TELADAN KEJUJURAN DALAM BERDAGANG
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Ahad 9 Dzulqaidah 1447 H /26 April 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Islam
memandang pedagang yang jujur sebagai sosok yang sangat mulia. Kemuliaan ini
tidak hanya berasal dari profesinya sebagai pedagang, salah satu pekerjaan
mulia dalam Islam, tetapi juga dari sifat jujur yang ia miliki.
Pedagang
yang jujur menyandang dua kemuliaan sekaligus. Bahkan, tidak cukup itu.
Kejujuran dalam berdagang ini memiliki nilai khusus dibandingkan dengan
kejujuran yang lainnya. Rasulullah SAW bersabda:
التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
Artinya:
“Pedagang yang jujur dan terpercaya kelak akan bersama para nabi, para
shiddiqin, dan para syuhada.” (HR Imam Tirmidzi).
Maksud
dari sabda Nabi tersebut adalah bahwa pedagang yang senantiasa menjaga
kejujuran akan mendapatkan kedudukan mulia dan dikumpulkan bersama
golongan-golongan tersebut.
يحشر يوم
القيامة مع النبيين والصديقين والشهداء
Artinya:
“Akan dikumpulkan kelak di hari kiamat bersama para nabi, para shiddiqin,
dan para syuhada.” (Syekh Zainuddin Al-Munawi, Faydhul Qadir, [Mesir,
Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra, 1356 H], jilid III, hlm. 278).
Sementara
itu, Syekh Muhammad Abdurrahman dalam Tuhfatul Ahwadzi mengutip perkataan Imam
ath-Thayyibi dalam memaknai hadits di atas:
مَنْ تَحَرَّى الصِّدْقَ وَالْأَمَانَةَ كَانَ فِي
زُمْرَةِ الأبراء مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَمَنْ تَوَخَّى خِلَافَهُمَا
كَانَ فِي قَرْنِ الْفُجَّارِ مِنَ الْفَسَقَةِ وَالْعَاصِينَ قَالَهُ الطِّيبِيُّ
Artinya:
“Siapa saja yang menjaga kejujuran dan amanah (dalam berdagang), niscaya ia
akan ada di golongan orang-orang bagus dari para nabi dan shiddiqin. Siapa saja
yang berniat sebaliknya, niscaya ia akan ada di golongan orang-orang bejat dari
para fasik dan para pemaksiat, sebagaimana perkataan Imam at-Thayybi.”
(Syekh Muhammad Abdurrahman, Tuhfatul Ahwadzi, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah,
1353 H], jilid IV, 335).
Selain
itu, menurut menurut Ali bin Ibrahim, kejujuran dalam berdagang merupakan salah
satu penyebab dagangan kita bernilai berkah. Ia mengatakan:
وفيه: أنَّ الصدق سبب البركة، والكذب سبب لمحقها
Artinya:
"Hadits itu menjadi dalil bahwa kejujuran (berniaga) penyebab
keberkahan dan kedustaan penyebab hilangnya berkah." (Imam Ali bin
Ibrahim, Al-'Uddah fi Syarhil 'Umdah, [Beirut: Darul Basya'ir Al-Islamiyah,
2006], jilid II, 1091).
Berkaitan
dengan hadits, terdapat kisah menarik tentang kejujuran dalam berdagang yang
patut untuk kita contoh. Kisah ini dipotret oleh Syekh Muhammad bin Abdullah
bin Abdul Lathif al-Jurdani dalam Al-Jawahirul Lu'lu'iyyah fi Syarhil Arba'in
An-Nawawiyyah, [Arab Saudi: Darul Minhaj, 2022], hal. 179—180.
Berikut
kisahnya. Ada ulama salaf bernama Yunus bin Ubaid. Ia memiliki toko.
Dagangannya adalah berbagai macam pakian. Harganya pun bervariasi. Dikatakan
dalam kisah tersebut, dari berbagai macam baju itu ada dua variasi harga, (1)
harga 200 dirham, dan (2) harga 400 dirham.
Suatu
hari, Yunus bin Ubaid menitipkan tokonya kepada anak saudaranya karena hendak
melaksanakan shalat terlebih dahulu. Ketika toko itu dijaga oleh keponakannya,
datanglah seorang pembeli yang meminta pakaian seharga 400 dirham.
Keponakannya
kemudian menyodorkan satu jenis pakaian yang sebenarnya bernilai 200 dirham.
Pembeli tersebut menyukainya, lalu terjadilah transaksi dengan kesepakatan
harga 400 dirham. Setelah selesai berbelanja, pembeli itu berjalan pulang
sambil membawa pakaian yang baru dibelinya.
Dalam
perjalanan, ia berpapasan dengan Yunus bin Ubaid yang baru selesai menunaikan
shalat. Yunus bin Ubaid mengenali pakaian yang dibawa pembeli tersebut sebagai
barang dari tokonya. Ia pun bertanya, “Berapa harga pakaian yang kamu beli
ini?” “400 dirham,” jawab pembeli itu.
Yunus
bin Ubaid lalu berkata, “Pakaian itu harganya tidak lebih dari 200 dirham. Mari
kembali, kita kembalikan kelebihannya.” Pembeli itu menimpali, “Di daerah saya,
harga pakaian seperti ini mencapai 500 dirham. Jadi tidak apa-apa, saya rela.”
Namun, Yunus bin Ubaid tetap bersikeras mengajak pembeli itu kembali ke
tokonya.
Ia
berkata, “Kembalilah. Sesungguhnya nasihat dalam agama lebih baik daripada
dunia dan segala isinya.” Akhirnya, Yunus bin Ubaid dan pembeli itu kembali ke
toko. Yunus pun mengembalikan 200 dirham, yaitu kelebihan harga yang sebelumnya
dibayarkan kepada keponakannya.
Setelah
itu, Yunus bin Ubaid menegur keponakannya dengan nada bertanya yang menunjukkan
ketegasan, “Apakah kamu tidak malu? Apakah kamu tidak bertakwa? Kamu mengambil
keuntungan seratus persen, tetapi tidak memberikan nasihat dan penjelasan yang
jujur kepada sesama Muslim.” Keponakannya pun membela diri, “Demi Allah, saya
tidak mengambilnya kecuali dengan kerelaan pembeli pada harga tersebut.”
Di
akhir percakapan, Yunus bin Ubaid menasihatinya dengan kalimat singkat namun
sangat mengena, “Lalu mengapa kamu tidak merelakannya untuk pembeli itu
sebagaimana kamu merelakannya untuk dirimu sendiri?” Kalimat ini menjadi
nasihat mendalam agar setiap orang memperlakukan orang lain sebagaimana ia
ingin diperlakukan dirinya sendiri.
Dari
hadits di atas dan kisah ini kita bisa mengambil ibrah penting dalam berniaga,
berbisnis, dan transaksi dagang lainnya bahwa menjaga kejujuran dan amanah
wajib kita lakukan.
Musabab, kemuliaan dan keberkahan berdagang ada di sebuah kejujuran. Kita bisa melihat bagaimana kejujuran menjadi prioritas pertama ulama-ulama salaf dalam melakukan perniagaan. Kejujuran inilah yang patut kita tiru, amalkan, serta kita dengungkan di tengah masyarakat.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
Sumber: https://islam.nu.or.id/
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Kolomnis: Syifaul Qulub Amin
Sumber: https://islam.nu.or.id/
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar