بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Kamis 20 Rabi'ul-Akhir 1448 H /1 Oktober 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Sekilas
memang terlihat tidak adil bagi saudara kita yang dizalimi oleh orang tua
mereka. Masa kecil mereka direnggut dan yang tersisa hanyalah trauma dan rasa
sakit. Akan tetapi, di balik itu ada hikmah mengapa kita tetap wajib berbakti
kepada orang tua yang zalim.
Seorang
anak tetap wajib berbakti kepada orang tua yang zalim atau durhaka, selama
mereka tidak menyuruh kepada perbuatan syirik atau maksiat
Kedudukan
berbakti kepada orang tua
Berbakti
kepada orang tua merupakan sebuah amalan mulia dalam Islam. Hal tersebut
ditunjukkan dari beberapa ayat Al-Quran yang menyandingkan berbakti kepada
orang tua dengan tujuan ibadah paling utama, yaitu bertauhid. Allah Ta’ala berfirman,
وَقَضَىٰ
رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan
Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah
berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS.
Al-Isra’: 23)
Dalam
ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدُوا
اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat
baiklah kepada kedua orang tua.”
(QS. An-Nisa: 36)
Dari
kedua ayat di atas, kita bisa melihat bahwa Allah menyebutkan berbakti kepada
orang tua setelah bertauhid. Para ulama banyak yang menjelaskan bahwa hal
tersebut menunjukkan istimewanya berbakti kepada orang tua. Mengapa demikian?
Karena berbakti kepada orang tua beberapa kali disandingkan dengan perintah
untuk bertauhid dan menjauhi syirik yang merupakan landasan utama agama Islam.
Dalil
wajibnya berbakti kepada orang tua yang zalim
Berbakti
kepada orang tua merupakan suatu amalan yang mulia, dan kedudukannya tidaklah
berubah walaupun orang tua tersebut zalim. Ada beberapa dalil yang menunjukkan
wajibnya berbakti kepada orang tua yang zalim, di antaranya adalah firman Allah
Ta’ala,
وَإِنْ
جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا
وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
“Jika
keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)
Pada
ayat di atas, bisa kita lihat bahwa Allah tetap memerintahkan kita untuk
memperlakukan orang tua kita dengan baik walaupun mereka memaksa kita untuk
berbuat syirik. Bayangkan, hal apa yang lebih kejam dibandingkan memaksa
seorang anak agar kekal di neraka (dengan berbuat syirik)? Akan tetapi, Allah
tetap memerintahkan kita untuk tetap berbuat baik kepada mereka.
Hikmah
diwajibkannya berbakti kepada orang tua yang zalim
Mungkin
terlihat tidak adil bagi orang-orang yang merasa hidupnya dizalimi dan disakiti
oleh orang tuanya. Mereka menghabiskan masa kecilnya dengan rasa sakit lahir
maupun batin yang diberikan oleh orang tuanya. Setelah mereka dewasa, mereka
malah harus berbakti kepada orang yang menjadi sumber rasa sakitnya.
Akan
tetapi jika direnungkan kembali, ada hikmah yang besar di balik berbakti kepada
orang tua, walaupun mereka orang tua yang zalim.
Pertama,
kunci masuk surga
Berbakti
kepada orang tua merupakan salah satu kunci yang bisa mengantarkan kita untuk
masuk surga. Suatu hal yang merugi ketika kita memiliki orang tua, tapi tidak
bisa memanfaatkannya untuk bisa masuk surga. Hal tersebut sebagaimana sabda
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam,
رَغِمَ
أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟
قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ
يَدْخُلِ الْجَنَّةَ
“Celakalah
dia (hidungnya tersungkur ke debu), celakalah dia, celakalah dia!” Ada yang
bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barang siapa
yang mendapati kedua orang tuanya di masa tua, salah satunya atau keduanya,
namun hal itu tidak membuatnya masuk surga.” (HR. Muslim)
Berbakti
kepada orang tua juga merupakan salah satu tiket masuk surga yang paling utama,
sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,
الوالد
أوسط أبواب الجنة، فإن شئت فأضع هذا الباب، أو احفظه
“Orang
tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau mau, engkau boleh
menyia-nyiakan pintu tersebut, atau engkau boleh menjaganya.” (HR. Tirmidzi)
Syekh
Al-Mubarakfuri menjelaskan tentang maksud dari pintu yang paling tengah,
أَيْ خَيْرُ
الْأَبْوَابِ وَأَعْلَاهَا وَالْمَعْنَى أَنَّ أَحْسَنَ مَا يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى
دُخُولِ الْجَنَّةِ، وَيُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى وُصُولِ دَرَجَتِهَا الْعَالِيَةِ، مُطَاوَعَةُ
الْوَالِدِ وَمُرَاعَاةُ جَانِبِهِ
“Maksudnya
adalah pintu paling baik dan paling tinggi derajatnya. Maknanya bahwa sarana
paling baik yang mengantarkan seseorang untuk masuk surga, dan merupakan sarana
yang paling tinggi derajatnya, yaitu menaati orang tua dan menjaga hak dan
kehormatannya.”
Jangan
sampai kebencian kita kepada orang tua kita malah menghilangkan kesempatan kita
untuk meraih pintu surga yang paling utama. Bayangkan jika orang yang memiliki
orang tua saleh yang menyayanginya dari lahir hingga akhirnya dipisahkan dengan
kematian, ketika mereka berbakti kepada orang tua, surga adalah balasannya.
Apalagi seorang anak yang memiliki orang tua yang zalim, ujiannya lebih besar,
tentu balasannya lebih besar juga.
Kedua,
memulai siklus kebaikan
Keburukan
tidak selamanya harus dibalas dengan keburukan, terkadang membalas keburukan
dengan kebaikan adalah solusi. Mari renungkan firman Allah berikut,
وَلَا تَسْتَوِى
الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ
بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْم
“Tidaklah
sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih
baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti
teman yang sangat setia.”
(QS. Fushshilat: 34)
Bermusuhan
dengan orang tua bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Hal tersebut bisa
melebar ke keburukan lainnya. Bisa berupa terputusnya silaturahmi,
ketidakharmonisan antar keluarga, ataupun konflik-konflik lainnya. Terkadang
mengalah dan berbuat baik kepada orang tua yang zalim tersebut merupakan
pilihan yang terbaik.
Jangan
sampai konflik dan perpecahan yang ada terus-menerus terjadi. Mulailah memulai
siklus kebaikan di keluarga dengan berbakti kepada orang tua walaupun mereka
telah berlaku zalim. Kelembutan dan bakti Anda bisa saja menyadarkan orang tua
dan mulai mau berubah. Biarlah yang lalu telah berlalu.
Selain
itu, ada satu sosok yang butuh teladan untuk mendapatkan tiket surga di masa
mendatang. Mereka adalah anak-anak, mereka butuh teladan dalam berbakti kepada
orang tua. Bagaimana mungkin mereka bisa tertanam kesadaran yang tinggi untuk
berbakti kepada orang tua nantinya jika Anda tidak mencontohkannya?
Penutup
Berbakti
kepada orang tua merupakan perkara mulia yang mungkin mudah untuk diucapkan,
tapi sulit untuk dipraktekkan. Terlebih lagi jika seorang anak tidak
diperlakukan baik oleh orang tuanya, apalagi jika orang tuanya malah jadi
sumber rasa sakit lahir dan batin mereka. Akan tetapi, semua itu tidaklah
menggugurkan kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya.
Memang hal tersebut merupakan perkara yang sulit, semoga kita semua dimudahkan untuk berbakti kepada orang tua dan mendapatkan balasan yang setimpal di surga nanti.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber Artikel Muslim.or.id
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar