بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Ahad 14 Jumadil-Ula 1448 H /25 Oktober 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
“Iman
kepada Allah mengandung empat unsur wajib, yaitu: 1) iman terhadap adanya
Allah, 2) iman kepada rububiyah Allah, 3) iman kepada uluhiyah
Allah, dan 4) iman bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang
sempurna.” (Husulul Ma’mul Fii Syarhi Tsalatsatil Usul, hlm. 142)
Oleh
karena itu, jika seseorang mengaku beriman kepada Allah, haruslah terpenuhi
dalam keyakinannya tentang empat hal di atas. Jika hilang salah satunya atau
tidak terpenuhi, maka iman kepada Allah tidak sah.
Seluruh
manusia telah bersepakat, kecuali yang menyimpang, bahwasanya mengetahui adanya
wujud Allah tidak dapat dicapai dengan cara melihat wujud-Nya tatkala kita di
dunia. Hal ini berdasarkan firman Allah,
وَلَمَّا
جَاۤءَ مُوسَىٰ لِمِیقَـٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِیۤ أَنظُرۡ
إِلَیۡكَۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِی وَلَـٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ
مَكَانَهُۥ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِیۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُۥ
دَكࣰّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقࣰاۚ فَلَمَّاۤ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَـٰنَكَ تُبۡتُ إِلَیۡكَ
وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ
“Dan
ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan
Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku,
tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.’ (Allah)
berfirman, ‘Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung
itu. Jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala), niscaya engkau dapat
melihat-Ku.’ Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung
itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar,
dia berkata, ‘Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang
yang pertama-tama beriman.’” (QS. Al-A’raf: 143)
Selain
dari ayat di atas, juga terdapat hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam yang bersabda,
تَعَلَّمُوا أنَّهُ لَنْ
يَرَى أحَدُ مِنْكُمْ رَبَّهُ حَتَّى يَمُوْتَ
“Ketahuilah
oleh kalian, bahwasanya salah seorang di antara kalian tidak akan dapat melihat
Tuhannya sampai kalian meninggal (mati).” (HR. Muslim no. 169)
Hadis di atas menceritakan bahwa mustahil bagi seorang hamba ketika masih hidup di dunia untuk melihat Allah Ta’ala. Oleh karena itu, cara (metode) untuk mengimani adanya (wujud) Allah bagi seorang hamba adalah melalui beberapa metode berikut ini.
Pertama:
Mengetahui wujud Allah dengan cara sam’iyyat
Yaitu
bergantung dengan adanya kabar dari wahyu. Kabar dari wahyu ini diperoleh
melalui dakwah para nabi dan rasul. Sebagaimana yang terdapat dalam firman
Allah Ta’ala,
وَمَاۤ
أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ
إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ
“Kami
tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami
mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.”
(QS. Al-Anbiya’: 25)
Pendapat pertama ini adalah jalan ahlussunnah waljamaah dalam menetapkan eksistensi wujud Tuhan. Akan tetapi, perlu digaris bawahi bahwa maksud mereka dalam hal ini hanyalah dalam aspek perincian. Mereka tidak memaksudkan pembatasan sahnya iman terhadap wujud Allah hanya berdasarkan dalil wahyu semata. Akan tetapi, mereka juga menetapkan bahwa ada dalil telaah akal yang telah menjadi fitrah bagi manusia, yaitu sengan cara tafakkur terkait penciptaan Allah. Dalil telaah akal/ logika ini menegaskan bahwa penciptaan dan pengaturan alam semesta yang begitu sempurna menunjukkan bahwa ada Tuhan yang Mahakuasa atas semua yang terjadi dan tercipta di alam semesta.
Kedua:
Mengetahui wujud Allah dengan dalil ilham
Dalil
ilham ini akan dilakukan ketika seorang itu telah menjadi mukallaf
(balig dan berakal). Dia harus mencari ilham pengetahuan tentang wujud Allah,
bukan menggunakan dalil wahyu maupun dalil telaah akal (logika). Pendapat ini
dipegang oleh kebanyakan dari kalangan sufi dan syi’ah. Cara untuk mendapatkan
ilham pengetahuan yang sempurna, tingkat keyakinan bahwa Allah itu ada adalah
dengan berpaling dari kesibukan-kesibukan dunia dan sangat perhatian terhadap
zikir, riyadhah (dengan taat syariat dan perbaikan akhlak), penyucian
hati, dan khalwat (menyendiri untuk fokus sibuk beribadah) sampai nanti
turun ilham tersebut.
Ketiga:
Mengetahui wujud Allah dengan melalui metode telaah akal (logika)
Dalil
telaah akal ini terbagi menjadi dua, a) telaah akal versi ahlussunnah
waljamaah; dan b) telaah akal versi para ulama kalam.
Telaah
akal versi ahlussunnah waljamaah
Adapun
telaah akal versi ahlussunnah dapat kita namai dengan telaah akal yang syar’i
karena berdasarkan bukti-bukti logis mengenai wujud Allah, baik yang dijelaskan
dalam Al-Qur’an maupun hadis, maupun dengan cara tafakkur dan tadabbur
pikiran terkait ayat-ayat Allah kauniyah (penciptaan makhluk). Salah
satu contoh dalil telaah akal ini dalam Al-Qur’an adalah firman Allah,
ٱلَّذِینَ
یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِیَـٰمࣰا وَقُعُودࣰا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَیَتَفَكَّرُونَ فِی
خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ
رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلࣰا سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
“(Yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan
berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia,
Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 191)
Dalam
ayat lain, Allah juga memerintahkan untuk memikirkan dan merenungi ayat-ayat kauniyyah
Allah yang besar dari kerajaan alam semestanya,
أَوَلَمۡ
یَنظُرُوا۟ فِی مَلَكُوتِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَیۡءࣲ
وَأَنۡ عَسَىٰۤ أَن یَكُونَ قَدِ ٱقۡتَرَبَ أَجَلُهُمۡۖ فَبِأَیِّ حَدِیثِۭ بَعۡدَهُۥ یُؤۡمِنُونَ
“Dan
apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang
diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya waktu (kebinasaan) mereka?
Lalu berita mana lagi setelah ini yang akan mereka percayai?” (QS.
Al-A’raf: 185)
Dalil
telaah akal (logika) yang syar’i menurut ahlussunnah ini dapat
berupa beberapa dalil-dalil turunan yang banyak, di antaranya:
Pertama:
Dalil penciptaaan
Dalil
penciptaan ini berdasarkan bukti terciptanya makhluk setelah sebelumnya tidak
ada dan merupakan bukti yang pasti adanya Yang Mahapencipta. Hal ini karena
kaidah logika bahwa sesuatu yang dicipta itu pasti ada yang mencipta. Atau,
keberadaan dan lenggengnya sesuatu yang dicipta itu bergantung kepada yang
menciptakannya. Hal ini selaras dengan yang Allah Ta’ala firmankan agar
orang-orang musyrik berpikir terkait penciptaan mereka,
أَمۡ خُلِقُوا۟
مِنۡ غَیۡرِ شَیۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَـٰلِقُونَ
“Atau
apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri
mereka sendiri)?” (QS. Ath-Thur: 35)
Syekh
Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-nya
terkait ayat di atas,
وهذا استدلال
عليهم، بأمر لا يمكنهم فيه إلا التسليم للحق، أو الخروج عن موجب العقل والدين، وبيان
ذلك: أنهم منكرون لتوحيد الله، مكذبون لرسوله، وذلك مستلزم لإنكار أن الله خلقهم.
وقد تقرر
في العقل مع الشرع، أن الأمر لا يخلو من أحد ثلاثة أمور:
إما أنهم
خلقوا من غير شيء أي: لا خالق خلقهم، بل وجدوا من غير إيجاد ولا موجد، وهذا عين المحال.
أم هم الخالقون
لأنفسهم، وهذا أيضا محال، فإنه لا يتصور أن يوجدوا أنفسهم
فإذا بطل
[هذان] الأمران، وبان استحالتهما، تعين [القسم الثالث] أن الله الذي خلقهم، وإذا تعين
ذلك، علم أن الله تعالى هو المعبود وحده، الذي لا تنبغي العبادة ولا تصلح إلا له تعالى.
“Ayat
tersebut adalah bukti (hujjah) atas mereka yang tidak ada yang bisa dilakukan
oleh mereka kecuali hanya dengan menerima kebenaran ayat ini atau mereka
memilih untuk keluar dari konsekuensi aksiomatis akal dan agama (bahwa mereka
itu tercipta, bukan mencipta). Penjelasannya sebagai berikut,
Ketika
mereka (orang-orang musyrik) mengingkari ketauhidan Allah dan mendustakan rasul
Allah, maka hal ini berkonsekuensi bahwasanya mereka mengingkari bahwa Allah
telah menciptakan mereka (karena yang mencipta itulah yang berhak disembah).
Telah
terpatri dalam aksiomatis logika akal dan agama bahwasanya hakikat penciptaan
makhluk itu tidak terlepas dari tiga kemungkinan:
Pertama:
Mereka (makhluk) tercipta tanpa ada yang mencipta sama sekali, maka tidak ada
sang Pencipta yang menciptakan mereka (makhluk). Bahkan, mereka tercipta tanpa
ada peristiwa penciptaan dan pelaku yang menciptakan mereka. Gambaran
kemungkinan pertama ini nyata kemustahilannya.
Kedua:
Merekalah yang menciptakan diri mereka sendiri. Gambaran kedua ini juga
mustahil karena tidak mungkin dapat dibayangkan bahwa mereka sendirilah yang
menciptakan diri mereka sendiri.
Jika
dua kemungkinan gambaran di atas adalah batil (tertolak) dan telah jelas
kemustahilannya, maka tersisalah kemungkinan ketiga yaitu,
Ketiga:
Allahlah yang menciptakan mereka (para makhluk). Jika telah terbukti pilihan
terakhir ini, maka berkonsekuensi tidak boleh tidak bahwa sesembahan yang benar
(haq) adalah Allah semata yang seluruh ibadah tidak diperkenankan diserahkan
dan tidak sah, kecuali hanya untuk Allah Ta’ala semata.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman,
hlm. 781)
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Bersambung ke Bagian Kedua.........
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Penulis:
Sakti Putra Mahardika
Artikel:
www.muslim.or.id
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar