NIKMAT WAKTU DALAM PANDANGAN SEORANG MUSLIM
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku...!
Hari ini Sabtu 25 Jumadil-Ula 1447 H /15 November 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang di Rahmati Allah
Jika
orang-orang barat mengatakan bahwa ‘Time is Money’ atau ‘Waktu adalah
Uang’, maka bagi seorang muslim, waktu lebih mulia dan lebih berharga dari itu.
Bagi seorang muslim “waktu adalah pahala”, waktu adalah rezeki yang Allah
limpahkan kepada kita, waktu adalah kesempatan yang Allah berikan kepada seorang
hamba untuk membekali dirinya dengan ketaatan. Dan seorang hamba tidak akan
menyadari betapa berharganya waktu yang ia miliki dan betapa agungnya nikmat
waktu tersebut, kecuali jika ia telah benar-benar mengetahui terlebih dahulu
hakikat waktu dan kedudukannya di dalam kehidupan ini.
Dalam
artikel kali ini, mari lebih mengenal hakikat waktu yang telah Allah berikan
kepada kita ini, sehingga kita semua semakin bersemangat di dalam
memanfaatkannya dan memaksimalkannya.
Hakikat
waktu bagi seorang muslim
Berbicara
tentang hakikat “waktu”, maka sejatinya ia adalah umur manusia dan masa
hidupnya. Tahun demi tahun, bulan demi bulan, hari demi hari, semuanya
merupakan modal investasi yang Allah Ta’ala berikan kepada
hamba-Nya di kehidupan dunia ini. Mengapa demikian? Karena tidaklah satu hari
berlalu dari kehidupan kita, kecuali umur kita pun ikut berkurang.
Ibnul
Qayyim rahimahullah pernah mengatakan tentang hakikat waktu
ini,
“Waktu
seseorang hakikatnya adalah umur kehidupannya. Dan itu akan menjadi modal serta
kesempatan untuk meraih kehidupan abadinya dalam kebahagiaan abadi, atau
menjadi sebab keberadaannya yang menyedihkan dalam siksa yang pedih.
Dan
waktu berlalu seperti awan. Jika waktunya tersebut dia habiskan untuk Allah dan
di sisi Allah, maka itulah (hakikat) kehidupan yang sebenarnya. Dan jika untuk
selain itu, maka tidak dihitung sebagai bagian dari hidupnya, sekalipun dia
menjalani kehidupannya seperti hewan ternak (hanya makan, minum, dan tidur
saja).
Dan
jika dia habiskan waktunya untuk melakukan sesuatu yang sia-sia dan melalaikan
serta dipenuhi dengan harapan-harapan palsu, dan cara terbaik yang bisa dia
lakukan untuk melewatinya hanyalah dengan tidur dan bermalas-malasan saja, maka
matinya orang tersebut lebih baik dari pada hidupnya.” (Al-Jawab Al-Kafi)
Ketahuilah,
bahwa waktu kosong dan senggang yang sering kita rasakan, pada kenyataannya
adalah kesempatan yang bisa saja diisi dengan kebaikan ataupun keburukan.
Disadari ataupun tidak, tidak ada satu momen pun yang berlalu dalam hidup kita,
kecuali pasti ada aktifitas dan kesibukan yang kita kerjakan. Maka dari itu,
berusahalah untuk menjadikan waktu yang kita miliki sebagai tabungan dan
investasi amal kebaikan yang akan menjadi bekal kita ketika bertemu dengan
Allah Ta’ala.
Waktu:
Nikmat yang harus dipertanggungjawabkan
Umur
yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, siang dan malam yang
silih berganti datang kepada kita, nyawa yang terkandung dalam badan kita,
semua itu sejatinya adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada
kita. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَسَخَّرَ
لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
* وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا
“Dan
Dia telah menundukkan matahari dan bulan bagimu yang terus-menerus beredar
(dalam orbitnya), dan telah menundukkan malam dan siang bagimu. Dan Dia telah memberikan
kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung
nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS.
Ibrahim: 33-34)
Allah Ta’ala juga
berfirman,
وَهُوَ
الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ
أَرَادَ شُكُورًا
“Dan
Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin
mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan: 62)
Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
نِعْمَتانِ مَغْبُونٌ فِيهِما كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ والفَراغُ
“Dua
kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan
dan waktu luang.” (HR.
Bukhari no. 6412)
Layaknya
kenikmatan lainnya yang wajib disyukuri dan dipertanggungjawabkan oleh seorang
hamba, nikmat waktu dan umur juga harus disyukuri dan akan Allah mintai
pertanggungjawabannya di akhirat nanti. Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam pernah bersabda,
لا
تَزولُ قَدَمَا عبدٍ حتى يُسأَلَ عن عُمُرِه فيمَ أفناهُ؟ وعن
عِلمِه فيمَ فَعَلَ فيه؟ وعن مالِهِ من أين اكتسَبَهُ؟ وفيم أنفَقَهُ؟ وعن
جِسمِه فيمَ أبلاهُ
“Dua kaki seorang hamba tidak akan bergerak (pada hari kiamat) sehingga dia ditanya tentang umurnya, kemana dihabiskan; tentang ilmunya, apakah yang telah dilakukan dengannya; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan; dan tentang badannya, untuk apa digunakan.” (HR. Tirmidzi no. 2417, Ad-Darimi no. 537, dan Abu Ya’la no. 7434)
Waktu
adalah pahala bagi seorang muslim
Dalam
agama Islam, waktu memiliki kedudukan yang sangat penting dan tidak dibiarkan
berlalu begitu saja. Tidaklah seorang hamba melewati sebuah hari, jam demi jam,
menit demi menit, kecuali di dalamnya terdapat peluang untuk mendapatkan pahala
dari Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala telah
mengatur waktu seorang muslim dengan sedemikian rupa. Dari ia bangun tidur di
pagi hari hingga ia tidur kembali, ada ibadah dan amal saleh yang bisa
diamalkan dan dipraktikkan setiap detiknya. Saat seorang hamba bangun tidur,
lalu mengambil air wudu dan melaksanakan salat dua rakaat, maka ia mendapatkan
pahala yang lebih baik dari dunia dan seisinya. Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
رَكْعَتَا
الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua rakaat fajar
(salat sunah qabliyah subuh) lebih baik daripada dunia dan
seisinya.” (HR.
Muslim no. 725)
Jika
keutamaan salat sunah fajar saja demikian besarnya, lalu bagaimana dengan
keutamaan salat Subuh itu sendiri?!
Saat
matahari telah beranjak naik, seorang ayah keluar untuk mencari nafkah bagi
keluarganya, maka ini juga bernilai pahala baginya apabila diniatkan ikhlas
mengharap rida Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam pernah bersabda,
دِينَارٌ
أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ
تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا
أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
“Satu
dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau
keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau
keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau
nafkahkan untuk keluargamu, maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan
yang disebutkan tadi).” (HR.
Muslim no. 995)
Di
siang hari saat ia makan siang, lalu bersyukur kepada Allah Ta’ala atas
nikmat yang telah diberikan kepadanya, maka ini juga bernilai pahala baginya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,
الطاعمُ
الشَّاكرُ بمنزلةِ الصائمِ الصابرِ
“Orang
makan yang bersyukur, kedudukannya seperti halnya orang berpuasa yang
bersabar.” (HR.
At-Tirmidzi no. 2486, Ibnu Majah no. 1764, dan Ahmad no. 7793)
Belum
lagi salat lima waktu yang dikerjakannya, zikir-zikir yang dilantunkannya,
perbuatan baik dan budi pekerti mulia yang menghiasi dirinya, semua itu jika
dijalankan dengan niat menaati Allah dan Rasulnya, maka juga dinilai sebagai
ibadah oleh Allah Taala.
Jangan
menunda-nunda dalam beramal!
Seorang
mukmin harus memanfaatkan seluruh waktu dan umur yang dimilikinya untuk
melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Tidak menunggu esok hari
untuk melakukan sebuah ketaatan dan amal saleh. Allah Ta’ala juga
memerintahkan kita untuk memaksimalkan waktu yang kita miliki dan tidak
menunda-nunda dalam berbuat baik. Allah Ta’ala berfirman,
فَإِذَا
فَرَغْتَ فَٱنصَبْ
“Maka,
apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. Al-Insyirah: 7)
Lihatlah
juga bagaimana para pendahulu kita di dalam mengatur dan memaksimalkan waktu
yang mereka miliki. Abdullah
bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sahabat Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam pernah mengatakan,
مَا
نَدِمْتُ عَلَى شَيْئٍ نَدْمِي عَلَى يَوْمٍ غَرَبَتْ شَمْسُهُ نَقَصَ فِيْهِ أَجَلِيْ
وَلَمْ يَزِدْ فِيْهِ عَمَلِيْ
“Aku
tidak pernah memiliki penyesalan yang demikian mendalam dibandingkan dengan
penyesalanku akan berlalunya satu hari yang amalku tidak bertambah pada hari
itu, padahal ajalku semakin berkurang.” (Qimah Az-Zaman ‘Inda Al-Ulama, hal. 47)
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam
kitabnya “Madariju As-Salikin” menyebutkan perkataan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah,
صحبتُ
الصُّوفيّة، فما انتفعتُ منهم إلّا بكلمتين. سمعتهم يقولون: الوقت سَيفٌ، فإن قطعتَه
وإلّا قطَعَك. ونفسك إن لم تَشْغَلْها بالحقِّ شَغَلَتْك بالباطل
“Aku berteman dengan kaum sufi. Namun, aku tidak mendapatkan manfaat darinya, kecuali dua kata yang aku dengar darinya. Mereka mengatakan, ‘Waktu adalah pedang. Oleh karena itu, kamu harus menggunakannya dan memanfaatkannya. Jika tidak, maka ia yang justru akan memotong kamu dan dirimu. Dan jiwamu, jika kamu tidak sibukkan untuk kebaikan, maka ia justru yang akan disibukkan untuk kebatilan.” (Madariju As-Salikin, 3:546)
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Semoga bermanfaat
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Artikel: Muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/88853-nikmat-waktu-dalam-pandangan-seorang-muslim.html
-------------NB------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber: https://muslim.or.id/88853-nikmat-waktu-dalam-pandangan-seorang-muslim.html
Penulis : Abah Luki & Ndik
#NgajiBareng
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel Abah Luky
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar