BAKTIMU, KEPADA ORANG TUA !

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Senin 3 Dzulqaidah 1447 H /20 April 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Surat
Dari Ibu yang Terkoyak Hatinya
Anakku…, ini surat dari ibu yang tersayat
hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini.
Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau
boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku
sebelumnya.
Sejak
dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami
makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan
fisik.
Sembilan
bulan aku mengandungmu. Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena
kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagianku. Kesengsaraan yang
tiada hentinya, bahkan kematian kulihat di depan mataku saat aku melahirkanmu.
Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami.
Berikutnya,
aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu.
Kegelisahanku demi kebaikanmu. Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan
permintaanmu kepada ibu untuk membuatkan sesuatu.
Masa
remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat. Aku pun berikhtiar
untuk mencarikan gadis yang ingin mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat
engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran
engkau menempuh hidup baru.
Seiring
perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak-ku telah
terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu
tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai
persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku.
Ibu
sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut
tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah
melakukan gerakan.
Anakku…, seandainya ada yang berbuat baik
kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara ibu telah
sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada
ibu? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada ibu?
Ibu
bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi
ibu? Baiklah, anggap ibu sebagai pembantu, mana upah ibu selama ini? Anakku,
ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh
untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka
dan kesedihan? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di
atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain.
Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan
menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati
melakukannya. Anakku, bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan
dan cahaya duniaku.
Anakku…, perjalanan tahun akan menumbuhkan uban
di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya,
engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti
yang ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang
yang menggugat. Anakku, takutlah kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada ibu.
Sekalah airmataku, ringankanlah beban kesedihanku. Terserahlah kepadamu jika
engkau ingin merobek-robek surat ini. Ketahuilah, barangsiapa beramal shalih
maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat jelek, maka itu (juga)
menjadi tanggungannya sendiri.
Anakku…, ingatlah saat engkau berada di
perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menegangkan. Ibu merasa dalam
kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa ibu. Ingatlah saat
engkau menyusui. Ingatlah belaian sayang dan kelelahan ibu saat engkau sakit.
Ingatlah… ingatlah…. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dengan
wasiat:
رَبِّ ارْحَمْهُمَا
كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Wahai,
Rabb-ku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil”.[Al-Isra/17:
24]
Anakku, Allah Subahanhu wa Ta’ala berfirman
لَقَدْ
كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
Dan
dalam kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal. [Yusuf/12: 111].
Pandanglah
masa teladan dalam Islam, masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih
hidup, supaya engkau memperoleh potret bakti anak kepada orang tua.
Sahabat
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu sempat gelisah karena ibunya masih dalam jeratan
kekufuran. Dalam Shahih Muslim disebutkan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu,
ia bercerita:
كُنْتُ
أَدْعُو أُمِّي إِلَى الْإِسْلَامِ وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فَدَعَوْتُهَا يَوْمًا فَأَسْمَعَتْنِي
فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَكْرَهُ فَأَتَيْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
إِنِّي كُنْتُ أَدْعُو أُمِّي إِلَى الْإِسْلَامِ فَتَأْبَى عَلَيَّ فَدَعَوْتُهَا
الْيَوْمَ فَأَسْمَعَتْنِي فِيكَ مَا أَكْرَهُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَهْدِيَ أُمَّ
أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ
اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ فَخَرَجْتُ مُسْتَبْشِرًا بِدَعْوَةِ نَبِيِّ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا جِئْتُ فَصِرْتُ إِلَى الْبَابِ فَإِذَا
هُوَ مُجَافٌ فَسَمِعَتْ أُمِّي خَشْفَ قَدَمَيَّ فَقَالَتْ مَكَانَكَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ
وَسَمِعْتُ خَضْخَضَةَ الْمَاءِ قَالَ فَاغْتَسَلَتْ وَلَبِسَتْ دِرْعَهَا وَعَجِلَتْ
عَنْ خِمَارِهَا فَفَتَحَتْ الْبَابَ ثُمَّ قَالَتْ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
قَالَ فَرَجَعْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ
وَأَنَا أَبْكِي مِنْ الْفَرَحِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَبْشِرْ قَدْ اسْتَجَابَ
اللَّهُ دَعْوَتَكَ وَهَدَى أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ
وَقَالَ خَيْرًا
Aku
mendakwahi ibuku agar masuk Islam. Suatu hari aku mengajaknya untuk masuk
Islam, tetapi dia malah mengeluarkan pernyataan tentang Nabi yang aku benci.
Aku (pun) menemui Rasulullah dalam keadaan menangis. Aku mengadu: “Wahai
Rasulullah, aku telah membujuk ibuku untuk masuk Islam, namun dia menolakku.
Hari ini, dia berkomentar tentang dirimu yang aku benci. Mohonlah kepada Allah
supaya memberi hidayah ibu Abu Hurairah.” Rasulullah bersabda: “Ya, Allah.
Tunjukilah ibu Abu Hurairah.” Aku keluar dengan hati riang karena do’a Nabi.
Ketika aku pulang dan mendekati pintu, maka ternyata pintu terbuka. Ibuku
mendengar kakiku dan berkata: “Tetap di situ Abu Hurairah.” Aku mendengar
kucuran air. Ibu ku sedang mandi dan kemudian mengenakan pakaiannya serta
menutup wajahnya, dan kemudian membuka pintu. Dan ia berkata: “Wahai, Abu
Hurairah! Asyhadu an Laa ilaaha Illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu
warasuluhu.” Aku kembali ke tempat Rasulullah dengan menangis gembira. Aku
berkata,”Wahai, Rasulullah. Bergembiralah. Allah telah mengabulkan do’amu dan
menunjuki ibuku.” Maka Beliau memuji Allah dan menyanjungNya serta berkomentar
baik. [HR Muslim].
Ibnu
‘Umar pernah melihat lelaki menggendong ibunya dalam thawaf. Ia bertanya:
“Apakah ini sudah melunasi jasanya (padaku), wahai Ibnu ‘Umar?” Beliau
menjawab: “Tidak, meski hanya satu jeritan kesakitannya (saat bersalin).”
Zainal
‘Abidin, adalah seseorang yang terkenal baktinya kepada ibu. Orang-orang
keheranan kepada, (dan berkata): “Engkau adalah orang yang paling berbakti
kepada ibu. Mengapa kami tidak pernah melihatmu makan berdua dengannya dalam
satu talam?” Ia menjawab,”Aku khawatir, tanganku mengambil sesuatu yang dilirik
matanya, sehingga aku durhaka kepadanya.”
Sebelumnya,
kisah yang lebih mengharukan terjadi pada diri Uwais Al Qarni, orang yang sudah
beriman pada masa Nabi, sudah berangan-angan untuk berhijrah ke Madinah untuk
bertemu dengan Nabi. Namun perhatiannya kepada ibunya telah menunda tekadnya
berhijrah. Ia ingin bisa meraih syurga dan berteman dengan Nabi dengan baktinya
kepada ibu, kendatipun harus kehilangan kemuliaan menjadi sahabat Beliau di
dunia.
Dalam
Shahih Muslim, dari Usair bin Jabir, ia berkata: Bila rombongan dari Yaman
datang, Umar bin Khaththab bertanya kepada mereka: “Apakah Uwais bin ‘Amir
bersama kalian?” Sampai akhirnya menemui Uwais. Umar bertanya,”Engkau Uwais bin
‘Amir?” Ia menjawab,”Benar.” ‘Umar bertanya,”Engkau dari Murad kemudian beralih
ke Qarn?” Ia menjawab,”Benar”. Umar bertanya,”Apakah engkau dulu pernah sakit
lepra dan sembuh, kecuali kulit yang sebesar uang dirham?” Ia menjawab,”Benar.”
‘Umar bertanya,”Engkau punya ibu?” Ia menjawab,”Benar.” Umar (pun) mulai
bercerita,”Aku mendengar Rasulullah bersabda,’Akan datang pada kalian Uwais bin
‘Amir bersama rombongan penduduk Yaman yang berasal dari Murad dan kemudian
dari Qarn. Ia pernah tertimpa lepra dan sembuh total, kecuali kulit yang
sebesar logam dirham. Ia mempunyai ibu yang sangat dihormatinya. Seandainya ia
bersumpah atas nama Allah, niscaya aku hormati sumpahnya. Mintalah ia
beristighfar untukmu jika bertemu’.” (Umar berkata),”Tolong mintakan ampun
(kepada Allah) untukku,” maka ia memohonkan ampunan untukku. Umar
bertanya,”Kemana engkau akan pergi?” Ia menjawab,”Kufah.” Umar berkata,”Maukah
engkau jika aku menulis (rekomendasi) untukmu ke gubernurnya (Kufah)?” Ia
menjawab,”Aku lebih suka bersama orang yang tidak dikenal.”
Kisah lainnya tentang bakti kepada ibu, yaitu Abdullah bin ‘Aun pernah memanggil ibunya dengan suara keras, maka ia memerdekakan dua budak sebagai tanda penyesalannya
Bersambung ke bagian ke Empat.......
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber : https://sayapeduli.org/
#NgajiBareng
Tidak ada komentar:
Posting Komentar