NABI IBRAHIM : TELADAN KETAUHIDAN SEPANJANG ZAMAN
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Selasa 28 Jumadil-Ula 1447 H /18 November 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Dalam sejarah kenabian, sosok Nabi Ibrahim Alaihi Sallam menempati posisi yang sangat istimewa. Ia bukan hanya dikenal sebagai bapak para nabi, tetapi juga sebagai ikon ketauhidan yang pengaruhnya melintasi zaman dan generasi. Kisah hidupnya merupakan representasi dari perjuangan melawan kesyirikan dan kebatilan, serta keteguhan dalam mempertahankan iman kepada Allah SubhanahuWaTa’ala, meski harus berhadapan dengan penolakan dari keluarga, masyarakat, bahkan penguasa.
Nabi Ibrahim hidup di tengah masyarakat Babilonia yang menyembah berhala dan bintang-bintang. Sejak usia muda, ia telah menunjukkan kecerdasan spiritual yang luar biasa. Ia mulai mempertanyakan keberadaan patung-patung yang disembah oleh ayah dan kaumnya. Dalam QS. Al-An’am ayat 76–79, Ibrahim melakukan perenungan mendalam atas bulan, matahari, dan bintang. Ketika semuanya tenggelam, ia menyatakan bahwa ia tidak menyukai yang tenggelam dan akhirnya menetapkan bahwa Allah-lah satu-satunya Tuhan yang patut disembah.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman QS. Al-An’am ayat 76–79
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ
فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Ayat 76 : “Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam” (Q.S Al-An’am 76)
Ayat 77 :“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat” (Q.S Al-An’am 77)
Ayat 78 :“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan” (Q.S Al-An’am 78)
Ayat 79 :“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (Q.S Al-An’am 79)
Penolakan terhadap budaya syirik di sekelilingnya membuat Ibrahim mengalami tekanan dari kaumnya. Ia bahkan dikucilkan oleh ayahnya sendiri, Azar, yang merupakan pembuat patung. Namun Ibrahim tidak goyah. Ia tetap berdakwah dengan lembut, argumentatif, dan penuh keyakinan. Salah satu momen paling dramatis adalah ketika ia menghancurkan berhala-berhala di kuil kaumnya, lalu menyisakan yang terbesar. Ketika ditanya siapa pelakunya, Ibrahim berkata, “Tanyakan saja kepada berhala besar itu,”—sebuah strategi dakwah yang menyentuh logika, bukan hanya emosi.
Akibat aksinya itu, Ibrahim dijatuhi hukuman dibakar hidup-hidup. Namun Allah menunjukkan kuasa-Nya dengan menjadikan api dingin dan menyelamatkan Ibrahim. Peristiwa ini menunjukkan bahwa keteguhan dalam iman akan selalu dilindungi oleh Allah, dan bahwa mukjizat hadir kepada hamba-hamba pilihan-Nya.
Perjuangan Nabi Ibrahim tidak berhenti sampai di situ. Ia terus berdakwah, bermigrasi ke negeri Syam, Mesir, hingga akhirnya tiba di Makkah bersama Hajar dan Ismail. Di tanah yang tandus dan sepi itu, Ibrahim menunjukkan kepasrahan luar biasa atas perintah Allah—yang kelak akan menjadi awal dari hadirnya pusat peradaban Islam, yaitu Ka’bah.
Kisah hidup Nabi Ibrahim menjadi warisan spiritual yang sangat dalam. Ketauhidan yang diajarkannya bukan sekadar keyakinan dalam hati, tetapi juga keteguhan dalam sikap dan pengorbanan dalam tindakan. Dari sinilah kita belajar bahwa menjadi seorang muslim yang bertauhid harus berani berbeda, siap diuji, dan tetap istiqamah dalam perjuangan menegakkan kebenaran.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Artikel Abah Luky
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar