بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Senin 17 Rabi'ul-Akhir 1448 H /28 September 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Tobat adalah nikmat yang sangat besar bagi
seorang hamba. Karena dengan bertobat kepada Allah, maka seorang hamba kembali
kepada jalan ketaatan dan amal saleh setelah sebelumnya dia terjerumus dan
terseret dalam arus dosa dan kemaksiatan. Maka, menjadi harapan setiap muslim
untuk terus bertobat dalam setiap hari yang dia lalui karena dia menyadari
bahwa dirinya penuh dengan dosa dan kekurangan dalam mengabdi kepada Ar-Rahman.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk
menerima tobat pelaku dosa di siang hari dan membentangkan tangan-Nya di siang
hari untuk menerima tobat pelaku dosa di malam hari, sampai matahari terbit
dari arah tenggelamnya.” (HR. Muslim)
Kesempatan untuk bertobat masih terus terbuka
selama nyawa belum berada di tenggorokan. Tidakkah kita mengingat kisah seorang
pembunuh 100 nyawa yang masih diberi kesempatan bertobat dan Allah pun menerima
tobatnya. Tidakkah kita ingat kisah tobatnya Ka’ab bin Malik dan teman-temannya
radhiyallahu ’anhum yang diabadikan di dalam Al-Qur’an, sebagai
pelajaran, peringatan, dan nasihat bagi setiap insan beriman.
Bertobat dari keteledoran
Nikmat yang Allah berikan kepada kita tiada
terhingga, tetapi seringkali kita tidak menunaikan syukur atasnya dengan baik. Al-Hafizh
Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hakikat syukur adalah mengakui
limpahan nikmat (dari Allah) dan berusaha menunaikan pengabdian (kepada-Nya).
Barangsiapa yang perkara ini semakin banyak muncul dari dirinya, maka dia
disebut sebagai syakuur (orang yang pandai bersyukur). Dari sanalah, maka Allah
Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan, “Betapa sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang
pandai bersyukur.” (lihat Fath Al-Bari, tahqiq Syaibatul Hamdi, 3:
20)
Mutharrif bin Abdullah rahimahullah berkata,
“Sungguh apabila aku mendapatkan kesehatan dan kelapangan kemudian aku
menunaikan syukur, itu jauh lebih aku sukai daripada aku tertimpa cobaan
(musibah) sehingga aku harus bersabar menghadapinya.” (lihat At-Tahdzib
Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 441)
Abu Abdillah Ar-Razi rahimahullah berkata,
“Sufyan bin ‘Uyainah berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya di
antara bentuk syukur atas nikmat-nikmat Allah adalah dengan engkau memuji-Nya
atas hal itu dan engkau gunakan nikmat-nikmat itu di atas ketaatan kepada-Nya.
Oleh sebab itu, bukanlah orang yang bersyukur kepada Allah orang yang
menggunakan nikmat-nikmat dari-Nya justru untuk melakukan maksiat (kedurhakaan)
kepada-Nya.’” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’,
hal. 441)
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,
“Orang yang bersyukur itu adalah orang yang mengetahui (menyadari) bahwa nikmat
itu berasal dari Allah Ta’ala. Allah memberikan nikmat itu kepadanya
untuk melihat bagaimana dia bersyukur, bagaimana dirinya bersabar?” (lihat At-Tahdzib
Al-Maudhu’i li Hilyah al-Auliya’, hal. 441)
Abud Darda’ radhiyallahu’anhu berkata,
“Barangsiapa yang memandang tidak ada kenikmatan dari Allah kepada dirinya
selain hanya dalam urusan makanan dan minumannya, sungguh telah sedikit
fikih/ilmunya dan telah datang azab pada dirinya.” (lihat At-Tahdzib
Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 885)
Wajibnya bersabar dan bersyukur
Abu Hazim Salamah bin Dinar rahimahullah
berkata, “Setiap kenikmatan yang tidak semakin menambah kedekatan kepada Allah ‘Azza
Wa Jalla, maka pada hakikatnya hal itu adalah bencana.” (lihat At-Tahdzib
Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 888)
Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ’anhu
berkata, “Kami diuji dengan kesulitan, maka kami pun bisa bersabar. Akan
tetapi, tatkala kami diuji dengan kesenangan, maka kami pun tidak bisa
bersabar.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 163)
Yazid bin Maisarah rahimahullah berkata,
“Tidaklah berbahaya suatu nikmat jika ia dibarengi dengan syukur. Tidaklah
berbahaya musibah jika ia dibarengi dengan sabar. Sungguh, musibah yang menimpa
pada saat melakukan ketaatan kepada Allah, itu jauh lebih baik daripada nikmat
yang dirasakan ketika berbuat maksiat kepada Allah.” (lihat At-Tahdzib
Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 164)
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata,
“Tidaklah menjadi fakih (ahli ilmu) barangsiapa yang tidak bisa menganggap
bahwa musibah (duniawi) adalah nikmat (agama) dan kelapangan (dunia) adalah
musibah.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hal. 165)
Bisyr bin Al-Harits rahimahullah
berkata, “Tidaklah aku mengetahui seorang pun, kecuali dia pasti tertimpa
cobaan. Seorang yang Allah berikan kelapangan pada rezekinya, maka Allah ingin
melihat bagaimana dia menunaikan syukur atas hal itu. Dan seorang yang Allah ‘Azza
Wajalla cabut sebagian dari rezekinya, ketika itu Allah ingin melihat
bagaimanakah dia bisa bersabar.” (lihat At-Tahdzib Al-Maudhu’i li Hilyah
Al-Auliya’, hal. 172)
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ
ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)
Ibnu Katsir rahimahullah menyimpulkan
bahwa makna ayat di atas adalah, “Sesungguhnya Aku menciptakan mereka tidak
lain untuk Aku perintahkan mereka beribadah kepada-Ku, bukan karena
kebutuhan-Ku kepada mereka.” (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim [7: 425])
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Bahkan, ibadah kepada Allah, ma’rifat, tauhid, dan syukur kepada-Nya,
itulah sumber kebahagiaan hati setiap insan. Itulah kelezatan tertinggi bagi
hati. Kenikmatan terindah yang hanya akan diraih oleh orang-orang yang memang
layak untuk mendapatkannya…” (lihat Adh-Dhau’ Al-Munir ‘ala At-Tafsir
[5: 97])
Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Dia (Allah) tidaklah membutuhkan ibadahmu. Seandainya kamu kafir, maka kerajaan Allah tidak akan berkurang. Bahkan, kamulah yang membutuhkan diri-Nya. Kamu yang memerlukan ibadah itu. Salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah memerintahkanmu beribadah kepada-Nya demi kemaslahatan dirimu. Jika kamu beribadah kepada-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memuliakanmu dengan balasan dan pahala. Ibadah menjadi sebab Allah memuliakan kedudukanmu di dunia dan di akhirat. Jadi, siapakah yang memetik manfaat dari ibadah? Yang memetik manfaat dari ibadah adalah hamba. Adapun Allah Jalla Wa ‘Ala, Dia tidak membutuhkan makhluk-Nya.” (lihat Syarh Al-Qawa’id Al-Arba’, hal. 15-16)
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel: Muslim.or.id
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar