IMAN KEPADA KITAB ALLAH:
KETIKA WAHYU MENJADI PENENTU ARAH

بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Kamis 11 Jumadil-Ula 1448 H /22 Oktober 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Di
tengah derasnya opini, iman kepada kitab-kitab Allah memberi seorang mukmin
ukuran yang kokoh. Allah tidak membiarkan manusia berjalan hanya dengan akal,
pengalaman, dan selera yang terbatas. Dia menurunkan wahyu sebagai petunjuk,
rahmat, dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan.
Beriman
kepada kitab berarti menerima petunjuk Allah
Iman
kepada kitab-kitab Allah mencakup beberapa perkara. Kita meyakini bahwa
kitab-kitab tersebut benar-benar diturunkan oleh Allah. Kita mengimani kitab
yang diketahui namanya, seperti Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an, serta
mengimani kitab lain yang tidak diketahui namanya secara umum. Kita membenarkan
berita yang sahih darinya. Kita juga menerima hukum yang berlaku bagi kita
dengan rida dan tunduk.
Terhadap
kitab-kitab terdahulu yang beredar sekarang, ukuran kebenarannya adalah wahyu
yang terjaga. Al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang membenarkan pokok
kebenaran kitab-kitab sebelumnya sekaligus menjadi hakim atasnya. Allah Ta’ala
berfirman,
وَأَنْزَلْنَا
إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ
وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ
“Dan
Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa
kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan
menjaganya.” (QS.
Al-Ma’idah: 48)
Karena
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul terakhir bagi
seluruh manusia, Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia hingga hari kiamat.
Kitab-kitab sebelumnya diturunkan kepada umat tertentu sesuai dengan keadaan
mereka; sedangkan Al-Qur’an datang dengan syariat yang sempurna dan sesuai bagi
seluruh zaman dan tempat.
Al-Qur’an
bukan sekadar simbol kesalehan
Mushaf
dapat diletakkan di tempat yang tinggi, bacaan juga dapat dilantunkan dengan
indah. Semua bentuk penghormatan itu baik apabila dilakukan dengan benar.
Namun, tujuan diturunkannya Al-Qur’an tidak berhenti pada penghormatan
lahiriah. Allah menyebutnya sebagai petunjuk,
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ
ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab
(Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertakwa.” (QS.
Al-Baqarah: 2)
Petunjuk
berfungsi ketika diikuti. Oleh karena itu, hubungan yang benar dengan Al-Qur’an
mencakup membaca, memahami, membenarkan, dan mengamalkan. Seseorang belum
mengambil petunjuk secara utuh apabila ia hanya membaca ayat yang menenangkan,
tetapi menolak ayat yang mengoreksi kebiasaan, transaksi, pergaulan, atau
keinginannya.
Iman
kepada kitab Allah juga meluruskan cara kita mencari jawaban. Seorang mukmin
tidak memotong dalil untuk memenangkan pilihan yang telah ditetapkan sejak
awal. Ia berusaha memahami petunjuk secara utuh, merujuk kepada penjelasan
ulama yang terpercaya, dan bersedia mengubah sikap ketika mengetahui bahwa
keinginannya tidak sejalan dengan wahyu.
Sikap
tunduk tidak berarti tergesa-gesa menyimpulkan hukum hanya dari terjemahan satu
ayat. Al-Qur’an dijelaskan oleh As-Sunah, ayat-ayatnya saling menerangkan, dan
para ulama membantu memahami bahasa, konteks, serta cara menggabungkan dalil.
Kesungguhan mengikuti wahyu juga tampak pada kerendahan hati untuk belajar.
Seseorang tidak menjadikan keterbatasan pemahamannya sebagai alasan menolak
petunjuk, tetapi juga tidak mengatasnamakan Al-Qur’an untuk pendapat yang belum
ia pahami dengan benar.
Wahyu
tidak meniadakan ilmu dan keahlian
Menjadikan
wahyu sebagai penentu arah bukan berarti mengabaikan pengetahuan manusia. Dalam
urusan teknis, kita tetap membutuhkan dokter, insinyur, pendidik, ahli
keuangan, dan orang-orang yang memahami bidangnya. Pengalaman dan penelitian
dapat membantu memilih cara yang paling efektif. Namun, wahyu menetapkan batas
halal dan haram, tujuan hidup, serta nilai yang tidak boleh ditukar hanya
karena sebuah cara dianggap lebih cepat atau lebih populer.
Akal
adalah nikmat besar, tetapi kemampuannya terbatas. Manusia dapat mengetahui
sebagian manfaat dan bahaya, sedangkan pengetahuannya tentang akibat jangka
panjang, keadaan hati, dan kehidupan setelah kematian sangat terbatas.
Diturunkannya kitab-kitab Allah menunjukkan rahmat-Nya: manusia tidak
dibiarkan menebak sendiri jalan keselamatan.
Rahmat
tersebut juga terlihat dari kesesuaian syariat dengan umat yang menerimanya.
Pokok agama para rasul sama, yaitu tauhid; sedangkan sebagian rincian syariat
dapat berbeda sesuai hikmah Allah. Al-Qur’an sebagai kitab terakhir membawa
petunjuk yang berlaku hingga hari kiamat. Perubahan zaman tidak menjadikan
manusia bebas mengganti ukuran kebenaran, tetapi mendorong mereka untuk
mempelajari bagaimana petunjuk yang tetap diterapkan secara benar pada keadaan
yang berubah.
Seorang
mukmin tidak gelisah hanya karena ajaran wahyu tidak selalu mengikuti arus.
Tren berubah, istilah berganti, dan pendapat yang dipuji hari ini dapat
ditinggalkan besok. Wahyu memberi titik pijak yang tidak bergerak bersama
tekanan sosial. Dari titik itulah manusia menilai perkembangan, mengambil
manfaatnya, dan menolak bagian yang menyelisihi petunjuk Allah.
Berhenti
mencari pembenaran
Di
hadapan wahyu, pertanyaan yang sehat bukan hanya, “Apakah ada pendapat yang
membolehkan keinginan saya?” Pertanyaan yang lebih jujur adalah, “Apa yang
Allah tunjukkan, dan bagaimana saya dapat tunduk kepada-Nya?” Terkadang
jawabannya sesuai dengan keinginan; terkadang ia menuntut kita meninggalkan
sesuatu yang dicintai. Justru pada saat itulah ketundukan diuji. Iman kepada
kitab Allah menjadikan wahyu bukan hanya sesuatu yang kita hormati, tetapi
petunjuk yang menentukan arah langkah kita.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel Muslim.or.id
Editing: Ndik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar