Menu

Sabtu, 24 Oktober 2026

BAGIAN KESATU

CARA MENGIMANI WUJUD ALLAH TA’ALA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Saudaraku....!

Hari ini  Ahad 14  Jumadil-Ula 1448 H /25 Oktober 2026

Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.

Saudaraku...!

Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.

Hadirin yang dirahmati Allah.... 

“Iman kepada Allah mengandung empat unsur wajib, yaitu: 1) iman terhadap adanya Allah, 2) iman kepada rububiyah Allah, 3) iman kepada uluhiyah Allah, dan 4) iman bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna.” (Husulul Ma’mul Fii Syarhi Tsalatsatil Usul, hlm. 142)

Oleh karena itu, jika seseorang mengaku beriman kepada Allah, haruslah terpenuhi dalam keyakinannya tentang empat hal di atas. Jika hilang salah satunya atau tidak terpenuhi, maka iman kepada Allah tidak sah.

Seluruh manusia telah bersepakat, kecuali yang menyimpang, bahwasanya mengetahui adanya wujud Allah tidak dapat dicapai dengan cara melihat wujud-Nya tatkala kita di dunia. Hal ini berdasarkan firman Allah,

وَلَمَّا جَاۤءَ مُوسَىٰ لِمِیقَـٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِیۤ أَنظُرۡ إِلَیۡكَۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِی وَلَـٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِیۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكࣰّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقࣰاۚ فَلَمَّاۤ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَـٰنَكَ تُبۡتُ إِلَیۡكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ

“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.’ (Allah) berfirman, ‘Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.’ Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, ‘Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.’” (QS. Al-A’raf: 143)

Selain dari ayat di atas, juga terdapat hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda,

تَعَلَّمُوا أنَّهُ لَنْ يَرَى أحَدُ مِنْكُمْ رَبَّهُ حَتَّى يَمُوْتَ

“Ketahuilah oleh kalian, bahwasanya salah seorang di antara kalian tidak akan dapat melihat Tuhannya sampai kalian meninggal (mati).” (HR. Muslim no. 169)

Hadis di atas menceritakan bahwa mustahil bagi seorang hamba ketika masih hidup di dunia untuk melihat Allah Ta’ala. Oleh karena itu, cara (metode) untuk mengimani adanya (wujud) Allah bagi seorang hamba adalah melalui beberapa metode berikut ini.

Pertama: Mengetahui wujud Allah dengan cara sam’iyyat

Yaitu bergantung dengan adanya kabar dari wahyu. Kabar dari wahyu ini diperoleh melalui dakwah para nabi dan rasul. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Ta’ala,

وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)

Pendapat pertama ini adalah jalan ahlussunnah waljamaah dalam menetapkan eksistensi wujud Tuhan. Akan tetapi, perlu digaris bawahi bahwa maksud mereka dalam hal ini hanyalah dalam aspek perincian. Mereka tidak memaksudkan pembatasan sahnya iman terhadap wujud Allah hanya berdasarkan dalil wahyu semata. Akan tetapi, mereka juga menetapkan bahwa ada dalil telaah akal yang telah menjadi fitrah bagi manusia, yaitu sengan cara tafakkur terkait penciptaan Allah. Dalil telaah akal/ logika ini menegaskan bahwa penciptaan dan pengaturan alam semesta yang begitu sempurna menunjukkan bahwa ada Tuhan yang Mahakuasa atas semua yang terjadi dan tercipta di alam semesta.

Kedua: Mengetahui wujud Allah dengan dalil ilham

Dalil ilham ini akan dilakukan ketika seorang itu telah menjadi mukallaf (balig dan berakal). Dia harus mencari ilham pengetahuan tentang wujud Allah, bukan menggunakan dalil wahyu maupun dalil telaah akal (logika). Pendapat ini dipegang oleh kebanyakan dari kalangan sufi dan syi’ah. Cara untuk mendapatkan ilham pengetahuan yang sempurna, tingkat keyakinan bahwa Allah itu ada adalah dengan berpaling dari kesibukan-kesibukan dunia dan sangat perhatian terhadap zikir, riyadhah (dengan taat syariat dan perbaikan akhlak), penyucian hati, dan khalwat (menyendiri untuk fokus sibuk beribadah) sampai nanti turun ilham tersebut.

Ketiga: Mengetahui wujud Allah dengan melalui metode telaah akal (logika)

Dalil telaah akal ini terbagi menjadi dua, a) telaah akal versi ahlussunnah waljamaah; dan b) telaah akal versi para ulama kalam.

Telaah akal versi ahlussunnah waljamaah

Adapun telaah akal versi ahlussunnah dapat kita namai dengan telaah akal yang syar’i karena berdasarkan bukti-bukti logis mengenai wujud Allah, baik yang dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun hadis, maupun dengan cara tafakkur dan tadabbur pikiran terkait ayat-ayat Allah kauniyah (penciptaan makhluk). Salah satu contoh dalil telaah akal ini dalam Al-Qur’an adalah firman Allah,

ٱلَّذِینَ یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِیَـٰمࣰا وَقُعُودࣰا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَیَتَفَكَّرُونَ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلࣰا سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 191)

Dalam ayat lain, Allah juga memerintahkan untuk memikirkan dan merenungi ayat-ayat kauniyyah Allah yang besar dari kerajaan alam semestanya,

أَوَلَمۡ یَنظُرُوا۟ فِی مَلَكُوتِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَیۡءࣲ وَأَنۡ عَسَىٰۤ أَن یَكُونَ قَدِ ٱقۡتَرَبَ أَجَلُهُمۡۖ فَبِأَیِّ حَدِیثِۭ بَعۡدَهُۥ یُؤۡمِنُونَ

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya waktu (kebinasaan) mereka? Lalu berita mana lagi setelah ini yang akan mereka percayai?” (QS. Al-A’raf: 185)

Dalil telaah akal (logika) yang syar’i menurut ahlussunnah ini dapat berupa beberapa dalil-dalil turunan yang banyak, di antaranya:

Pertama: Dalil penciptaaan

Dalil penciptaan ini berdasarkan bukti terciptanya makhluk setelah sebelumnya tidak ada dan merupakan bukti yang pasti adanya Yang Mahapencipta. Hal ini karena kaidah logika bahwa sesuatu yang dicipta itu pasti ada yang mencipta. Atau, keberadaan dan lenggengnya sesuatu yang dicipta itu bergantung kepada yang menciptakannya. Hal ini selaras dengan yang Allah Ta’ala firmankan agar orang-orang musyrik berpikir terkait penciptaan mereka,

أَمۡ خُلِقُوا۟ مِنۡ غَیۡرِ شَیۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَـٰلِقُونَ

“Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Ath-Thur: 35)

Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-nya terkait ayat di atas,

وهذا استدلال عليهم، بأمر لا يمكنهم فيه إلا التسليم للحق، أو الخروج عن موجب العقل والدين، وبيان ذلك: أنهم منكرون لتوحيد الله، مكذبون لرسوله، وذلك مستلزم لإنكار أن الله خلقهم.

وقد تقرر في العقل مع الشرع، أن الأمر لا يخلو من أحد ثلاثة أمور:

إما أنهم خلقوا من غير شيء أي: لا خالق خلقهم، بل وجدوا من غير إيجاد ولا موجد، وهذا عين المحال.

أم هم الخالقون لأنفسهم، وهذا أيضا محال، فإنه لا يتصور أن يوجدوا أنفسهم

فإذا بطل [هذان] الأمران، وبان استحالتهما، تعين [القسم الثالث] أن الله الذي خلقهم، وإذا تعين ذلك، علم أن الله تعالى هو المعبود وحده، الذي لا تنبغي العبادة ولا تصلح إلا له تعالى.

“Ayat tersebut adalah bukti (hujjah) atas mereka yang tidak ada yang bisa dilakukan oleh mereka kecuali hanya dengan menerima kebenaran ayat ini atau mereka memilih untuk keluar dari konsekuensi aksiomatis akal dan agama (bahwa mereka itu tercipta, bukan mencipta). Penjelasannya sebagai berikut,

Ketika mereka (orang-orang musyrik) mengingkari ketauhidan Allah dan mendustakan rasul Allah, maka hal ini berkonsekuensi bahwasanya mereka mengingkari bahwa Allah telah menciptakan mereka (karena yang mencipta itulah yang berhak disembah).

Telah terpatri dalam aksiomatis logika akal dan agama bahwasanya hakikat penciptaan makhluk itu tidak terlepas dari tiga kemungkinan:

Pertama: Mereka (makhluk) tercipta tanpa ada yang mencipta sama sekali, maka tidak ada sang Pencipta yang menciptakan mereka (makhluk). Bahkan, mereka tercipta tanpa ada peristiwa penciptaan dan pelaku yang menciptakan mereka. Gambaran kemungkinan pertama ini nyata kemustahilannya.

Kedua: Merekalah yang menciptakan diri mereka sendiri. Gambaran kedua ini juga mustahil karena tidak mungkin dapat dibayangkan bahwa mereka sendirilah yang menciptakan diri mereka sendiri.

Jika dua kemungkinan gambaran di atas adalah batil (tertolak) dan telah jelas kemustahilannya, maka tersisalah  kemungkinan ketiga yaitu,

Ketiga: Allahlah yang menciptakan mereka (para makhluk). Jika telah terbukti pilihan terakhir ini, maka berkonsekuensi tidak boleh tidak bahwa sesembahan yang benar (haq) adalah Allah semata yang seluruh ibadah tidak diperkenankan diserahkan dan tidak sah, kecuali hanya untuk Allah Ta’ala semata.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 781)

Wallahu'alam Bishshowab

Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.

Bersambung ke Bagian Kedua.........

Barakallah ..... semoga bermanfaat

-----------------NB----------------

Saudaraku...!

Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :

Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.

Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa  Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.

Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit &  kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.

Yaa Allah... Yaa Robbana...! Ijabahkanlah Do'a-do'a kami, Tiada daya dan upaya kecuali dengan Pertolongan-MU, karena hanya kepada-MU lah tempat Kami bergantung dan tempat Kami memohon Pertolongan.

ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم

آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين

وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ

🙏🙏


Penulis: Sakti Putra Mahardika
Artikel: www.muslim.or.id

Editing: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar