بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Ahad 23 Rabi'ul-Akhir 1448 H /4 Oktober 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Allah
Ta’ala menjadikan kedua orang tua sebagai sumber kebahagiaan bagi
seseorang. Mereka adalah kebun yang dipenuhi kasih sayang dan kelembutan.
Kebaikan-kebaikan mereka yang sangat luas dan tak akan pernah bisa kita balas.
Ini layak untuk dijadikan pengingat akan besarnya hak mereka dari kita. Allah Ta’ala
mengisyaratkan hal ini dengan menyebutkan hak keduanya setelah menyebutkan hak
diri-Nya sendiri,
وَاعْبُدُوا
اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا
“Dan
sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa’: 36)
Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam juga menekankan bahwa mereka berdualah yang
paling layak untuk kita berikan kasih sayang, kebaikan, dan perlakuan baik.
Suatu ketika datang seseorang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan
bertanya,
يا رَسولَ
اللَّهِ، مَن أحَقُّ النَّاسِ بحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قالَ: أُمُّكَ قالَ: ثُمَّ مَنْ؟
قالَ: ثُمَّ أُمُّكَ قالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قالَ: ثُمَّ أُمُّكَ قالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قالَ:
ثُمَّ أبُوكَ
“Wahai
Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berlaku baik kepadanya?”
Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab,
“Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu.”
Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no.
2548)
Nabi
ulang penyebutan ibu sebanyak tiga kali dan bapak sekali, bukan dalam rangka
meremehkan hak bapak, akan tetapi sebagai penguat akan betapa besarnya hak
seorang ibu terhadap anak-anaknya.
Alangkah
besarnya kebaikan dan jasa seorang ibu terhadap mereka. Banyaknya rasa capek
dan lelah yang dialaminya. Rasa sakit dan tidak nyaman yang ditanggungnya saat
hamil. Rasa lelah saat melahirkan dan menyusui, serta betapa besar jasa mereka
dalam memberikan pelayanan dan kasih sayang terbaiknya kepada anak-anak.
Sayangnya,
besarnya kasih sayang seorang ibu terkadang membuat seorang anak menjadi tamak
dan lupa diri, sering meremehkannya, dan tidak mau patuh kepadanya.
Sampai-sampai oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam, kita
diingatkan dengan menyebutkannya sebanyak tiga kali.
Ketahuilah
wahai saudaraku, sungguh di dalam berbakti kepada kedua orang tua terdapat
banyak sekali keutamaan dan keistimewaan. Keutamaan yang akan membantu
seseorang di dalam meraih kebahagiaan. Dan ketahuilah bahwa di dalam
kedurhakaan kepada keduanya, maka akan menghantarkan seseorang kepada
kesengsaraan dan kesulitan.
Berbakti,
identitas para nabi dan orang saleh
Allah
Ta’ala berfirman menceritakan kisah Nabi Yahya ‘alaihissalam,
وَّبَرًّاۢ
بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا
“Dan
(Nabi Yahya) sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang
yang sombong, (bukan pula) orang yang durhaka.” (QS. Maryam: 14)
Allah
Ta’ala juga mengisahkan perihal Nabi Isa ‘alaihissalam tatkala
beliau masih bayi dan berada di gendongan Ibunda Maryam. Allah Ta’ala
berikan kepadanya mukjizat untuk bisa berbicara. Lantas di antara yang beliau
ucapkan adalah,
وَّبَرًّاۢ
بِوَالِدَتِيْ وَلَمْ يَجْعَلْنِيْ جَبَّارًا شَقِيًّا
“Dan
(Allah Ta’ala menjadikanku) berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku
seorang yang sombong lagi celaka.”
(QS. Maryam: 32)
Sungguh
di antara bentuk bakti paling agung yang ditunjukkan Allah Ta’ala dalam
Al-Qur’an adalah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan ayahnya.
Bagaimana kelembutan beliau di dalam mendakwahi sang ayah, gigihnya beliau di
dalam berdakwah, dan semangat beliau untuk mengajak ayahnya meninggalkan
kekufuran. Allah Ta’ala berfirman,
وَاذْكُرْ
فِى الْكِتٰبِ اِبْرٰهِيْمَ ەۗ اِنَّهٗ كَانَ صِدِّيْقًا نَّبِيًّا
“Dan
ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur’an), sesungguhnya
dia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.”
اِذْ قَالَ
لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِيْ
عَنْكَ شَيْـًٔا
“(Ingatlah)
ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau
menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat
menolongmu sedikit pun?”
يٰٓاَبَتِ
اِنِّيْ قَدْ جَاۤءَنِيْ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِيْٓ اَهْدِكَ
صِرَاطًا سَوِيًّا
“Wahai
ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan
kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang
lurus.” (QS. Maryam:
41-43)
Nabi
Ibrahim memanggil ayahnya dengan panggilan yang lembut, menasihatinya dengan
kelembutan dan kesabaran, meskipun pada akhirnya Allah Ta’ala belum
memberikan hidayah kepada sang ayah. Akan tetapi, Allah karuniakan kepada
Ibrahim dua anak saleh yang taat kepada kedua orang tuanya. Allah Ta’ala
berfirman,
فَبَشَّرْنٰهُ
بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ * فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى
فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ
مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
“Maka
Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat
sabar (Ismail). Maka, ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha
bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa
aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail)
menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu,
insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 101-102)
Allah
Ta’ala juga berfirman,
وَبَشَّرْنٰهُ
بِاِسْحٰقَ نَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ * وَبٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اِسْحٰقَۗ
“Dan
Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishak seorang Nabi yang termasuk
orang-orang yang saleh. Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada
Ishak.” (QS. AS-Saffat:
112-113)
Betapa
besar kebahagiaan yang Allah Ta’ala berikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Allah berikan kepadanya keturunan yang saleh lagi beriman. Yang mana salah satu
sebabnya adalah kebaktian beliau kepada ayahnya serta lembutnya beliau dalam
berdiskusi dan mendakwahkan ajaran yang benar kepada ayahnya.
Berbakti,
sumber kebahagiaan
Saudaraku,
kebahagiaan apa yang dapat melampaui kebahagiaan seseorang karena mendapatkan
jaminan surga setelah kebahagiaan melihat wajah Allah Ta’ala?
Setiap
mukmin pasti ingin masuk surga, hanya saja sebagian dari mereka melupakan salah
satu pintu yang paling utama dan paling baik, yaitu berbakti kepada kedua orang
tua. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,
الوالِدُ
أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنَّ شئتَ فأضِع ذلك البابَ أو احفَظْه
“Orang
tua adalah pintu surga yang paling baik. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau
kalian bisa menjaganya.” (HR.
Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663, dan Ahmad no. 27551)
Ketahuilah
wahai saudaraku, tidak ada seorang pun masuk ke dalam surga, kecuali Allah Ta’ala
telah meridainya. Lalu, bagaimana bisa seseorang yang durhaka kepada kedua
orang tuanya akan mendapatkan rida Allah Ta’ala?! Sedangkan Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam mengatakan,
رِضى اللَّهِ في رِضى الوالِدَينِ ، وسَخَطُ اللَّهِ في سَخَطِ الوالدينِ
“Rida
Rabb tergantung rida kedua orang tua, dan murka Allah tergantung murka kedua
orang tua.” (HR.
Tirmidzi no. 1899, Ibnu Hibban no. 429 dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul
Iman no. 7830)
Saudaraku,
berbakti kepada orang tua juga merupakan salah satu sebab kelapangan dan
kebahagiaan di dunia. Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَن سرَّه أن يُمَدَّ له في عمرِه ويُزادَ في رزقِه فليبَرَّ والدَيْه وليَصِلْ رحِمَه
“Siapa
yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezekinya, maka hendaknya ia
berbakti kepada kedua orang tuanya dan menyambung (tali silaturahmi)
kekerabatannya.” (HR
Ahmad no. 13811)
Semoga
Allah Ta’ala menjadikan kita semua sebagai pribadi yang bisa berbakti
kepada kedua orang tua, konsisten di dalam melakukan kebaikan-kebaikan untuk
keduanya, menjaga diri dari menyakiti keduanya, dan senantiasa berbuat baik
kepada keduanya hingga keduanya meninggalkan kita semua.
Semoga
Allah Ta’ala menjauhkan kita dari menjadi salah satu di antara
golongan yang Nabi sebutkan dalam hadisnya,
رَغِمَ
أنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أنْفُ، قيلَ: مَنْ؟ يا رَسولَ اللهِ، قالَ:
مَن أدْرَكَ أبَوَيْهِ عِنْدَ الكِبَرِ -أحَدَهُما أوْ كِلَيْهِما- فَلَمْ يَدْخُلِ
الجَنَّةَ
“Celakalah, kemudian celakalah, kemudian celakalah.” Ditanya, “Siapa, ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Orang yang mendapati orang tuanya di kala tuanya, baik salah satu atau keduanya, lalu ia tidak dapat masuk surga (karena sebab kedurhakaannya).” (HR. Muslim no. 2551)
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber Artikel: www.muslim.or.id
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar