Menu

Rabu, 22 April 2026

KEMULIAAN BULAN RAMADHAN

KISAH SEORANG HAMBA DIAMPUNI KARENA KEMULIAAN BULAN RAMADHAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Saudaraku....!

Hari ini  Kamis 6 Dzulqaidah 1447 H /23 April 2026

Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.

Saudaraku...!

Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.

Hadirin yang dirahmati Allah....

Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Ia adalah manifestasi kasih sayang Allah yang paling nyata di muka bumi. Sebagai Syahrul Mubarak (bulan penuh berkah) dan Syahrur Rahmah (bulan kasih sayang),

Ramadhan hadir sebagai tombol reset bagi setiap hamba yang merasa beban dosanya sudah terlalu berat. Di bulan ini, pintu langit dibuka lebar-lebar, menunjukkan bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar bagi ampunan Allah, asalkan ada secercah penghormatan dan niat untuk kembali di dalam hati.

Dalam kitab Irsyad al-'Ibad karya Syekh Zainuddin al-Malibari dikisahkan seorang laki-laki yang menjadi potret nyata bagaimana keagungan Ramadhan mampu mengubah garis takdir seseorang.

Dahulu, ada seorang pria bernama Muhammad. Kehidupan spiritualnya sangat memprihatinkan. Ia sering meninggalkan shalat dan hanya melakukannya sesekali saja. Namun, ada sesuatu yang unik setiap kali hilal bulan Ramadhan muncul.

Begitu memasuki bulan suci, Muhammad mengubah total penampilannya. Ia mengenakan pakaian-pakaian terbaik yang mewah, memakai wewangian, dan mulai menjaga shalatnya dengan tertib.

Tak hanya itu, ia sibuk berpuasa dan meng-qadha shalat-shalat yang pernah ia tinggalkan di bulan-bulan sebelumnya.

Melihat perubahan drastis itu, seseorang mencoba bertanya kepadanya, “Mengapa engkau melakukan ini?”   Muhammad menjawab dengan penuh harap:

هَذَا شَهْرُ التَّوْبَةِ وَالرَّحْمَةِ وَالبَرَكَةِ، عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنِّي بِفَضْلِهِ

Artinya, “Ini adalah bulan tobat, bulan rahmat, dan bulan berkah. Semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosaku dengan kemurahan-Nya.”

Tak lama setelah itu, Muhammad wafat. Dalam sebuah mimpi, sang perawi kisah ini bertemu dengannya dan bertanya, “Apa yang Allah lakukan terhadapmu?” Ia menjawab dengan bahagia:

 غَفَرَ لِي لِأَجْلِ حُرْمَةِ شَهْرِ رَمَضَانَ

Artinya, “Allah telah mengampuniku karena penghormatanku terhadap kemuliaan bulan Ramadhan.” (Zainuddin al-Malibari, Irsyadul ‘Ibad Ila Sabilir Rasyad, [Jeddah, Darul Minhaj: 2018], halaman 265)

Perubahan hidup Muhammad dan ampunan yang ia peroleh bukanlah sebuah kebetulan. Hal ini mengingatkan kita pada sebuah hadits yang menegaskan betapa dahsyatnya kekuatan ibadah di bulan Ramadhan jika dilakukan dengan iman dan kesungguhan.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

 شَهْرُ رَمَضَانَ: شَهْرٌ كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ، وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ ؛ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً . . خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Artinya, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang Allah wajibkan atas kalian untuk berpuasa, dan aku sunnahkan bagi kalian shalat malam (qiyam). Maka barangsiapa yang berpuasa dan shalat malam di dalamnya karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ibunya melahirkannya.” (HR. Ibnu Majah)

Mengenai maksud kalimat "keluar dari dosa-dosanya seperti hari ibunya melahirkannya", Syekh Muhammad al-Amin al-Harari (wafat 1441 H) dalam karyanya Syarah Sunan Ibnu Majah memberikan penjelasan yang sangat berharga sebagai berikut:

 أَيْ: رَجَعَ مِنْ ذُنُوبِهِ الصَّغَائِرِ؛ لِأَنَّ الكَبَائِرَ لَا تُغْفَرُ إِلَّا بِالتَّوْبَةِ أَوْ بِمَحْضِ فَضْلِ اللَّهِ تَعَالَى، وَلَكِنَّ الظَّاهِرَ العُمُومُ  

Artinya, “Maksudnya: Ia kembali (suci) dari dosa-dosa kecilnya; karena dosa-dosa besar tidaklah diampuni kecuali dengan taubat atau semata-mata karena karunia (fadhilah) Allah Ta’ala. Namun, makna yang tampak (zahir) dari hadis ini adalah keumuman (mencakup semua dosa).” (Syarah Sunan Ibn Majah, [Jeddah, Darul Minhaj: 2018], jilid VIII, halaman 193)

Penjelasan al-Hariri ini memberikan kita harapan besar bahwa meski secara kaidah asal dosa besar membutuhkan taubat khusus, melalui kemuliaan Ramadhan, karunia Allah yang murni bisa saja menghapuskan segala dosa secara umum bagi mereka yang benar-benar mengagungkan bulan ini.

Kisah Muhammad di atas adalah pengingat bagi kita semua bahwa kita jangan pernah memandang rendah siapa pun yang sedang berusaha mendekat kepada Allah di bulan Ramadhan, meskipun masa lalunya kelam. Jika seorang ahli maksiat saja bisa mendapatkan ampunan hanya karena menghormati kesucian bulan ini, bagaimana dengan kita yang berusaha menjaga ibadah sepanjang tahun?

Mari jadikan Ramadhan tahun ini sebagai titik balik. Jangan biarkan ia berlalu tanpa ada satu pun perubahan dalam diri kita. Karena bisa jadi, penghormatan kecil kita terhadap satu malam di bulan ini menjadi keberkahan sehingga Allah memaafkan seluruh khilaf kita di masa lalu.

Wallahu'alam Bishshowab

Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.

Editor: Amien Nurhakim Kolomnis: Bushiri

Sumber: https://islam.nu.or.id/
Barakallah ..... semoga bermanfaat

-----------------NB----------------

Saudaraku...!

Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :

Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.

Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa  Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.

Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. 

Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit &  kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.

Yaa Allah... Yaa Robbana...! Ijabahkanlah Do'a-do'a kami, Tiada daya dan upaya kecuali dengan Pertolongan-MU, karena hanya kepada-MU lah tempat Kami bergantung dan tempat Kami memohon Pertolongan.

ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم

آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين

وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ

🙏🙏


Editor: Amien Nurhakim Kolomnis: Bushiri

Sumber: https://islam.nu.or.id/

Editing: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar