TAWAZUN
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Selasa 15 Rabi'ul-Akhir 1447 H /7 Oktober 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
1. Pentingnya Tawazun dalam Kehidupan Modern : Antara Produktivitas dan Spiritualitas
Di era modern yang serba cepat dan kompetitif, banyak orang terjebak dalam ritme kerja yang padat hingga lupa menjaga keseimbangan hidup. Tawazun atau keseimbangan menjadi semakin penting agar manusia tidak kehilangan arah antara pencapaian dunia dan kebutuhan spiritualnya.
Produktivitas memang penting dalam Islam. Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Ini menunjukkan bahwa bekerja keras dan berkarya adalah bagian dari ibadah jika diniatkan karena Allah dan dilakukan dengan cara yang halal.
Namun Islam juga mengingatkan bahwa tubuh, pikiran, dan hati memiliki haknya masing-masing. Seseorang yang terlalu fokus pada pekerjaan hingga melalaikan shalat, zikir, atau waktu bersama keluarga sebenarnya sedang melanggar prinsip Tawazun yang mengajarkan agama.
Sebaliknya, mereka yang terlalu larut dalam aktivitas keagamaan namun melupakan tanggung jawab dunia juga perlu diingatkan. Islam tidak mengajarkan kehidupan seperti rahib, tetapi mendorong umatnya untuk terlibat aktif dalam membangun peradaban sambil tetap menjaga hubungan dengan Allah.
Menemukan Tawazun di era digital bisa dimulai dari hal-hal kecil : mengatur waktu kerja dan ibadah, menyediakan waktu untuk refleksi diri, menjaga kesehatan, serta tidak membiarkan ambisi menggerus nilai-nilai spiritual. Ini bukan tugas mudah, tetapi sangat penting untuk kebahagiaan jangka panjang.
Dengan hidup yang seimbang, kita bisa lebih tenang, terarah, dan penuh makna. Produktivitas tanpa spiritualitas akan menguras jiwa, sementara spiritualitas tanpa produktivitas bisa menghilangkan kita dari kontribusi nyata. Tawazun adalah jalan tengah yang menyatukan keduanya dalam harmoni.
2. Tawazun dalam Akhlak : Menjaga Hati dari Ekstremitas dan Kelalaian
Tawazun dalam akhlak berarti menjaga sikap agar tidak terlalu keras namun juga tidak terlalu lunak. Islam sangat menekankan pentingnya keseimbangan dalam berperilaku, agar tidak terjerumus ke dalam sifat ekstrem yang merusak atau kelalaian yang membahayakan.
Misalnya, dalam hal marah. Marah bukan sesuatu yang haram, bahkan dalam beberapa situasi bisa menjadi tanda keberanian dan kepedulian. Namun, jika marah tidak dikendalikan, ia bisa berubah menjadi kebencian yang merusak hubungan dan mencemari hati.
Begitu juga dalam bersikap lembut. Islam sangat menganjurkan kelembutan, namun bukan berarti membiarkan kemungkaran tanpa respon. Ada saatnya kita bersikap tegas, dan ada saatnya kita memberi maaf. Di sinilah letak pentingnya tawazun—mengambil sikap yang tepat di waktu yang tepat.
Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam adalah contoh sempurna dari akhlak yang seimbang. Beliau bisa tersenyum dengan anak kecil, namun juga bisa marah dengan keras ketika melihat pelanggaran berat terhadap ajaran Allah. Beliau tidak terbawa emosi, tetapi juga tidak bersikap dingin dalam menghadapi umatnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada dilema: apakah harus diam atau bersuara, memberi atau menolak, sabar atau menegur. Semua itu membutuhkan kearifan dalam menjaga tawazun, agar tidak salah langkah dan tetap berada dalam jalan tengah.
Tawazun dalam akhlak membantu kita menjadi pribadi yang matang, bijak, dan tidak mudah goyah. Ia menjaga kita dari fanatisme buta maupun sikap permisif yang membahayakan. Inilah inti dari Islam: ummatan wasathan—umat pertengahan yang penuh keseimbangan dan keadilan.
3. Hidup Seimbang ala Rasulullah: Teladan Tawazun dalam Ibadah dan Aktivitas Sosial
Wallahu 'Alam Bishshawab...
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga bermanfaat bagi penulis khususnya dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel Abah Luky
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar