KISAH SEORANG HAMBA DIAMPUNI KARENA KEMULIAAN BULAN RAMADHAN
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Kamis 6 Dzulqaidah 1447 H /23 April 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Ramadhan
bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Ia adalah manifestasi kasih
sayang Allah yang paling nyata di muka bumi. Sebagai Syahrul Mubarak (bulan
penuh berkah) dan Syahrur Rahmah (bulan kasih sayang),
Ramadhan
hadir sebagai tombol reset bagi setiap hamba yang merasa beban dosanya sudah
terlalu berat. Di bulan ini, pintu langit dibuka lebar-lebar, menunjukkan bahwa
tidak ada dosa yang terlalu besar bagi ampunan Allah, asalkan ada secercah
penghormatan dan niat untuk kembali di dalam hati.
Dalam
kitab Irsyad al-'Ibad karya Syekh Zainuddin al-Malibari dikisahkan seorang
laki-laki yang menjadi potret nyata bagaimana keagungan Ramadhan mampu mengubah
garis takdir seseorang.
Dahulu,
ada seorang pria bernama Muhammad. Kehidupan spiritualnya sangat
memprihatinkan. Ia sering meninggalkan shalat dan hanya melakukannya sesekali
saja. Namun, ada sesuatu yang unik setiap kali hilal bulan Ramadhan muncul.
Begitu
memasuki bulan suci, Muhammad mengubah total penampilannya. Ia mengenakan
pakaian-pakaian terbaik yang mewah, memakai wewangian, dan mulai menjaga
shalatnya dengan tertib.
Tak
hanya itu, ia sibuk berpuasa dan meng-qadha shalat-shalat yang pernah ia
tinggalkan di bulan-bulan sebelumnya.
Melihat
perubahan drastis itu, seseorang mencoba bertanya kepadanya, “Mengapa engkau
melakukan ini?” Muhammad menjawab dengan penuh harap:
هَذَا شَهْرُ
التَّوْبَةِ وَالرَّحْمَةِ وَالبَرَكَةِ، عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنِّي بِفَضْلِهِ
Artinya,
“Ini adalah bulan tobat, bulan rahmat, dan bulan berkah. Semoga Allah berkenan
mengampuni dosa-dosaku dengan kemurahan-Nya.”
Tak
lama setelah itu, Muhammad wafat. Dalam sebuah mimpi, sang perawi kisah ini
bertemu dengannya dan bertanya, “Apa yang Allah lakukan terhadapmu?” Ia
menjawab dengan bahagia:
غَفَرَ لِي لِأَجْلِ حُرْمَةِ شَهْرِ رَمَضَانَ
Artinya,
“Allah telah mengampuniku karena penghormatanku terhadap kemuliaan bulan
Ramadhan.” (Zainuddin al-Malibari, Irsyadul ‘Ibad Ila Sabilir Rasyad, [Jeddah,
Darul Minhaj: 2018], halaman 265)
Perubahan
hidup Muhammad dan ampunan yang ia peroleh bukanlah sebuah kebetulan. Hal ini
mengingatkan kita pada sebuah hadits yang menegaskan betapa dahsyatnya kekuatan
ibadah di bulan Ramadhan jika dilakukan dengan iman dan kesungguhan.
Dalam
sebuah hadits disebutkan:
شَهْرُ رَمَضَانَ: شَهْرٌ كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ
صِيَامَهُ ، وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ ؛ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً
. . خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Artinya,
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang Allah wajibkan atas kalian untuk berpuasa,
dan aku sunnahkan bagi kalian shalat malam (qiyam). Maka barangsiapa yang
berpuasa dan shalat malam di dalamnya karena iman dan mengharap pahala (dari
Allah), maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ibunya
melahirkannya.” (HR. Ibnu Majah)
Mengenai
maksud kalimat "keluar dari dosa-dosanya seperti hari ibunya
melahirkannya", Syekh Muhammad al-Amin al-Harari (wafat 1441 H) dalam
karyanya Syarah Sunan Ibnu Majah memberikan penjelasan yang sangat berharga
sebagai berikut:
أَيْ: رَجَعَ مِنْ ذُنُوبِهِ الصَّغَائِرِ؛ لِأَنَّ
الكَبَائِرَ لَا تُغْفَرُ إِلَّا بِالتَّوْبَةِ أَوْ بِمَحْضِ فَضْلِ اللَّهِ تَعَالَى،
وَلَكِنَّ الظَّاهِرَ العُمُومُ
Artinya,
“Maksudnya: Ia kembali (suci) dari dosa-dosa kecilnya; karena dosa-dosa
besar tidaklah diampuni kecuali dengan taubat atau semata-mata karena karunia
(fadhilah) Allah Ta’ala. Namun, makna yang tampak (zahir) dari hadis ini adalah
keumuman (mencakup semua dosa).” (Syarah Sunan Ibn Majah, [Jeddah, Darul
Minhaj: 2018], jilid VIII, halaman 193)
Penjelasan
al-Hariri ini memberikan kita harapan besar bahwa meski secara kaidah asal dosa
besar membutuhkan taubat khusus, melalui kemuliaan Ramadhan, karunia Allah yang
murni bisa saja menghapuskan segala dosa secara umum bagi mereka yang
benar-benar mengagungkan bulan ini.
Kisah
Muhammad di atas adalah pengingat bagi kita semua bahwa kita jangan pernah
memandang rendah siapa pun yang sedang berusaha mendekat kepada Allah di bulan
Ramadhan, meskipun masa lalunya kelam. Jika seorang ahli maksiat saja bisa
mendapatkan ampunan hanya karena menghormati kesucian bulan ini, bagaimana
dengan kita yang berusaha menjaga ibadah sepanjang tahun?
Mari
jadikan Ramadhan tahun ini sebagai titik balik. Jangan biarkan ia berlalu tanpa
ada satu pun perubahan dalam diri kita. Karena bisa jadi, penghormatan kecil
kita terhadap satu malam di bulan ini menjadi keberkahan sehingga Allah
memaafkan seluruh khilaf kita di masa lalu.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Editor: Amien Nurhakim Kolomnis: BushiriSumber: https://islam.nu.or.id/
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber: https://islam.nu.or.id/
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar