BAKTIMU, KEPADA ORANG TUA !
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Minggu 2 Dzulqaidah 1447 H /19 April 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Keharusan
Berbakti Kepada Orang Tua Sepanjang Masa
Bagaimana
saya harus berbakti kepada orang tua? Mungkin pertanyaan ini pernah mengganggu
dan membingungkan kita. Dalam masalah ini, sebenarnya Al Quran telah
memaparkannya secara gamblang melalui ayat :
وَبِالْوَالِدَيْنِ
اِحْسٰنًاۗ
“Dan
berbuat baiklah kepada kedua orang tua“. [Al Isra`/17: 23].
Saat
menafsirkan ayat di atas, Syaikh As Sa’di menyatakan: “Berbuat baiklah kepada
mereka berdua dengan seluruh jenis kebaikan, baik dengan ucapan maupun
tindakan”. Pasalnya, perintah dalam ayat itu dengan kalimat yang menunjukkan
keumuman, sehingga mencakup seluruh jenis kebaikan, disenangi anak ataupun
tidak, tanpa perdebatan, membantah atau berat hati. Perkara ini harus
benar-benar diperhatikan. Sebab, sebagian orang melalaikannya. Mereka mengira,
berbakti kepada orang tua hanya terbatas dengan melakukan apa yang disenangi
anak saja. Padahal, hakikat berbakti tidak sekadar seperti itu. Bakti yang
sejati tercermin dengan ketaatan anak kepada perintah orang tua meskipun tidak
sejalan dengan keinginan sang anak.
Ada
beberapa syarat yang menjadikan perbuatan baik seorang anak terhitung sebagai
bakti kepada kedua orang tuanya :
- Mengutamakan
ridho kedua orang tua di atas kepentingan pribadi, ridha istri, anak dan
orang lainnya.
- Mentaati
kedua orang tua dalam masalah perintah dan larangan mereka, baik sesuai
dengan keinginan anak ataupun berlawanan dengan keinginannya, selama tidak
ada aturan syar’i yang dilanggar.
- Perasaan
senang dengan sepenuh hati memiliki inisiatif untuk memberi kepada kedua
orang tua, sesuatu yang sekiranya mereka inginkan, meskipun tidak diminta.
Juga, tetap memiliki anggapan bahwa apa yang diberikannya kepada orang
tua, masih tidak ada artinya dibadingkan dengan jasa besar mereka.
Termasuk
amalan yang baik buat orang tua, yaitu mendakwahi mereka agar masuk Islam atau
mendakwahi mereka kepada ketaatan dan meninggalkan maksiat. Inilah kebaikan
yang tertinggi nilainya. Sebab, ajakan ini akan menyelamatkan mereka dari siksa
Allah. Meski demikian, semestinya harus dengan cara lembut dan santun,
sebagaimana diceritakan Allah tentang Nabi Ibrahim ketika mendakwahi ayahnya.
Bakti
Nabi Ibrahim kepada ayahnya telah sampai titik klimaks. Ayahnya diseru menuju
syurga, namun sang ayah justru menyerunya menuju neraka. Nabi Ibrahim
mendakwahi ayahnya agar beribadah kepada Allah semata, justru ia mendakwahi
supaya Nabi Ibrahim menyembah berhala-berhala. Sang bapak marah dan mengancam
seperti dikisahkan Allah Ta’ala, :
قَالَ اَرَاغِبٌ
اَنْتَ عَنْ اٰلِهَتِيْ يٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۚ لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهِ لَاَرْجُمَنَّكَ
وَاهْجُرْنِيْ مَلِيًّا
Apakah
engkau benci kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim. Jika kamu tidak berhenti,
niscaya kamu akan kurajam. Dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama. [Maryam/19: 46]
Nabi
Ibrahim meresponnya secara lemah-lembut dengan berkata sebagaimana dalam ayat:
قَالَ سَلٰمٌ
عَلَيْكَۚ سَاَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّيْۗ اِنَّهٗ كَانَ بِيْ حَفِيًّا
Ibrahim
berkata: “Semoga keselamatan bersamamu. Aku akan memohonkan ampun kepada
Rabb-ku untukmu“.
[Maryam/19: 47].
Allah
membalas sikap luhurnya kepada ayah dengan karunia anak, Isma’il yang sangat
taat kepada orang tuanya, meskipun harus mempertaruhkan nyawanya dalam kisah
penyembelihan yang sudah kita ketahui bersama.
Berbakti
kepada orang tua tidak berhenti, meskipun kematian telah menjemput mereka.
Masih ada sekian banyak cara yang harus ditempuh untuk meneruskan bakti kepada
orang tua yang sudah tiada. Dasarnya, yaitu hadits Anas bin Malik As Sa’idi, ia
berkata:
بَيْنَمَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ عَلَيَّ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا َصِلَةَ لَكَ إِلَّا مِنْ قِبَلِهِمَا فهو الذي بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا
Saat
aku duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba ada seorang lelaki dari kaum Anshar
yang datang dan bertanya: “Wahai, Rasulullah! Apakah masih ada (perkara) yang
tersisa yang menjadi tanggung jawabku berkaitan dengan bakti kepada orang tuaku
setelah mereka berdua meninggal yang masih bisa aku lakukan?” Nabi menjawab:
“Betul. (Yaitu) ada empat hal: engkau do’akan dan mintakan ampunan bagi mereka,
melaksanakan janji mereka, serta memuliakan sahabat-sahabat mereka, juga
menyambung tali silaturahmi dengan orang yang ada hubungannya dengan ayah ibu.
Inilah (kewajiban) yang masih tersisa dalam berbakti kepada orang tuamu setelah
mereka meninggal”. [HR
Abu Dawud dan Ahmad].
Karena
itu, Allah meninggikan kedudukan orang tua lantaran istighfar anak buat mereka.
Terlah diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ
لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَنَّى لِيْ هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ
وَلَدِكَ لَكَ
Ada seorang lelaki yang kedudukannya terangkat di syurga kelak.” Ia pun bertanya,”Bagaimana ini?” Maka dijawab: “Lantaran istighfar anakmu.
Ibumu…
Berilah Perhatian Lebih!
Seorang
ibu menempati kedudukan yang tinggi dalam Islam, bahkan berbanding tiga dari
kedudukan sang ayah. Dalam suatu riwayat disebutkan ada sahabat yang bertanya
kepada Nabi:
يَا رَسُولَ
اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ
قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ
ثُمَّ أَبُوكَ
Wahai
Rasulullah, Siapa orang yang harus aku berbakti kepadanya?” Beliau
menjawab,”Ibumu.” Aku bertanya lagi,”Kemudian siapa?” Beliau menjawab,”Ibumu.”
Aku bertanya,”Kemudian siapa?” Beliau menjawab,”Ibumu.” Aku bertanya,”Kemudian
siapa?” Beliau menjawab,”Ayahmu.” [HR
Bukhari no. 5.971].
‘Atha
bin Yasar meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ada lelaki yang mengadukan: “Aku
meminang wanita, tetapi ia menolakku. Dan ada lelaki lain meminangnya, dan
wanita itu menginginkannya. Aku pun cemburu, dan aku bunuh dia. Apakah aku
masih punya kesempatan bertaubat?” Ibnu ‘Abbas bertanya: “Apakah ibumu masih
hidup?” Jawabnya,”Tidak.” (Ibnu Abbas pun berkata): “Kalau begitu, bertaubatlah
kepada Allah dan berbuat baiklah sebisamu.” Aku bertanya kepada ‘Ibnu ‘Abbas :
“Mengapa engkau bertanya tentang ibunya?” Ia menjawab,”Aku tidak mengetahui ada
amalan yang lebih mendekatkan diri kepada Allah melebihi bakti kepada ibu.”
(Shahihah, 2.799).
Seorang
wanita atau ibu, lantaran beratnya kehidupan yang ia jalani bersama anaknya,
sejak berada di rahimnya sampai sang anak tumbuh menjadi manusia remaja.
Ditambah lagi, wanita mempunyai perasaan yang sangat sensitif dibandingkan sang
ayah, maka kondisi ini menuntut komunikasi dengan tutur kata yang baik demi
terjaganya perasaan sang ibu. Oleh karenanya, perhatian secara khusus sudah
sepantasnya diberikan kepada seorang sang ibu.
Ancaman
Durhaka Kepada Orang Tua
Wahai
saudaraku.., Rasulullah
menghubungkan kedurhakaan kepada kedua orang tua dengan berbuat syirik kepada
Allah. Dalam hadits Abi Bakrah, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ
بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ
بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ
Maukah
kalian aku beritahukan dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab,”Tentu.”
Nabi bersabda,”(Yaitu) berbuat syirik, durhaka kepada orang tua.” (HR Bukhari no. 5.975).
Dalam
sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan:
كلُّ ذنوبٍ
يؤخِرُ اللهُ منها ما شاءَ إلى يومِ القيامةِ إلَّا البَغيَ وعقوقَ الوالدَينِ ، أو
قطيعةَ الرَّحمِ ، يُعجِلُ لصاحبِها في الدُّنيا قبلَ المَوتِ
“Setiap
dosa, Allah akan menunda (hukumannya) sesuai dengan kehendakNya pada hari
Kiamat, kecuali durhaka kepada orang tua dan memutuskan silaturrahim.
Sesungguhnya orangnya akan dipercepat (hukumannya sebelum hari Kiamat).”
(HR Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 459 )
Membuat
menangis orang tua juga terhitung sebagai perbuatan durhaka. Tangisan mereka
berarti terkoyaknya hati, oleh polah sang anak.
Ibnu
‘Umar pernah menegaskan:
بُكَاءُ
الْوَالِدَيْنِ مِنَ الْعُقُوقِ وَالْكَبَائِرِ
“Tangisan
kedua orang tua termasuk kedurhakaan dan dosa besar“. (HR Bukhari, Adabul
Mufrad hlm. 31. Lihat Ash Shahihah, 2898).
Bagaimana
tidak disebut sebagai kedurhakaan? Bukankah ucapan “uh” atau “ah” dilarang
dilontarkan kepada mereka berdua? Allah berfirman:
اِمَّا
يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ
اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
Jika
salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan “ahh” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada
mereka perkataan yang mulia.
[Al Isra`/17: 23].
Maksudnya,
seperti dipaparkan Ibnu Katsir, jika mereka telah memasuki usia saat kekuataan
melemah dan memerlukan perlakuan yang baik, maka janganlah kamu mengatakan
kepada mereka “ah”. Ini adalah sikap menyakitkan yang paling ringan, sebagai
petunjuk atas sikap menyakiti lainnya yang lebih besar. Maknanya, janganlah
kalian menyakiti mereka dengan sesuatu apapun, meskipun kecil.
Dalam
hadits lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Kalau Allah
mengetahui sikap menyakitkan orang tua yang lebih rendah dari kata “ah”,
niscaya akan melarangnya. Orang yang durhaka hendaknya berbuat apa saja, namun
ia tidak akan masuk syurga. Dan anak yang berbakti hendaknya berbuat apa saja,
tidak akan masuk neraka“.
Menurut
Syaikh As Sa’di kedurhakaan terbagi dua.
- Sengaja
bersikap buruk kepada orang tua, dan ini dosanya lebih besar.
- Sikap
tidak mau berbuat baik kepada keduanya tanpa ada unsur menyakiti. Ini
tetap haram, tetapi tidak seperti yang pertama.
Bersambung ke bagian ke tiga……
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏

Tidak ada komentar:
Posting Komentar