MENGAPA KECERDASAN SEMATA BUKANLAH TOLOK UKUR KESUKSESAN?
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Kamis 13 Jumadil-Akhirah 1447 H /4 Desember 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Kecerdasan
intelektual (IQ) kerap dianggap sebagai tolok ukur kesuksesan. Namun, sejarah
Islam mengajarkan bahwa kecerdasan tanpa iman dan tauhid justru menjadi
bumerang yang menghancurkan.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَكْثَرُ
النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ َ
Artinya
: “Dan meskipun kamu sangat ingin (agar mereka beriman), kebanyakan manusia
tidak akan beriman.” (QS. Yusuf: 103)
Banyak
orang cerdas dan berilmu justru menolak kebenaran. Kisah para pembesar (Al-Mala’) yang
menentang dakwah Nabi Nuh, Hud, Saleh, hingga Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam menjadi bukti nyata. Artikel ini akan mengurai
mengapa tauhid —bukan sekadar kecerdasan— menjadi kunci keselamatan dunia dan
akhirat.
Ilmu
sejati adalah yang melahirkan ketakwaan, bukan kesombongan. Banyak orang cerdas
yang justru terjebak dalam sikap angkuh, merasa bahwa ilmu mereka cukup untuk
menafikan wahyu.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا
يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Artinya
: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah
para ulama (yang berilmu).” (QS. Fathir: 28)
Contohnya,
kaum musyrikin Quraisy yang menentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang pandai dalam sastra dan
strategi, tetapi kecerdasan mereka justru menjadi penghalang untuk menerima
kebenaran. Oleh karena itu, kecerdasan harus selalu diiringi dengan kerendahan
hati dan kesadaran akan keterbatasan diri sebagai makhluk.
Pondasi
yang menyelamatkan
Orang
yang bertauhid akan merasa aman karena meyakini bahwa segala urusan berada di
tangan Allah. Mereka tidak mudah terombang-ambing oleh kegelisahan duniawi,
karena tauhid mengajarkan untuk bersandar hanya kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدُوا
اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Artinya
: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu
apapun.” (QS. An-Nisa’: 36)
Dalam
ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ
آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ
مُهْتَدُونَ
Artinya
: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan
kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka
itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)
Kecerdasan
tanpa tauhid ibarat kapal tanpa nahkoda: mungkin bergerak cepat, tetapi mudah
terhempas ke jurang kesesatan. Sebaliknya, tauhid mengarahkan kecerdasan untuk
mengenal hakikat penciptaan dan menjauhi kesombongan intelektual. Kecerdasan
duniawi tidak akan berguna jika seseorang mati dalam keadaan syirik.
Sebaliknya, tauhid yang murni akan menjadi penyelamat, meskipun seseorang tidak
memiliki banyak ilmu atau harta.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ مَاتَ
وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Artinya
: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada ilah
(sesembahan) yang berhak disembah selain Allah, maka dia akan masuk surga.” (HR.
Muslim no. 145)
Mengapa
kecerdasan saja tidak cukup?
Kecerdasan
sering dianggap sebagai kunci kesuksesan. Akan tetapi dalam Islam, kecerdasan
tanpa iman justru bisa menjadi jerat yang berbahaya. Orang cerdas cenderung
mengandalkan logika dan akal semata, sehingga meragukan wahyu dan petunjuk dari
Allah Ta’ala.
Padahal,
Allah Ta’ala telah mengingatkan dalam Al-Qur’an,
إِنَّمَا
يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء
Artinya
: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah
para ulama (yang berilmu).” (QS. Fathir: 28)
Ilmu
sejati bukanlah yang membuat seseorang sombong, melainkan yang menumbuhkan
ketakwaan dan kerendahan hati di hadapan Allah. Namun, kecerdasan juga bisa
menyesatkan ketika seseorang terlalu mengikuti arus mayoritas.
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنْ
تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّه
Artinya
: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan
menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)
Lebih
berbahaya lagi, setan sering kali menghiasi kesyirikan dengan kedok
“kecerdasan” dan “rasionalitas”. Syekh
Abdurrazzaq Al-Badr dalam kitab “براهن التوحيد” (Bukti-Bukti
Tauhid) menjelaskan bahwa setan menipu manusia dengan mengemas syirik dalam
bentuk pemikiran filosofis yang terlihat logis. Misalnya, pengkultusan terhadap
orang saleh dianggap sebagai bentuk penghormatan, padahal itu adalah kesyirikan
yang merusak tauhid.
Oleh
karenanya, kecerdasan harus diimbangi dengan pemahaman tauhid yang benar. Tanpa
tauhid, kecerdasan hanya akan menjadi alat kesombongan dan kesesatan.
Sebaliknya, kecerdasan yang dipandu oleh tauhid akan membawa manusia kepada
kebenaran, ketenangan, dan keselamatan dunia akhirat.
Simpel,
tetapi menyelamatkan
Tauhid
adalah konsep yang mudah dipahami, bahkan oleh orang awam sekalipun. Al-Qur’an
menjelaskan tauhid dengan sangat jelas dan gamblang, seperti dalam Ayat Kursi
(QS. Al-Baqarah: 255), yang menegaskan keesaan Allah dalam kekuasaan, ilmu, dan
kehidupan. Tidak perlu menjadi ulama atau ahli agama untuk memahami tauhid,
karena tauhid adalah fitrah yang telah Allah tanamkan dalam hati setiap
manusia. Setiap anak yang lahir sudah membawa fitrah ini, dan tugas kita adalah
menjaga serta mengembangkannya.
Selain
mudah dipahami, tauhid juga menjadi benteng yang melindungi kita dari
kesesatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بُنِيَ
اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Artinya
: “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah
(sesembahan) yang berhak disembah selain Allah…” (HR. Bukhari no. 8;
Muslim no. 16)
Pondasi
tauhid ini menjauhkan kita dari penyimpangan akidah, seperti syirik, bidah, dan
khurafat. Bahkan orang yang tidak memiliki latar belakang ilmu filsafat atau
teologi yang mendalam bisa terjaga akidahnya selama ia memegang teguh prinsip
tauhid.
Tauhid
tidak hanya melindungi, tetapi juga mengarahkan kecerdasan kita untuk kebaikan.
Dalam kitab Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata,
العلم ما
نفع، ليس العلم ما حُفِظ
Aerinya : “Ilmu
bukanlah yang dihafal, tetapi yang memberi manfaat.”
Seorang muslim yang cerdas dan bertauhid akan menggunakan ilmunya untuk memperjuangkan kebenaran, menegakkan keadilan, dan menyebarkan kebaikan. Marilah kita senantiasa memurnikan niat dan mengarahkan segala potensi kita hanya untuk mencari keridaan-Nya.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel Muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel Muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar