KEWAJIBAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA
Oleh : Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Rabu 27 Syawal 1447 H /15 April 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Cara
berbakti kepada kedua orang tua, ialah dengan mencurahkan kebaikan, baik dengan
perkataan, perbuatan, ataupun harta.
Berbuat
baik dengan perkataan, yaitu kita bertutur kata kepada keduanya dengan lemah
lembut, menggunakan kata-kata yang baik dan menunjukan kelembutan serta
penghormatan.
Berbuat
baik dengan perbuatan, yaitu melayani keduanya dengan tenaga yang mampu kita
lakukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, membantu dan mempermudah
urusan-urusan keduanya. Tentu, tanpa membahayakan agama ataupun dunia kita.
Allah Mahamengetahui segala hal yang sekiranya membahayakan. Sehingga kita
jangan berpura-pura mengatakan sesuatu itu berbahaya bagi diri kita padahal
tidak, sehingga kitapun berbuat durhaka kepada keduanya dalam hal itu.
Berbuat
baik dengan harta, yaitu dengan memberikan setiap yang kita miliki untuk
memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh keduanya, berbuat baik, berlapang dada
dan tidak mengungkit-ungkit pemberian sehingga menyakiti perasaan ibu bapak.
Berbakti
kepada kedua orang tua tidak hanya dilakukan tatkala keduanya masih hidup.
Namun tetap dilakukan manakala keduanya telah meninggal dunia. Ada sebuah
kisah, yaitu seseorang dari Bani Salamah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Ia bertanya:
يَا رَسُولَ
اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا
قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا
مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ
صَدِيقِهِمَا
“Wahai
Rasulullah, apakah masih ada cara berbakti kepada kedua orang tuaku setelah
keduanya meninggal?” Beliau menjawab,”Ya, dengan mendoakannya, memintakan ampun
untuknya, melaksanakan janjinya (wasiat), menyambung silaturahmi yang tidak
bisa disambung kecuali melalui jalan mereka berdua, dan memuliakan
teman-temannya“. [HR Abu Dawud].
Allâhu
Akbar! betapa luas cakupan berbakti kepada kedua orang tua, bahkan termasuk di
dalamnya keharusan memuliakan dan menyambung silaturahmi kepada teman kerabat.
Disebutkan
dalam kitab Shahîh Muslim, dari ‘Abdullâh bin ‘Umar bin Khatthâb Radhiyallahu
‘anhu : “Suatu hari beliau Radhiyallahu ‘anhu berjalan di kota Makkah dengan
mengendarai keledai yang biasa beliau Radhiyallahu ‘anhu gunakan bersantai jika
bosan mengendarai unta. Lalu di dekat beliau lewatlah seorang Arab Badui.
Lantas ‘Abdullah bin ‘Umar pun bertanya kepadanya:”Benarkah engkau Fulan bin
Fulan?” Ia menjawab,”Ya,” kemudian ‘Abdullah bin ‘Umar memberikan keledainya
kepada orang itu sambil berkata,”Naikilah keledai ini.” Beliau juga memberikan
sorban yang mengikat di kepalanya seraya berkata,”Ikatlah kepalamu dengan
sorban ini,” maka sebagian sahabatnya berkata,”Semoga Allah mengampunimu.
Mengapa engkau memberikan keledai kendaraan santaimu dan sorban ikat kepalamu
kepada orang itu?” Maka ‘Ibnu ‘Umar menjawab: ”Orang ini, dahulu adalah teman
‘Umar (bapakku), dan aku pernah mendengar Rasulullah berkata,’Sesungguhnya
bakti yang terbaik, ialah tetap menyambung hubungan keluarga ayahnya”.
Adapun
balasan berbakti ini ialah pahala yang besar saat di dunia maupun akhirat.
Barang siapa yang berbakti kepada orangtuanya, maka kelak anak-anaknya juga
akan berbakti kepadanya, serta memberikan jalan keluar dari kesusahannya.
Dalam
kitab Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu
‘anhu disebutkan tentang kisah tiga orang yang ingin bermalam di gua, lalu
merekapun masuk ke dalamnya. Begitu sampai di dalam gua, tiba-tiba sebongkah
batu besar jatuh dan menutup mulut gua tersebut.
Merekapun
kemudian bertawasul kepada Allah dengan amal-amal shalih yang pernah dikerjakan
supaya mereka bisa keluar. Salah seorang dari mereka berkata:
Ya
Allah, sesungguhnya aku mempunyai bapak dan ibu yang sudah sangat tua. Aku
tidak pernah memberikan susu kepada keluarga maupun budakku sebelum mereka
berdua.
Suatu
hari, aku pergi jauh untuk mencari pohon dan belum kembali kepada mereka hingga
mereka pun tertidur. Akupun memerah susu untuk mereka. Setelah selesai,
ternyata aku mendapatkan mereka berdua telah tertidur. Aku tidak ingin
membangunkannya dan tidak memberikan susu kepada keluarga maupun untukku
sendiri. Aku terus menunggu mereka sambil membawa mangkuk susu di tanganku
hingga terbit fajar. Mereka pun bangun dan meminum susu perahanku.
Ya
Allah, sekiranya aku melakukan itu semua karena-Mu, maka bukakanlah batu yang
telah menutupi kami ini.
Maka
batu itupun bergeser sedikit. Kemudian demikian pula yang lainnya berdoa,
bertawasul dengan amalan shalih yang pernah mereka kerjakan. Akhirnya, batu
itupun bergeser sehingga gua terbuka dan mereka dapat keluar, kemudian kembali
melanjutkan perjalanan.
Ketahuilah,
berbakti kepada orang tua juga akan mendatangkan keluasan rizki, panjang umur
dan khusnul khatimah.
Diriwayatkan
dari Sahabat ‘Ali bin Abi Thâlib bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: “Barang siapa yang senang apabila dipanjangkan umurnya,
diluaskan rizkinya dan dihindarkan dari sû`ul khatimah, maka hendaklah ia
bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.” Dan sesungguhnya, berbakti
kepada orang tua merupakan wujud silaturahmi yang paling mulia, karena orang
tua memiliki hubungan kekerabatan yang paling dekat dengan kita.
Seorang
mukmin yang berakal, sungguh sangat tidak pantas berbuat durhaka dan memutuskan
hubungan dengan kedua orang tua, padahal ia mengetahui keutamaan berbakti
kepadanya, dan balasannya yang mulia di dunia maupun di akhirat. Larangan ini
sangat besar.
Apabila
telah mencapai usia lanjut, kedua orang tua akan mengalami kelemahan badan
maupun pikiran. Bahkan keduanya bisa mengalami kondisi yang serba menyusahkan,
sehingga menyebabkan seseorang mudah menggertak atau bersikap malas untuk
melayaninya. Dalam keadaan demikian, Allah melarang setiap anak membentak,
meskipun dengan ungkapan yang paling ringan. Tetapi Allah memerintahkan si anak
supaya bertutur kata yang baik, merendahkan diri dalam perkataan maupun
perbuatan di hadapan keduanya. Sebagaimana sikap seorang pembantu di hadapan
majikannya. Demikian pula, Allah memerintahkan si anak supaya mendoakan
keduanya, semoga Allah mengasihi keduanya sebagaimana keduanya telah mengasihi
dan merawat si anak tatkala masih kecil.
Sang
ibu rela berjaga saat malam hari demi menidurkan anaknya. Iapun rela menahan
rasa letih supaya si anak bisa beristirahat dengan cukup. Adapun bapaknya, ia
berusaha sekuat tenaga mencari nafkah. Letih pikirannya, letih pula badannya.
Semua itu, tidak lain ialah untuk memberi makan dan mencukupi kebutuhan si
anak. Sehingga sepantasnya bagi si anak untuk berbakti kepada keduanya sebagai
balasan atas kebaikannya.
Dalam
kitab shahîhain disebutkan dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seorang laki-laki
bertanya kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling
berhak aku pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab,”Ibumu.” Orang itu
bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab: “Ibumu.” Orang itu mengulangi pertanyaannya: “Kemudian siapa lagi?”
Nabi pun kembali mengulangi jawabanya: “Ibumu.” Iapun kemudian mengulangi
pertanyaanya untuk yang ke empat kalinya: “Kemudian siapa?” Rasulullah
menjawab: “Bapakmu.”
Semoga Allah memberikan taufik-Nya, sehingga memudahkan kita untuk berbakti kepada ibu bapak. Dan semoga Allah memberi karunia kepada kita keikhlasan dalam melaksanakannya. Sesunggunya Dia-lah Dzat yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Pustaka
(Diringkas
oleh Ustadz Abu Sauda` Eko Mas`uri, dari ad-Dhiyâ-ul Lâmi’, Syaikh Muhammad bin
Shâlih al-‘Utsaimîn, hlm. 501-504)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 109/Tahun XI/1428H/2008 (Rubrik Khutbah Jum’at). Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar