SEBAB-SEBAB TERBESAR SU’UL KHATIMAH
(KEMATIAN YANG BURUK)
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Senin 14 Rabi'ul-Akhir 1447 H /6 Oktober 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Penyebab
utama su'ul khotimah (akhir hayat yang buruk) adalah akidah yang rusak
(penyakit hati), berpaling dari jalan kebenaran atau tidak istiqamah, cinta
dunia yang berlebihan, dan kebiasaan maksiat yang terus menerus dilakukan
hingga akhir hayat, yang semuanya menyebabkan jiwa cenderung pada hal-hal buruk
saat sakaratul maut.
Kematian
adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh setiap makhluk-Nya. Semuanya akan
mati dan akan menghadap kepada Allah ‘Azza Wajalla untuk
mempertanggung jawabkan apa yang mereka lakukan selama hidupnya di dunia.
Allah ‘Azza Wajalla berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ
وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan
kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu
dikembalikan.” (QS.
Al-Anbiya’: 35)
Sebagai
seorang muslim, tentunya menginginkan kematian yang indah di akhir hidupnya,
diwafatkan dalam kondisi yang baik, dan diterima Allah Subhanahu Wa
Ta’ala. Lantas, bagaimana jika kita diwafatkan oleh Allah ‘Azza
Wajalla dalam kondisi sebaliknya? Tentunya, kita tidak menginginkan
hal tersebut terjadi pada diri kita.
Oleh
karena itu, penting bagi seorang muslim untuk mengetahui sebab-sebab yang bisa
mengantarkan kepada su’ul khatimah (kematian yang buruk) agar
senantiasa berhati-hati dan menghindarinya dengan segala upaya dan
kemampuannya. Dan di antara sebab-sebab su’ul khatimah adalah:
1.
Akidah
yang menyimpang
Seseorang
yang memiliki keyakinan yang menyimpang dari apa yang diajarkan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia akan meyakini
perbuatan yang ia lakukan adalah kebenaran, padahal itu adalah kesesatan. Dia
merasa apa yang ia lakukan sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam, tetapi kenyataannya tidak demikian. Jika ia tidak segera
sadar dan bertobat sebelum kematiannya, maka sia-sialah apa yang telah ia
lakukan selama ini dan bisa menjadi sebab ia mati dalam kondisi su’ul
khatimah. Allah ‘Azza Wajalla berfirman,
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ
ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ
صُنْعًا
“Katakan
(Wahai Muhammad), ‘Maukah engkau aku beritakan tentang amalan yang paling
merugi? Yaitu, mereka yang semasa di dunia melakukan amalan yang sesat, tapi
sayangnya mereka mengira telah berbuat baik.’ ” (QS. Al-Kahfi:
103-104)
Sungguh
merugi, orang yang menyimpang dari akidah yang lurus. Seluruh amalannya sia-sia
dan ia termasuk orang-orang yang merugi. Ia akan senantiasa dalam kesesatannya
dan sulit untuk bertobat darinya. Para pelaku penyimpangan akan sulit untuk
menerima kebenaran, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah
menutup pintu tobat bagi mereka.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ
اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ
“Sesungguhnya
Allah menutup pintu tobat bagi para pelaku penyimpangan sampai dia tinggalkan
ke-bid’ah-annya.” (HR. Ath-Thabrani)
Jika
bukan karena taufik dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mereka akan
senantiasa dalam kesesatannya dan tidak akan bertobat darinya hingga
kematiannya.
2.
Menunda-nunda
tobat
Menunda-nunda
untuk bertobat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari dosa-dosa
yang pernah dilakukan adalah salah satu faktor yang menyebabkan seseorang
tenggelam ke dalam angan-angan yang sia-sia. Ia akan berpikir untuk berbuat
dosa sebanyak mungkin dan di suatu waktu, ia akan bertobat darinya entah kapan.
Ia tidak sadar bahwa kematian bisa datang sewaktu-waktu, kapan saja, dan di
mana saja. Bagaimana jika ia dimatikan dalam kondisi berlumuran dosa dan belum
sempat bertobat darinya? Oleh karena itu, Allah ‘Azza Wajalla sangat
membenci dan mencela orang-orang yang panjang angannya sehingga melalaikan
mereka dari berbuat kebaikan dan menjauhi keburukan. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman,
رُّبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُواْ لَوْ كَانُواْ مُسْلِمِينَ
ذَرْهُمْ يَأْكُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ وَيُلْهِهِمُ الأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
“Orang-orang
yang kafir itu sering kali menginginkan, kiranya mereka dahulu di dunia menjadi
orang-orang muslim. Biarkanlah mereka di dunia ini makan dan bersenang-senang
dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui
(akibat perbuatan mereka).” (QS. Al-Hijr: 2-3)
Dengan
menunda tobat, berarti ia telah menunda kebaikan yang besar dan sekadar
berangan-angan saja. Disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa
ini merupakan modal bagi orang-orang yang merugi lagi bangkrut.
إن المنى رأس أموال المفاليس
“Sesungguhnya
sekadar berangan-angan tanpa realisasi itu adalah modal orang-orang yang
bangkrut.” (Madarijus Salikin, 1: 456)
Ujungnya
ia akan menyesal selamanya dengan penyesalan yang terlambat, karena kematian
lebih dulu menjemputnya di saat ia bergelimang dosa. Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah
berkata,
“Berhati-hatilah
dengan sikap menunda-nunda. Hari ini adalah sekarang. Janganlah menunggu esok
hari, karena jika esok tak kunjung datang, hanya penyesalanlah atas apa yang
luput darimu.” (Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 30)
3.
Senantiasa
bermaksiat
Di
antara sebab yang sering kali menggelincirkan seseorang pada kematian yang
buruk adalah kemaksiatan yang terus menerus. Kemaksiatan akan menyebabkan
seseorang lalai dari perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
enggan untuk bertobat sehingga membuatnya dengan mudah mengalami su’ul
khatimah saat kematiannya. Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
أن الذنوب والمعاصي والشهوات تخذل صاحبها عند الموت مع خذلان الشيطان
له. فيجتمع عليه الخذلان مع ضعف الإيمان. فيقع في سوء الخاتمة
“Sungguh
dosa, maksiat, dan syahwat ialah sebab yang bisa menggelincirkan manusia saat
kematiannya, ditambah lagi dengan godaan setan. Jika terkumpul maksiat dan
godaan setan, ditambah lagi dengan lemahnya iman, maka sungguh amat mudah ia
mati dalam kondisi su’ul khatimah.” (Al-Bidayah wan Nihayah,
10: 184)
Apabila
seseorang selama hidupnya senantiasa banyak melakukan amal buruk atau
kemaksiatan dan sedikit sekali amal baiknya, dikhawatirkan saat menjelang
kematiannya, ia dimatikan dalam kondisi buruk pula. Karena ketika ia sering
bermaksiat, maksiat itu akan menghalanginya untuk bertobat dan melakukan
ketaatan, serta keburukanlah yang akan menghiasi pikirannya ketika menjelang
kematiannya sehingga menyebabkannya mati dalam kondisi su’ul khatimah.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
يُبعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
“Setiap
hamba akan dibangkitkan sesuai kondisi kematiannya.” (HR. Muslim)
Maksud
dari hadis tersebut dijelaskan oleh Al-Munawi rahimahullah,
أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ
“Yaitu,
ia mati di atas kehidupan yang biasanya ia lakukan dan ia dibangkitkan di atas
hal itu pula.” (At-Taisir bi Syarh Al-Jami’ As-Shagir, 2: 859)
Oleh
karenanya, kematian seseorang biasanya dipengaruhi oleh kebiasaan semasa
hidupnya. Jika ia terbiasa dengan melakukan keburukan, maka ia akan dimatikan
dalam kondisi buruk pula. Begitu sebaliknya, jika ia terbiasa dengan melakukan
kebaikan, maka ia akan dimatikan dalam kondisi yang baik pula.
4.
Terlalu
cinta pada dunia
Cinta
pada dunia biasanya dipengaruhi oleh lemahnya keimanan seseorang. Karena sebab
lemahnya iman ini, akan menyebabkan lemahnya kecintaan dia kepada Rabbnya.
Nantinya, yang akan menguasainya adalah syahwat dan maksiat, serta kecintaannya
pada dunia yang amat mendalam.
Terlalu
cinta pada dunia akan meredupkan iman seseorang, bahkan bisa saja membuatnya
jatuh dalam kegelapan (kekufuran). Padahal, Allah Ta’ala dan
Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan
perumpamaan dunia dengan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا مَثَلُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا كَمَآءٍ أَنزَلْنَٰهُ
مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخْتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ ٱلنَّاسُ وَٱلْأَنْعَٰمُ
حَتَّىٰٓ إِذَآ أَخَذَتِ ٱلْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَٱزَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَآ
أَنَّهُمْ قَٰدِرُونَ عَلَيْهَآ أَتَىٰهَآ أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَٰهَا
حَصِيدًا كَأَن لَّمْ تَغْنَ بِٱلْأَمْسِ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍ
يَتَفَكَّرُونَ
“Sesungguhnya
perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami
turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu
tanam-tanaman bumi. Di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak.
Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula)
perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya,
tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami
jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit,
seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan
tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.” (QS. Yunus: 24)
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ
أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟
“Demi
Allah, tidaklah dunia ini dibandingkan dengan akhirat, kecuali seperti
seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di
jarinya?” (HR. Muslim no. 2868)
Salah
seorang salaf juga mengatakan, “Cinta dunia adalah induk dari segala dosa dan
merusak agama seseorang.”
Berlebihan
dalam mencintai dunia berarti ia lebih mengagungkan sesuatu selain Allah dan
ini termasuk dalam dosa yang paling besar yang dapat mendatangkan azab dan
murka-Nya. Selain itu, mencintai dunia dibanding akhirat berarti ia telah
menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, padahal kehidupan akhirat jauh lebih
baik dibandingkan dunia. Sebab, inilah yang sering kali membuat seseorang lalai
dan menjumpai kematiannya dalam kondisi yang buruk.
Sebagai
penutup, agar terjauhkan dari sebab-sebab tersebut hendaklah seseorang
senantiasa melakukan ketaatan dan bertakwa kepada Rabbnya, melakukan apa yang
diperintah-Nya, serta menjauhi larangan-Nya. Bersegera untuk bertobat,
memperbaiki tujuan hidupnya, dan memperbanyak doa meminta husnul
khatimah. Dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu
‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ
أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ
قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa, “Ya Allah, Zat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepadaMu!’” (HR. Muslim, no. 4798).
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
______________________
Penulis: Chrisna Tri Hartadi
Artikel: Muslim.or.id
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar