ISLAM
BAGI SIKAP MUJAHARAH
(Terang-Terangan Bermaksiat)
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Jum'at 22 Rabi'ul-Awal 1448 H /4 September 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Khotbah
pertama
إِنَّ الْحَمْدَ
لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ
لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
قَالَ اللَّهُ
تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا
تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَقَالَ
: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا
اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيبًا
وَقَالَ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
فَإِنَّ
أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرَّ
الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا
أَمَّا
بَعْدُ
عِبَادَ
اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ
زَادٍ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ
Kaum
Muslimin, jemaah sidang Jumat rahimakumullah,
Rasulullah
ﷺ pernah menyampaikan sebuah peringatan yang sangat keras kepada umatnya.
Peringatan yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan merenungkan
kondisi diri kita. Beliau bersabda,
كُلُّ أُمَّتِي
مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ
بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ،
عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ
يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
“Semua
umatku akan mendapatkan ampunan, kecuali orang-orang yang
terang-terangan dalam kemaksiatan. Sesungguhnya termasuk mujaharah
adalah seseorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari, kemudian Allah
menutupinya, namun di pagi hari dia berkata, ‘Wahai fulan, tadi malam aku
melakukan ini dan itu.’ Padahal Allah telah menutupinya di malam hari, namun
dia malah membuka apa yang Allah tutupi.” (HR. Bukhari no.
6069 dan Muslim no.
2990)
Perhatikan
kalimat Rasulullah ﷺ, “semua umatku akan mendapat ampunan,” ini adalah
kabar gembira yang luar biasa. Setiap orang dari umat Muhammad ﷺ memiliki
kesempatan mendapatkan ampunan Allah. Namun ada pengecualian yang mengerikan, “kecuali
para mujahir.” Mereka yang memamerkan dosanya secara terang-terangan telah
menutup sendiri pintu ampunan itu.
Jemaah
yang dirahmati Allah, lalu apakah sebenarnya mujaharah itu?
Mujaharah bukan hanya melakukan dosa. Mujaharah adalah
ketika seseorang melakukan dosa, ia malah memamerkan, menceritakan,
mengumumkan, bahkan mengajak orang lain untuk turut melakukannya. Dia tidak
mempunyai rasa malu dan takut. Seolah-olah dosa itu adalah prestasi yang patut
dibanggakan.
Lantas,
apa saja bahaya mujaharah yang perlu kita waspadai?
Pertama, mujaharah adalah
bentuk penghinaan kepada Allah
Orang
yang mujahir seolah berkata dengan perbuatannya, “Aku tidak
takut kepada Allah, aku tidak peduli dengan larangan-Nya.” Padahal Allah
berfirman,
وَمَا قَدَرُوا
اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ
“Dan
mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.” (QS. Az-Zumar: 67)
Seandainya
dia benar-benar mengerti keagungan dan kebesaran Allah, tentu dia tidak akan
berani berhadapan dengan-Nya dalam melakukan kemaksiatan secara
terang-terangan.
Kedua, mujaharah menyebarkan
kerusakan di masyarakat
Orang
yang mujahir tidak hanya berdosa untuk dirinya sendiri, tetapi
dia turut mengajak orang lain untuk ikut terjerumus. Setiap orang yang
terpengaruh dan meniru perbuatannya, maka dia pun ikut menanggung dosanya.
Allah berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ
يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Sesungguhnya
orang-orang yang suka menyebarkan perbuatan keji di kalangan orang-orang
beriman, mereka akan mendapatkan azab yang pedih di dunia dan akhirat.” (QS. An-Nur: 19)
Bahkan
Rasulullah ﷺ memperingatkan dampaknya bagi seluruh masyarakat,
لَمْ تَظْهَرِ
الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ
وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا
“Tidaklah
merajalela perbuatan keji pada suatu kaum hingga mereka mengumumkannya, kecuali
akan menyebar di antara mereka wabah penyakit dan penyakit-penyakit yang tidak
pernah ada pada generasi sebelumnya.” (HR. Ibnu Majah no.
4259, disahihkan oleh Al-Albani)
Mujaharah bukan hanya persoalan pribadi. Ia
adalah persoalan sosial yang menghancurkan masyarakat.
Ketiga, mujaharah menunjukkan
hilangnya rasa malu
Rasulullah
ﷺ bersabda,
إِنَّ مِمَّا
أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ
مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya
di antara yang dikenal manusia dari kalimat kenabian yang pertama adalah: Jika
kamu tidak malu, lakukanlah apa yang kamu mau.” (HR. Bukhari no. 3484)
Orang
yang mujahir telah kehilangan rasa malunya. Padahal, rasa malu
adalah bagian dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda,
الْحَيَاءُ
شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
“Rasa
malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35)
Ketika
rasa malu hilang, maka iman pun telah rapuh. Dan inilah yang terjadi pada
para mujahir.
Keempat, mujaharah melipatgandakan
dosa pelakunya
Orang
yang berterang-terangan dalam kemaksiatan dosanya jauh lebih besar dibandingkan
dengan orang yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Karena dia tidak hanya
menanggung dosa perbuatannya sendiri, tetapi juga menanggung dosa setiap orang
yang ikut terpengaruh olehnya. Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ سَنَّ
فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا
بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
“Barangsiapa
yang membuat kebiasaan buruk dalam Islam, maka dia menanggung dosanya dan dosa
orang-orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa mengurangi dosa mereka
sedikitpun.” (HR.
Muslim no. 1017)
Bayangkan
seorang mujahir yang memamerkan dosanya di media sosial kepada
ribuan bahkan jutaan orang. Setiap orang yang ikut terdorong melakukan hal yang
sama karena terpengaruh olehnya, dosanya ikut ditanggung oleh sang mujahir. Inilah
beban yang sesungguhnya mengerikan.
Saudara-saudaraku
seiman, kita hidup di zaman yang menjadikan mujaharah begitu
mudah dilakukan. Media sosial membuat seseorang bisa memamerkan dosanya kepada
jutaan orang hanya dalam hitungan detik. Yang dahulu hanya bisa dilihat puluhan
orang, kini bisa disaksikan jutaan. Ini menjadikan tanggung jawab dosa mujaharah di
zaman sekarang jauh lebih besar dan lebih berat. Allah berfirman,
وَلَا تَعَاوَنُوا
عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan
janganlah kalian saling membantu dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Mereka
yang memberikan platform, menyukai, membagikan konten maksiat, turut menjadi
bagian dari dosa itu.
Jemaah
yang mulia, lalu apa yang harus kita lakukan?
Pertama,
jika kita melakukan kesalahan, tutuplah. Jangan ceritakan kepada siapapun. Umar bin
Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada seseorang yang
datang mengakui dosanya kepada Nabi ﷺ,
لَقَدْ
سَتَرَكَ اللَّهُ، لَوْ سَتَرْتَ عَلَى نَفْسِكَ
“Sungguh
Allah telah menutupimu, seandainya engkau menutupi dirimu sendiri.” (HR. Muslim no. 1692)
Kedua,
jauhi lingkungan dan tontonan yang mendorong dan menormalkan kemaksiatan. Jagalah diri dan keluarga dari
pengaruh buruk mujaharah di media sosial.
Ketiga,
bagi yang telah terjerumus, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Pintu tobat masih terbuka selama
nyawa masih di kandung badan. Allah berfirman,
قُلْ يَا
عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah,
‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri!
Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'” (QS. Az-Zumar: 53)
Rasulullah
ﷺ bersabda,
إِنَّ اللَّهَ
عَزَّ وَجَلَّ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
“Sesungguhnya
Allah menerima tobat seorang hamba selama belum sampai pada sakaratul maut.” (HR. At-Tirmidzi no.
3537 dan Ibnu Majah no. 4253, disahihkan Al-Albani)
Segeralah
bertobat. Kembalilah kepada Allah. Sebelum terlambat.
أَقُولُ
مَا سَمِعْتُمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ
كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ؛ فَاسْتَغْفِرُوهُ، وَتُوبُوا إِلَيْهِ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ
الرَّحِيمُ
Khotbah kedua
الْحَمْدُ
لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
قَالَ اللَّهُ
تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ
الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ،
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
وَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ،
وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ
بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ،
وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ
إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ بِالْمَعَاصِي، وَنَعُوذُ بِكَ أَنْ نَكْشِفَ
سِتْرَكَ عَلَيْنَا
اللَّهُمَّ
اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَحْيِي مِنْكَ حَقَّ الْحَيَاءِ، وَيَخَافُكَ حَقَّ الْخَوْفِ
اللَّهُمَّ
طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَزَيِّنْهَا بِالتَّقْوَىٰ وَالْإِيمَانِ
اللَّهُمَّ
ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ دِينِكَ، وَلَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
اللَّهُمَّ
آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً
عَلَىٰ رَعَايَاهُمْ
اللَّهُمَّ
احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ
اللَّهُمَّ
أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ
اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ،
وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا
اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ
اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
أَقِيمُوا
الصَّلَاةَ
Penulis: Muhammad Insan Fathin
Artikel Muslim.or.id
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel Muslim.or.id
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar