berusaha memperoleh kepercayaan orang lain.
Semua itu dapat menjadi ikhtiar yang baik. Masalahnya muncul ketika sebab-sebab
yang semula berada di tangan, perlahan-lahan mengambil tempat di hati.
Selama
pekerjaan aman, atasan puas, jaringan kuat, dan rencana berjalan, hati terasa
tenang. Namun, ketika salah satunya goyah, seakan-akan seluruh masa depan ikut
runtuh. Di sinilah iman kepada Allah perlu diperiksa: apakah kita benar-benar
bersandar kepada Allah, atau hanya merasa tenang selama sebab-sebab dunia masih
dapat kita kendalikan?
Iman
kepada Allah bukan sekadar mengakui keberadaan-Nya
Iman
kepada Allah tentu mencakup keyakinan bahwa Allah benar-benar ada. Akan tetapi,
maknanya tidak berhenti pada pengakuan tersebut. Secara ringkas, iman kepada
Allah mencakup empat perkara:
1)
Meyakini keberadaan Allah;
2)
Mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya, yaitu bahwa hanya Dia yang menciptakan,
memiliki, dan mengatur seluruh alam;
3)
Mengesakan Allah dalam uluhiyah-Nya, yaitu bahwa hanya Dia yang berhak menerima
seluruh bentuk ibadah; dan
4)
Mengimani nama dan sifat Allah sebagaimana yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan
hadis sahih, tanpa mengubah makna, menolak, membayangkan hakikat, atau
menyerupakan Allah dengan makhluk.
Keyakinan
tentang keberadaan Allah selaras dengan fitrah manusia dan diteguhkan oleh
tanda-tanda kekuasaan-Nya pada diri serta alam semesta. Bahkan ketika berbagai
sandaran dunia tidak lagi menolong, manusia sering menyadari betapa lemah
dirinya dan membutuhkan Rabb yang Mahakuasa. Namun, iman tidak boleh hanya
muncul pada saat terdesak. Pengakuan terhadap Allah harus membentuk seluruh
arah hidup.
Keempat
perkara ini saling berkaitan. Pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta belum cukup
apabila doa, rasa takut, harapan, dan ketundukan justru diberikan kepada
selain-Nya. Iman yang benar tidak hanya mengisi pikiran dengan pengetahuan
tentang Allah, tetapi juga mengarahkan ibadah dan sandaran hati hanya
kepada-Nya.
Allah
adalah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur
Ketika
seorang mukmin meyakini rububiyah Allah, ia mengetahui bahwa tidak ada sesuatu
pun yang berdiri sendiri di luar kekuasaan-Nya. Pekerjaan, obat, keahlian,
tabungan, pertolongan manusia, dan berbagai peluang hanyalah sebab. Semuanya
diciptakan oleh Allah, berada dalam kepemilikan-Nya, dan bekerja di bawah
pengaturan-Nya.
Kesadaran
ini mengubah cara seorang mukmin memandang rasa aman. Ia tidak mengukurnya
semata-mata dari banyaknya simpanan, kuatnya kedudukan, atau dekatnya
orang-orang yang dapat menolong. Semua itu patut dijaga dan dimanfaatkan,
tetapi keamanan yang sejati lahir dari keyakinan bahwa urusannya berada di
tangan Allah.
أَلَا لَهُ
الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ
“Ingatlah,
menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (QS. Al-A‘raf: 54)
Sebab
dapat kuat, lemah, tersedia, atau terputus sesuai dengan ketetapan Allah. Oleh
karena itu, seorang mukmin tidak meremehkan sebab, tetapi juga tidak
menganggapnya sebagai penentu mutlak. Ia bekerja dengan serius, sekaligus
menyadari bahwa hasil tidak pernah sepenuhnya berada dalam genggaman manusia.
Kita
beribadah dan memohon pertolongan hanya kepada Allah
Rububiyah
menuntun kepada uluhiyah. Karena Allah adalah satu-satunya Pencipta dan
Pengatur, hanya Dia yang berhak menjadi tujuan seluruh ibadah. Allah
mengajarkan kalimat yang setiap hari kita baca dalam salat,
إِيَّاكَ
نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya
kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)
Ibadah
bukan hanya gerakan badan. Doa, takut, harap, cinta, dan tawakal adalah ibadah
hati. Meminta bantuan kepada manusia dalam perkara yang mampu mereka lakukan
bukanlah masalah. Namun, hati harus tetap mengetahui bahwa manusia hanyalah
sebab. Mereka dapat membantu jika Allah mengizinkan dan dapat tidak berdaya
meskipun telah berjanji.
Demikian
pula penilaian manusia. Menjaga kepercayaan, menerima nasihat, dan memperbaiki
kekurangan adalah sikap terpuji. Akan tetapi, penerimaan manusia tidak boleh
menjadi kiblat hati hingga seseorang berani meninggalkan ketaatan,
menyembunyikan kebenaran, atau menempuh cara yang Allah haramkan.
Menempuh
sebab tanpa diperbudak sebab
Tawakal
tidak berarti duduk tanpa usaha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
احْرِصْ
عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ
“Bersemangatlah
terhadap perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan
jangan lemah.” (HR. Muslim no.
2664)
Hadis
ini menggabungkan dua perkara: kesungguhan menempuh sesuatu yang bermanfaat dan
permohonan pertolongan kepada Allah. Ikhtiar menggerakkan anggota badan,
sedangkan tawakal mengarahkan hati. Keduanya tidak saling meniadakan.
Seorang
karyawan bekerja dengan amanah, tetapi tidak meyakini atasannya sebagai pemilik
rezeki. Orang yang sakit mencari dokter dan meminum obat, tetapi tidak
menganggap keduanya sebagai penyembuh yang bekerja sendiri. Seorang kepala
keluarga menyusun keuangan dan memperluas jaringan, tetapi tidak menjadikan
tabungan dan relasi sebagai jaminan mutlak masa depan. Ketika suatu sebab
gagal, ia mencari sebab lain yang halal tanpa membiarkan harapannya kepada
Allah ikut terputus.
Ketika
hasil sesuai rencana, ia bersyukur dan tidak merasa bahwa keberhasilan murni
lahir dari kecerdasannya. Ketika hasil berbeda, ia tidak menuduh seluruh
usahanya sia-sia. Ia menilai kembali langkahnya, memperbaiki kesalahan yang
dapat diperbaiki, kemudian melanjutkan ikhtiar dengan hati yang lebih rendah di
hadapan Allah.
Sebaliknya,
ketergantungan kepada sebab mudah dikenali dari keadaan hati. Seseorang merasa
masa depannya tamat ketika kehilangan pekerjaan, rela melanggar syariat demi
menjaga penerimaan orang, atau lebih takut kepada komentar manusia daripada
kemurkaan Allah. Sebab yang semestinya digunakan akhirnya berubah menjadi
sesuatu yang mengendalikan dirinya.
Mengenal
Allah akan menghidupkan ibadah hati
Nama
dan sifat Allah bukan sekadar bahan untuk diketahui. Ketika seorang hamba
mengenal kesempurnaan ilmu, pendengaran, penglihatan, rahmat, kekuasaan, dan
hikmah Allah, tumbuh dalam hatinya cinta dan pengagungan kepada-Nya. Cinta
mendorongnya menjalankan perintah, sedangkan pengagungan menahannya dari
larangan. Dari sinilah lahir kehidupan yang baik: bukan hidup tanpa kesulitan,
melainkan hati yang tetap mengenal Rabb-nya ketika keadaan tidak berjalan
sesuai keinginan.
Apabila
ia yakin Allah Maha Mendengar, ia tidak merasa doanya hilang hanya karena belum
melihat jawaban. Apabila ia yakin Allah Mahabijaksana, ia tidak menganggap
setiap hal yang berbeda dari rencananya sebagai keburukan. Pengetahuan tentang
Allah seperti inilah yang menghidupkan sabar, harap, takut, dan keridaan.
Periksa
tempat berlarinya hati
Iman
kepada Allah seharusnya tampak pada arah hati. Oleh karena itu, tanyakan kepada
diri sendiri:
Ketika
takut, kepada siapa hati pertama kali berlari?
Ketika
berhasil, siapa yang pertama kali diingat dan disyukuri?
Ketika
satu sebab terputus, apakah harapan kepada Allah ikut terputus?
Apakah
penilaian manusia lebih menentukan pilihan kita daripada keridaan Allah?
Tempuhlah sebab terbaik yang dibenarkan, mintalah pertolongan Allah, lalu jangan serahkan ketenangan hati kepada hasil yang belum berada dalam kekuasaan kita. Allah-lah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur seluruh urusan. Hanya kepada-Nya hati selayaknya bergantung.
Penulis: Mochammad
Wibisono
Artikel Muslim.or.id
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel Muslim.or.id
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar