KEBAHAGIAAN MANA YANG INGIN ANDA RAIH?
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Jum'at 3 Dzulhijah 1446 H /30 Mei 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Khutbah Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ
لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ
فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
وَصَفِيُهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ بَلَّغَ الرِسَالَةَ وَأَدَّى
الأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُ
اليَقِيْنُ، وَمَا تَرَكَ خَيْراً إِلَّا دَلَّ الأُمَّةَ عَلَيْهِ وَلَا تَرَكَ شَرّاً
إِلَّا حَذَّرَ الْأُمَّةَ مِنْهُ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا
بَعْدُ:
مَعَاشِرَ
المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً
مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ. وَتَقْوَى اللهَ جَلَّ وَعَلَا:
عَمَلٌ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ رَجَاءَ ثَوَابَ اللهِ، وَتَرْكٌ لِمَعْصِيَةِ
اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ خِيْفَةَ عَذَابِ اللهِ.
Ibadallah,
Sebagian orang berkata, ‘Hidup itu yang penting happy’. Dari situ kemudian mereka berbuat semaunya. Mereka tidak peduli dengan segala macam aturan. Mereka ingin hidup bahagia, tapi melakukan perbuatan maksiat yang membahayakan dirinya di akhirat. Mereka tertipu dengan kebahagiaan sesaat yang mereka rasakan di dunia ini, sehingga mereka tetap berani dan tetap nekad melakukan perbuatan yang dilarang agama. Memang, hidup bahagia merupakan dambaan setiap makhluk. Namun banyak orang yang tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan akhirat.
Allah
‘Azza wa Jalla berfirman
وَمَا هَٰذِهِ
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ
الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan
tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main dan
sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka
mengetahui.” (QS. al-Ankabut: 64).
Ketika
menjelaskan maksud ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah
‘Azza wa Jalla berfirman (dalam rangka) memberitakan betapa dunia itu hina,
akan hancur dan akan sirna (pada saat yang telah ditentukan). Dan dunia ini
tidak kekal, dan sekedar mendatangkan kelalaian dan bersifat permainan. Dia
berfirman, “dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan”,
maksudnya (akhirat itu) adalah kehidupan yang kekal, yang haq, yang tidak akan
binasa dan tidak sirna. Kehidupan akhirat berlangsung terus-menerus
selama-lamanya. Firman-Nya (yang artinya,) “kalau mereka mengetahui”,
maksudnya, jika manusia tahu, maka sungguh mereka akan lebih mengutamakan
sesuatu yang bersifat baqa’ (kekal) daripada yang fana (akan binasa).”
Oleh
karena itu, agar tidak salah langkah, tujuan dan prioritas dalam mengejar
kebahagiaan yang kita inginkan, di sini akan khotib sampaikan beberapa hal
terkait kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Pertama:
Bahagia di dunia dan Akhita
Ibadallah,
Inilah
puncak kebahagiaan. Inilah yang selalu dimohon oleh hamba-hamba Allah ‘Azza wa
Jallayang shalih, sebagaimana tertuang dalam firman-Nya:
وَمِنْهُمْ
مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ ﴿٢٠١﴾ أُولَٰئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا ۚ وَاللَّهُ سَرِيعُ
الْحِسَابِ
“Dan
di antara mereka ada orang yang berdoa, “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di
dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Mereka
itulah orang-orang yang mendapat bagian dari (amal) yang mereka usahakan; dan
Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. al-Baqarah: 201-202).
Ini
juga merupakan doa dan permohonan Nabi Musa ‘alaihissallam dan kaumnya yang
shalih, sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla beritakan dalam kitab-Nya:
وَاكْتُبْ
لَنَا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ
(Mereka
juga berdoa), “Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di
akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada-Mu”. (QS. al-A’raf: 156).
Derajat
tertinggi ini akan diraih oleh orang-orang yang bertakwa dan berbuat ihsan,
sebagaimana kita ketahui bahwa ihsan adalah derajat agama yang tertinggi,
berdasarkan kandungan hadits Jibril ‘alaihissallam. Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:
وَقِيلَ
لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ ۚ قَالُوا خَيْرًا ۗ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا
فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۚ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ
الْمُتَّقِينَ
“Dan
dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh
Rabbmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang
berbuat ihsan (sebaik-baiknya) di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik.
Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik
tempat bagi orang yang bertakwa”. (QS. an-Nahl: 30).
Kedua:
Sengsara di dunia dan bahagia di akhirat.
Kaum
muslimin rahimani wa rahimakumullah,
Ada
lagi orang yang meraih kebahagiaan di akhirat, walaupun di dunia mendapatkan
berbagai macam musibah dan ujian, bahkan kesusahan dan kecelakaan. Jenis
manusia ini diberitakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam
hadits shahih:
عَنْ أَنَسِ
بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى
بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ
فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ
هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ
النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ
فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ
قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ
شِدَّةً قَطُّ
“Dari
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, ‘Pada hari Kiamat nanti akan didatangkan seorang penduduk
dunia yang paling banyak mendapatkan kenikmatan, namun dia termasuk penduduk
neraka. Lalu dia dimasukkan sebentar di dalam api neraka, kemudian dia ditanya,
“Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kebaikan? Pernahkah engkau mendapatkan
kenikmatan?” Maka dia menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabbku”.
“Selanjutnya,
akan didatangkan seorang yang paling sengsara di dunia, namun dia termasuk
penduduk surga. Lalu dia dimasukkan sebentar ke dalam surga, kemudian dia
ditanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kesengsaraan? Pernahkah
engkau menderita kesusahan?” Maka dia menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai
Rabbku. Aku tidak pernah mendapatkan kesengsaraan sama sekali, dan aku tidak
pernah melihat kesusahan sama sekali”. (HR. Muslim dan lainnya).
Ketiga:
Bahagia di dunia dan celaka di akhirat.
Ibadallah,
Hadits
shahih dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu di atas juga menjelaskan
adanya jenis manusia yang berbahagia –secara lahiriyah- di dunia, namun di
akhirat akan mengalami kesengsaraan yang sangat berat. Kita lihat bahwa
kebanyakan tokoh masyarakat yang berharta dan berpangkat adalah penentang
dakwah para rasul. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman
وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ ﴿٣٤﴾ وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿٣٥﴾قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan
Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun,
melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya
kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” Dan mereka
berkata, “Harta dan anak- anak kami lebih banyak (daripada kamu) dan kami
sekali-kali tidak akan diazab”.Katakanlah: “Sesungguhnya Rabbku melapangkan
rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang
dikehendaki-Nya). Akan tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui.” (QS. Saba’:
34-36).
Cobalah
perhatikan, orang kafir di bawah ini, bagaimana dia bergembira dan berbahagia
di dunia, namun di akhirat dia mendapatkan penderitaan yang tidak akan
tertahan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
وَأَمَّا
مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ ﴿١٠﴾ فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا ﴿١١﴾وَيَصْلَىٰ
سَعِيرًا ﴿١٢﴾ إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا ﴿١٣﴾ إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ
يَحُورَ
“Adapun
orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak:
“Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).
Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang
sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan
kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Rabbnya
selalu melihatnya”. (QS. al-Insyiqaq: 10-15).
Lihatlah
tokoh-tokoh kafir zaman dahulu dan sekarang. Lihatlah Firaun, Haman, Qorun, dan
lainnya. Janganlah kita tidak silau dengan kebahagiaan mereka yang bersifat
sementara, tidak terperangah dengan limpahan harta yang mereka miliki, karena
tempat kembali orang-orang kafir adalah neraka.
Oleh
karena itu, jangan sampai seseorang bercita-cita meraih kebahagiaan di dunia
saja. Karena dunia itu bersifat sementara, akan hancur dan sangat hina di sisi
Allah ‘Azza wa Jalla. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jallamencela orang-orang yang
berdoa dan memohon kepada-Nya hanya untuk mendapatkan kebaikan dunia. Allah
‘Azza wa Jallaberfirman:
فَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ
خَلَاقٍ
“Maka
di antara manusia ada orang yang berdoa, “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan)
di dunia”, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat”. (QS.
al-Baqarah: 200).
بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَنَفَعْنَا بِهَدْيِ سَيِّدِ المُرْسَلِيْنَ وَقَوْلُهُ القَوِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتِ، لَهُ الْحَمْدُ أَمَرَ بِالفْضَائِلِ وَالصَّالِحَاتِ،
وَنَهَى عَنِ الْبَغْيِ وَالعُدْوَانِ وَالرَّذَائِلِ وَالْمُنْكَرَاتِ، أَحْمَدُ رَبِّي
عَلَى نِعَمِهِ الظَاهِرَاتِ وَالْبَاطِنَةِ الَّتِي أَسْبَغَهَا عَلَيْنَا وَعَلَى
المَخْلُقَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ
إِلَهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنَ الأَقْوَالِ
وَالأَفْعَالِ وَالإِرَدَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَ اللهُ بِالْبَيِّنَاتِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ السَّابِقِيْنَ
إِلَى الخَيْرَاتِ.
أَمَّا
بَعْدُ:
فَاتَّقُوْا
اللهَ –عَزَّوَجَلَّ- وَأَطِيْعُوْهُ، وَكُوْنُوْا دَائِمًا عَلَى حَذْرٍ وَخَوْفٍ
مِنَ المَعَاصِي، فَإِنَّ بَطْشَ اللهُ شَدِيْدٌ.
Keempat:
Celaka di dunia dan celaka di akhirat.
Ibdallah,
Jenis
manusia terakhir, adalah orang yang celaka di dunia dan akhirat. Nas`alullah
as-salamah wal ‘afiyah. Orang yang tidak memahami dan jauh dari ajaran Islam
yang benar dan jauh dari kemudahan rezeki di dunia, hidup sengsara, namun
anehnya ia memiliki cita-cita dan keinginan yang sangat buruk (seperti berbuat
maksiat atau merusak bila memiliki kekayaan).
Sesungguhnya
keempat jenis manusia ini dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di
dalam sabda beliau sebagai berikut:
وَأُحَدِّثُكُمْ
حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ: قَالَ إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ:عَبْدٍ رَزَقَهُ
اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ
لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا
وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا
لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ
اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ
لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ
حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا
عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ
بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ
Dan
aku akan menyampaikan satu perkataan kepada kamu, maka hafalkanlah! Beliau
bersabda: Sesungguhnya dunia itu untuk 4 orang:
Hamba
yang Allah berikan rezeki kepadanya berupa harta (dari jalan yang halal) dan
ilmu (agama Islam), kemudian dia bertakwa kepada Rabbnya pada rezeki itu (harta
dan ilmu), dia berbuat baik kepada kerabatnya dengan rezekinya, dan dia
mengetahui hak bagi Allah padanya. Hamba ini berada pada kedudukan yang paling
utama (di sisi Allah).
Hamba
yang Allah berikan rezeki kepadanya berupa ilmu, namun Dia (Allah) tidak
memberikan rezeki berupa harta. Dia memiliki niat yang baik. Dia mengatakan,
“Seandainya aku memiliki harta aku akan berbuat (baik) seperti perbuatan si
Fulan (orang pertama yang melakukan kebaikan itu)”. Maka dia (dibalas) dengan
niatnya (yang baik), pahala keduanya (orang pertama dan kedua) sama.
Hamba
yang Allah berikan rezeki kepadanya berupa harta, namun Dia (Allah) tidak
memberikan rezeki kepadanya berupa ilmu, kemudian dia berbuat sembarangan
dengan hartanya dengan tanpa ilmu. Dia tidak bertakwa kepada Rabbnya padanya,
dia tidak berbuat baik kepada kerabatnya dengan hartanya, dan dia tidak
mengetahui hak bagi Allah padanya. Jadilah hamba ini berada pada kedudukan yang
paling buruk (di sisi Allah).
Hamba
yang Allah tidak memberikan rezeki kepadanya berupa harta dan ilmu, kemudian
dia mengatakan: “Seandainya memiliki harta, aku akan berbuat seperti perbuatan
si Fulan (dengan orang ketiga yang melakukan keburukan itu)”. Maka dia
(dibalas) dengan niatnya, dosa keduanya sama.(2)
Inilah
berbagai jenis kebahagiaan yang ada, jangan sampai kita salah langkah dalam
memilih dan menggapai hakekat kebahagiaan. Karena sesungguhnya orang yang
berakal akan lebih mengutamakan akhirat yang kekal abadi ketimbang kenikmatan
duniawi yang fana. Hanya Allah yang memberikan taufik. Wallahu a’lam…
وَصَلُّوْا
وَسَلِّمُوْا – رَعَاكُمُ اللهُ – عَلَى مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ
اللهُ بِذَلِكَ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦]
، وقال صلى الله عليه وسلم : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى
آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ
الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى
يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ
أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، اَللَّهُمَّ
وَآمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ
وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ.
اَللَّهُمَّ
آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا
وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ: اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ .
(Diadaptasi dari tulisan Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari di majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIV/1431H/2010).
Wallahu'alam Bishshowab
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber : Aplikasi kumpulan tausiah Islam
Artikel www.rumaysho.com
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar