بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Jum'at 21 Rabi'ul-Akhir 1448 H /2 Oktober 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
KHOTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ
لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ
الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ،
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحُ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ،
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ
فَيَا مَعْشَرَ الْمُؤْمِنِينَ، أُوصِيكُمْ
وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ الزَّادِ،
وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ
Jemaah
salat Jumat rahimakumullah,
Kadang
di antara kita merasa gagal. Gagal mengejar cinta, gagal mengembangkan diri,
gagal menaikkan pangkat, gagal membahagiakan orang tua, gagal mengembangkan
dakwah. Kita lihat orang lain tampak mudah hidupnya. Tiba-tiba dada sesak, hati
resah, dan gundah gulana. Lalu kita cari pelarian, scrolling tanpa
henti, nongkrong berlarut, atau hiburan yang justru menambah kosongnya hati.
Di
tengah semua itu, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, apakah benar
ukuran sukses itu seperti yang kita yakini selama ini? Allah Ta’ala
berfirman,
وَمَا الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ
ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Kehidupan
dunia itu tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Dan negeri akhirat itu
lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kalian mengerti?” (QS.
Al-An’am: 32)
Definisi
sukses yang selama ini kita pegang ternyata rapuh. Sukses hakiki bukan perkara
yang tampak di mata manusia. Sukses hakiki adalah ketika kita konsisten dalam
kebaikan; kita masih berdiri di atas salat lima waktu, di atas tauhid yang
lurus, hingga ajal menjemput. Hasil dunia? Itu hanya bonus. Amal ibadah yang
istikamah, itulah bekal yang pasti.
Dan
ibadah sampai mati adalah keharusan, bukan pilihan. Allah Ta’ala
berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ
يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan
beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal/kematian).”
(QS. Al-Hijr: 99)
Tidak
ada selesai dari ibadah. Tidak ada berhenti dari ketaatan. Sampai ajal datang,
kita wajib beribadah. Karena itulah tugas kita di dunia, sebagaimana firman
Allah Ta’ala,
وَمَا خَلَقْتُ
الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah
kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Namun,
kita perlu memahami satu hal yang sering menyesatkan. Beriman dan beribadah
tidak berarti kita akan selalu mendapatkan kehidupan dunia yang kita inginkan.
Allah
Berfirman,
أَحَسِبَ
النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah
manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah
beriman,’ sementara mereka tidak diuji?” (QS. al-Ankabut: 2)
Perihal
hasil, kita hanya diperintahkan bertawakkal. Nabi ﷺ bersabda,
لَوْ
أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ
الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Jika
kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan memberi kalian
rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pagi-pagi
dalam keadaan lapar, dan kembali sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi
no. 2344, dinilai sahih oleh Al-Albani)
Namun,
Ketawakkalan kita tidak boleh menciderai ikhtiyar kita dan berdoa. Nabi ﷺ
bersabda,
الْمُؤْمِنُ
الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ
خَيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ
“Mukmin
yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan
pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk hal yang bermanfaat
bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.” (HR. Muslim no. 2664)
Hasil
dunia boleh jadi datang, boleh jadi tidak. Tugas kita hanya beramal saleh.
Tugas kita bukan mengejar hasil. Karena keberhasilan hakiki umat Islam hanya
akan terlihat di akhirat nanti, bukan di dunia ini. Allah Ta’ala
berfirman,
مَنْ كَانَ
يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا
وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ * أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ
إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa
yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada
mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia
tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh di
akhirat selain neraka, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan di dunia.”
(QS. Hud: 15-16)
Nabi ﷺ bersabda,
لَوْ كَانَتِ
الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا
شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya
dunia ini senilai sayap nyamuk di sisi Allah, niscaya Allah tidak akan memberi
minum orang kafir walau seteguk air.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dinilai sahih
oleh Al-Albani)
Jemaah
rahimakumullah, dunia ini bukan tempat kita memanen kemenangan. Di dunia
ini, ujian dan fitnah akan selalu datang, tidak peduli siapa kita, berapa harta
kita, atau apa jabatan kita. Nabi ﷺ bersabda,
تَكُونُ
فِتْنَةٌ، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ
الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي
“Akan
ada fitnah. Yang duduk di dalamnya lebih baik dari yang berdiri, yang berdiri
lebih baik dari yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik dari yang berlari
menuju fitnah.” (HR. Bukhari no.
7081)
Nabi
ﷺ juga bersabda,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا
حَتَّىٰ يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ يَوْمٌ لَا يَدْرِي الْقَاتِلُ فِيهِ فِيمَ قَتَلَ،
وَلَا الْمَقْتُولُ فِيمَ قُتِلَ
“Demi
yang jiwaku di tangan-Nya, tidak akan lenyap dunia ini hingga datang kepada
manusia suatu hari di mana yang membunuh tidak tahu mengapa ia membunuh, dan
yang dibunuh tidak tahu mengapa ia dibunuh.” (HR. Muslim no. 2884)
Lalu
bagaimana seharusnya kita bersikap di tengah fitnah yang datang silih berganti?
Yang
paling utama adalah berusaha menjauh dari fitnah, bukan mendekatinya. Nabi ﷺ
bersabda,
مَنْ وَجَدَ
فِيهَا مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ
“Siapa yang menemukan tempat berlindung,
maka berlindunglah di sana.” (HR. Bukhari no. 7081)
Nabi
ﷺ bersabda,
يَهْرُبُ
النَّاسُ مِنَ الدَّجَّالِ، فَيَلْحَقُ بِالْجَبَالِ
“Manusia
akan lari dari Dajjal, lalu mereka berlindung ke gunung-gunung.” (HR. Muslim
no. 2936)
Nabi
ﷺ bersabda,
كَيْفَ
أَنْتَ يَا حُذَيْفَةُ إِذَا أَصَابَ النَّاسَ مَوْتٌ يَكُونُ الْقَتْلُ فِيهِ قَتْلًا؟
قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: لِتَصْبِرَنَّ عَلَيْهِمْ وَلَتَمَسَّكَنَّ
بِأَخْشُوشِ أَمْرِكَ
“Bagaimana
keadaanmu wahai Hudzaifah, jika manusia ditimpa suatu kematian yang membunuh
banyak orang? Aku (Hudzaifah) menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’
Beliau bersabda, ‘Bersabarlah dan berpeganglah teguh pada perkara yang keras
(agaknya) dari agamamu.’” (HR. Abu Dawud no. 4242, dinilai sahih oleh
Al-Albani)
Jemaah,
kita tidak perlu menjadi pahlawan di tengah fitnah. Kita cukup selamat. Oleh
karena itu, janganlah sekali-kali kita sengaja menceburkan diri ke dalam
kemaksiatan. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ
إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan
janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah:
195)
Dan
jika kita terlanjur terperosok, jangan berputus asa dari rahmat Allah.
Bertobatlah selalu, setiap saat. Nabi ﷺ bersabda,
كُلُّ بَنِي
آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap
anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang
bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499, dinilai sahih oleh Al-Albani)
Nabi
ﷺ bersabda,
إِنَّ اللَّهَ
عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ
يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ
“Sesungguhnya
Allah Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di malam hari agar pelaku dosa di
siang hari bertobat; dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar pelaku
dosa di malam hari bertobat.” (HR. Muslim no. 2759)
Jemaah
rahimakumullah, mungkin ada yang bertanya: kalau dunia ini bukan tempat
kemenangan, lalu siapakah yang menang? Apakah Islam akan mampu bertahan? Apakah
umat ini akan berjaya?
Allah
Ta’ala dan Rasul-Nya telah memberikan jawabannya dengan sangat jelas.
Islam akan kembali asing di akhir zaman. Kemenangan hakiki bukanlah milik yang
menang di dunia, melainkan milik yang beristikamah. Nabi ﷺ bersabda,
بَدَأَ
الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam
mulai dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana ia mulai. Maka
beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim no. 145)
Nabi
ﷺ bersabda,
لَا تَقُومُ
السَّاعَةُ حَتَّىٰ يَقْبِضَ الْعِلْمَ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ،
وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ، وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ
“Tidak
akan datang kiamat hingga diangkatnya ilmu, banyak gempa, waktu terasa sempit,
fitnah tampak jelas, dan banyak kekacauan.” (HR. Bukhari no. 1036)
Nabi
ﷺ bersabda,
سَدِّدُوا
وَقَارِبُوا، وَاعْلَمُوا أَنَّهُ لَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ، قَالُوا:
وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ
اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ
“Luruslah,
dekatlah, dan ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun di antara kalian yang akan
selamat dengan amalnya. Mereka bertanya, ‘Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?’
Beliau menjawab, ‘Tidak juga aku, kecuali Allah melimpahkan rahmat-Nya
kepadaku.’” (HR. Bukhari no. 5673)
Maka
jika ukuran kemenangan adalah harta, jabatan, dan popularitas dunia, maka
benar, banyak orang yang akan merasa kalah. Namun jika ukuran kemenangan adalah
istikamah di atas Al-Qur’an dan As-Sunah hingga ajal menjemput, maka itulah
kemenangan yang sebenarnya. Karena itulah sebaik-baik bekal yang bisa kita
persiapkan.
Nabi
ﷺ bersabda,
التَّاجِرُ
الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
“Pedagang
yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang yang jujur (shiddiqin),
dan para syuhada’.” (HR. At-Tirmidzi no. 1209, dinilai sahih oleh Al-Albani)
Maka
definisi sukses itu sederhana, jemaah: masih bisa salat lima waktu, masih bisa
berzikir, masih bisa menjaga lisan, masih bisa bertobat, dan masih di atas
tauhid ketika malaikat maut datang. Itu lebih dari cukup. Itulah sukses yang
sebenarnya. Berhasil mengistikamahkan ibadah kita hingga maut menjemput kita.
أَقُولُ
قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ
مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
KHOTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً
مُهْتَدِينَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُسْلِمِينَ، وَأَصْلِحْ
ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِ
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ
مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
أَقِيمُوا الصَّلَاةَ
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Penulis: Muhammad Insan Fathin
Artikel Muslim.or.id
Editing: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar