NAFSU, KEKAYAAN, DAN KEHANCURAN MORAL MANUSIA
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Rabu 20 Rabi'ul-Awal 1448 H /2 September 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Akhir-akhir
ini, kita dikejutkan oleh terbongkarnya sebuah dokumen yang dikenal
sebagai “Epstein files”. Dokumen itu memperlihatkan sisi gelap
manusia ketika kekayaan, kekuasaan, dan akses terhadap kesenangan dunia
berkumpul dalam satu tangan.
Terlepas
dari benar valid atau tidaknya berita tersebut, kita benar-benar mendapatkan
sebuah hikmah penting, bahwa orang-orang yang secara materi tidak kekurangan
apa pun, mereka justru terjerumus dalam perilaku yang melampaui batas
kemanusiaan dan moral. Peristiwa ini merupakan cermin tentang tabiat manusia
ketika nafsu tidak lagi dikendalikan oleh iman.
Ironisnya,
fenomena tersebut membuktikan bahwa kekayaan tidak selalu menghadirkan
kebahagiaan. Bahkan, dalam banyak kasus, keberlimpahan justru membuka pintu
bagi kerusakan yang lebih besar. Apa yang dulu dianggap mustahil atau
menjijikkan, bisa berubah menjadi sesuatu yang dicari ketika hati kehilangan
iman dan hidayah. Inilah realitas yang sejak lebih dari empat belas abad lalu
telah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ.
Sifat
dasar manusia adalah tidak pernah merasa puas ketika hidup dikendalikan oleh
hawa nafsu. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda,
لَوْ أَنَّ
لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ
يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya
seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah
lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain
tanah (yaitu setelah mati). Dan Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.”
(Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no.
6439 dan Muslim no.
1048)
Oleh
karenanya, kita mesti menyadari bahwa kita sangat membutuhkan petunjuk,
hidayah, dan pertolongan Allah Ta’ala agar tidak terjerumus
pada jurang kehinaan karena tak mampu mengendalikan hawa nafsu.
Nafsu
tidak mengenal batas
Hawa
nafsu memiliki kecenderungan untuk membawa manusia menjauh dari kebenaran.
Nafsu tidak memiliki titik berhenti. Ia selalu menuntut lebih, lebih, dan
lebih. Ketika satu keinginan terpenuhi, keinginan berikutnya segera muncul.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَتَّبِعِ
ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ
“Dan
janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan
Allah.” (QS. Shad: 26)
Dalam
kehidupan sehari-hari, hal ini tampak jelas. Seseorang yang telah memiliki
pasangan bisa tergoda mencari yang lain. Ketika perselingkuhan menjadi
kebiasaan, standar moral mulai bergeser. Apa yang dahulu dianggap dosa besar,
perlahan menjadi terasa biasa. Inilah cara nafsu bekerja: mengikis rasa
takut kepada Allah sedikit demi sedikit.
Ketahuilah
bahwa mengikuti syahwat terasa mudah dan menyenangkan, tetapi ujungnya adalah
kebinasaan. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,
حُفَّتِ
الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga
itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi
perkara-perkara yang disukai syahwat.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu
‘anhu)
Kekayaan
tidak menjamin ketenteraman
Saudaraku,
ketenangan tidak berasal dari kekayaan atau kenikmatan dunia. Harta hanya alat,
bukan sumber kebahagiaan. Jika hati kosong dari iman, sebanyak apa pun
kenikmatan dunia pasti tidak akan terasa cukup.
Allah Ta’ala berfirman,
أَلَا بِذِكْرِ
ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“Ketahuilah,
hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Sejarah
manusia berulang kali menunjukkan pola yang sama. Orang yang memiliki kekuasaan
dan harta melimpah seringkali justru jatuh dalam kerusakan moral yang dalam dan
bahkan sangat mengerikan. Ini bukan karena kekayaan itu buruk, tetapi karena
hati yang tidak terisi iman akan mencari kepuasan di tempat yang salah.
Rasulullah
ﷺ bersabda,
لَيْسَ
الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kaya
bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun. kaya (ghina’) adalah
hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)
Inilah
konsep qana’ah dalam
Islam, yaitu rasa cukup yang lahir dari iman, bukan dari jumlah harta. Maka
kita butuh ilmu agar mampu mengendalikan diri untuk kemudian menjadi qana’ah atas
pemberian dan anugerah dari Allah Ta’ala dengan tanpa
mengesampingkan ikhtiar. Sebab dengan ilmu agama -merutinkan diri menghadiri
kajian Islam guna menambah ilmu tentang agama mulia ini- kita menjadi hamba
Allah Ta’ala yang tidak mudah terpedaya oleh hawa nafsu dan
godaan setan. Insyaa Allah.
Normalisasi
dosa dan kerusakan hati
Dosa
yang dilakukan berulang kali akan mengeraskan hati. Ketika hati mengeras,
sensitivitas terhadap kebenaran berkurang. Perbuatan yang dahulu terasa salah
bisa berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Rasulullah ﷺ bersabda,
“Jika
seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda
hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat, niscaya
noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda
itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup
yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu
mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).”
(HR. Tirmidzi dari Abu
Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan
shahih oleh Tirmidzi)
Proses
ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia dimulai dari dosa kecil yang diremehkan,
kemudian menjadi kebiasaan, lalu berkembang menjadi perilaku yang lebih besar.
Setan menghiasinya sehingga tampak wajar karena dosa telah menutupi hatinya. Ia
pun sulit menerima nasihat.
Allah Ta’ala berfirman,
كَلَّا
ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali
tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)
Mengendalikan
nafsu adalah jalan keselamatan
Islam
tidak mengajarkan untuk mematikan keinginan manusia, tetapi mengendalikannya.
Nafsu harus dipimpin oleh iman, bukan sebaliknya. Tanpa kendali, nafsu akan
menyeret manusia ke dalam kehinaan.
Allah
berfirman,
وَأَمَّا
مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ
فَإِنَّ
ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ
“Adapun
orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa
nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)
Salah
satu cara melatih pengendalian diri adalah ibadah. Puasa, salat, dan sedekah
bukan hanya ritual, tetapi sarana pendidikan jiwa. Ibadah melatih manusia
mengatakan “tidak” kepada keinginan yang tidak diridai Allah.
Kekuatan
sejati adalah kemampuan mengendalikan diri dari setiap celah godaan setan dan
hawa nafsu yang selalu mendorong kita kepada perbuatan yang melanggar syariat
Allah Ta’ala. Maka, orang yang mampu mengendalikan diri
tersebut, itulah orang yang kuat dalam pandangan Islam. Rasulullah ﷺ bersabda,
لَيْسَ
الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ
الْغَضَبِ
“Orang
yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang
yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim
no. 2609 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Saudaraku,
kisah manusia yang tenggelam dalam syahwat meski memiliki segalanya
mengingatkan kita bahwa masalah terbesar manusia bukanlah kemiskinan, tetapi
hati yang kosong dari iman. Nafsu yang tidak dikendalikan akan terus menuntut
hingga menyeret manusia pada kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat.
Oleh
karena itu, pelajaran terpenting dari hadis tentang “lembah emas” adalah bahwa
kebahagiaan tidak terletak pada memiliki materi lebih banyak, tetapi pada hati
yang merasa cukup dan takut kepada Allah Ta’ala. Ketika iman
menjadi pusat hidup, keinginan dunia akan berada pada tempatnya, dan manusia
akan menemukan ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh kekayaan apa pun.
Wallahu'alam Bishshowab
***
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel Muslim.or.id
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel Muslim.or.id
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar