بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Selasa 4 Jumadil-Ula 1448 H /13 Oktober 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Sesungguhnya bagi seorang yang fakir ada adab-adabnya, baik dalam Batinnya maupun Dzohirnya serta Pergaulannya dan Sikap-sikapnya.
Adapun Adab Batinnya yaitu hendaknya ia tidak membenci dengan ujian Allah kepadanya berupa kemiskinan.
Sedangkan Adab Dzohirnya hendaknya ia menampakkan kehormatan diri dan menghiasi dirinya sehingga tidak menampakkan keluhan dan kemiskinannya, akan tetapi hendaknya ia menutupi kemiskinannya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ اَغْنِيَاۤءَ مِنَ التَّعَفُّفِۚ
Artinya : “(Orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta).” (QS. Al-Baqarah : 273)
Adapun adab dalam amal Pergaulannya maka ia hendaknya tidak merendahkan diri dihadapan orang kaya karena hanya kekayaannya, Ali Radhiyallahu ‘Anhu berkata :
مَا أَحْسَنَ تَوَاضُعَ الْغَنِيِّ لِلْفَقِيْرِ رَغْبَةً فِي ثَوَابِ اللهِ تَعَالَى
Artinya : “Betapa indah tawadu’ (rendah dirinya) seorang kaya kepada seorang miskin karena mengharapkan pahala Allah Ta’ala.”
Si fakir hendaknya tidaklah diam untuk menyampaikan kebenaran hanya karena melakukan mudahanah dihadapan orang-orang kaya dan karena berharap mendapatkan pemberian dari mereka.
Adab dalam Sikap dan Perbuatannya maka hendaknya ia tidak menjadi pemalas dalam beribadah karena kefakirannya, dan tidaklah ia terhalangi dari bersedekah walaupun sedikit dari sedikit karunia yang Allah berikan kepadanya, karena hal itu merupakan pengorbanan yang sedikit akan tetapi keutamaannya lebih banyak dari harta yang dikeluarkan dari kondisi orang yang kaya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
لِلْفُقَرَاۤءِ الْمُهٰجِرِيْنَ الَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَاَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا وَّيَنْصُرُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَۚ
Artinya : “(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir yang berhijrah yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridhoan-Nya dan (demi) menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. Al-Hashr : 8)
Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman :
لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الأرْضِ
Artinya : “(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi.” (QS. Al-Baqarah : 273)
Dalam ayat ini Allah mendahulukan penyebutan wali-wali-Nya dengan sifat kefaqiran sebelum pujian Allah atas sifat hijroh dan terkepungnya mereka, dan Allah tidaklah menyebutkan orang yang Allah cintai kecuali dengan sifat yang juga Allah cintai. Kalaulah bukan karena kefaqiran merupakan sifat yang sangat dicintai Allah tentunya Allah tidak akan memuji orang-orang yang Allah cintai dengan sifat tersebut serta tidak akan memuliakan mereka dengan sifat tersebut.
“Tidaklah seorangpun memakan suatu makananpun yang lebih baik dari memakan hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Al-Bukhari).
Nabi ditanya : “Penghasilan apa yang terbaik?”, beliau berkata : “Pekerjaan tangannya sendiri atau penjualan yang baik” (HR Ahmad), dan beliau berkata :
لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيْعُهَا فَيَكُفُّ اللهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوْهُ
Artinya : “Sungguh salah seorang dari kalian mengambil talinya lalu memikul kayu di atas pundaknya lalu menjual kayu tersebut sehingga Allah menjaga wajahnya lebih baik dari pada ia meminta kepada orang-orang, baik mereka memberinya atau tidak memberinya.” (HR. Al-Bukhari)
Inilah sikap yang tepat dan jalan yang benar, adapun meminta-minta (bukan karena terpaksa) atau karena ingin memperbanyak hartanya maka merupakan sifat yang tercela dan perbuatan yang buruk. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
Artinya : “Senantiasa seseorang meminta-minta kepada orang-orang sehingga ia datang pada hari kiamat dalam kondisi tidak ada sedikit daging pun di wajahnya.” (HR. Muslim).
Dan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلْ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ
Artinya : “Barang siapa yang meminta kepada manusia harta mereka dalam rangka memperbanyak hartanya maka sesungguhnya ia meminta bara api, maka silahkan ia meminta sedikit atau ia meminta yang banyak.” (HR. Muslim)
Dan hal ini menjadikan seorang yang bersedekah dalam memberi sedekahnya mencari orang yang butuh bukan yang lainnya. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
لَا تَحِلُّ المَسْأَلَةُ لِغَنِيٍّ وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ
Artinya : “Tidaklah halal meminta-minta bagi seorang yang berkecukupan dan tidak juga orang yang kuat.” (HR At-Tirimidzi)
Dan beliau juga berkata :
إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَصْلُحُ إِلَّا لِثَلَاثَةٍ: لِذِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ، أَوْ لِذِي غُرْمٍ مُفْظِعٍ، أَوْ لِذِي دَمٍ مُوجِعٍ
Artinya : “Sesungguhnya meminta-minta tidak dibenarkan kecuali bagi tiga orang, seorang yang sangat miskin, orang yang menanggung hutang yang sangat berat, dan orang yang menanggung pembayaran diyat orang yang dibunuhnya.” (HR. Abu Dawud)
Tidak diragukan bahwasanya peningkatan tingkat kemiskinan di alam Islami disebabkan tidak diperhatikannya pengembangan, bertambahnya hutang, tenggelamnya umat dalam riba, dan kelemahan dalam menempuh sebab-sebab ilmu dan teknologi yang maju.
Dan kemiskinan menimbulkan dampak negatif, terlebih lagi jika dalam kondisi hilangnya keimanan atau lemahnya keimanan. Kemiskinan termasuk sebab utama yang merupakan faktor dibalik kerendahan dan hilangnya kemuliaan, munculnya perzinahan, pencurian, praktik sogok menyogok, mengambil harta orang lain dengan kezoliman, bertambahnya tingkat kriminal, pertengkaran keluarga, bahkan tingkat pembunuhan. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam ditanya : “Dosa apakah yang terbesar di sisi Allah?”. Nabi berkata : “Engkau berdoa kepada selain Allah padahal Allah-lah yang telah menciptakanmu”, lalu ditanya lagi “Kemudian dosa apa?”, Nabi berkata “Engkau membunuh anakmu karena takut ia ikut makan bersamamu” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ
Artinya : “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al-An’aam : 151)
Kemiskinan juga memberikan dampak negatif bagi masyarakat, yaitu dengan menggugah pada jiwa-jiwa berupa kedengkian dan permusuhan. Bisa jadi seorang faqir -yang tidak memiliki harapan lagi- membawa keburukan bagi masyarakat. Di sinilah peran para ahli ilmu dan pemikir serta para pemilik harta untuk bersungguh-sungguh dalam mengatasi kemiskinan demi mengharapkan pahala dari Allah, dan untuk menjaga masyarakat dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh kemiskinan, yaitu dengan membuka lapangan-lapangan pekerjaan bagi orang-orang miskin, dengan menaungi mereka dalam perusahaan-perusahaan mereka, mengembangkan kemampuan dan bakat orang-orang miskin tersebut serta menghilangkan penghalang-penghalang yang ada di hadapan mereka. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
Artinya : “Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai Balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (AS. Al-Muzammil : 20).
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar