بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Senin 24 Rabi'ul-Akhir 1448 H /5 Oktober 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Menasihati
adalah salah satu tanda kecintaan seseorang kepada orang yang dinasihatinya.
Saling menasihati adalah tanda bahwa seseorang menginginkan kebaikan untuk
orang yang dinasihatinya. Bahkan, Nabi jadikan nasihat sebagai salah satu
intisari agama Islam yang mulia ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الدِّينُ
النَّصِيحةُ. قلنا : لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأئِمَّةِ
المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
“Agama
adalah nasihat.” Kami (sahabat) bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi
Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin,
serta bagi umat Islam umumnya.”
(HR. Muslim no. 55)
Pentingnya
saling menasihati dalam sebuah keluarga
Saling
menasihati antara anak dan orang tua tentu saja merupakan salah satu perkara
yang paling wajib, selain juga merupakan salah satu pintu berbakti yang paling
luas.
Mengapa?
Karena keluarga kita adalah orang yang paling berhak untuk diingatkan dan
dinasihati. Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala memberikan perintah kepada
Nabinya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
وَأَنْذِرْ
عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
“Dan
berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara: 214)
Setelah
turunnya ayat tersebut, seketika itu juga Nabi memanggil kaum Quraisy,
keluarga, dan kerabat dekat beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ingatkan
keluarga terdekat beliau tersebut, bahkan beliau panggil namanya satu persatu.
Di
ayat yang lain, Allah Ta’ala juga berfirman,
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَة
“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)
Dalam
sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya perihal
siapa yang harus kita prioritaskan dan layak untuk mendapatkan perlakuan baik
kita. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab,
أُمَّكَ
وَأَبَاكَ وَأُخْتَكَ وَأَخَاكَ وَمَوْلاَكَ الذِي يَلِي ذَاكَ حَقٌّ وَاجِبٌ وَرَحِمٌ مَوْصُوْلَةٌ
“Ibumu,
lalu bapakmu, lalu saudara perempuanmu, lalu saudara laki-lakimu, lalu bekas
budakmu yang menjadi tanggungjawabmu. Diwajibkan untuk menjalin hubungan
kerabat dengan mereka-mereka tadi.”
(HR. Abu Dawud, no. 5140. Hadis ini dihukumi hasan oleh Usamah bin ‘Athaya bin
‘Utsman Al-‘Utaibi karena hadis ini punya banyak penguat atau syawahid.
Lihat Taysir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 544-545)
Sungguh,
nasihat merupakan kebaikan dan bentuk perlakuan baik paling utama yang bisa
diberikan oleh seseorang. Mereka yang paling berhak untuk mendapatkannya adalah
keluarga terdekatnya. Baik ibunya, bapaknya, saudaranya, saudarinya, ataupun
istri dan anak-anaknya.
Menasihati
orang tua tidaklah sama sebagaimana menasihati orang lain. Orang tua kita
adalah orang yang paling berjasa kepada kita. Mereka bukanlah orang-orang yang
bisa kita sikapi semau kita dan sekehendak kita.
Sangat
disayangkan, banyak sekali dari kaum muslimin yang semangatnya di dalam
menasihati orangtuanya begitu besar. Akan tetapi, ia tidak memahami cara
menasihati yang baik kepada mereka, tidak mengetahui adab-adab di dalamnya.
Yang ada, bukannya orangtuanya menerima nasihat tersebut, justru ia mendapatkan
kemurkaan dan ketidakridaan keduanya kepada dirinya.
Seorang
muslim, jika ia mau lebih teliti dan serius mempelajari agama ini, maka ia akan
mendapatkan begitu banyak tips, trik, dan petunjuk di dalam menasihati orang
tua. Begitu banyak kisah-kisah, ucapan-ucapan, dan pelajaran yang bisa kita
ambil dan kita praktikkan dari ayat-ayat Al-Qur’an serta hadis-hadis Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam.
Adab-adab
dalam menasihati orang tua
Di
antara beberapa adab yang bisa kita praktikkan di dalam menasihati orang tua
adalah:
Menggunakan
kata-kata yang lembut dan halus
Lihatlah
bagaimana Nabi Ibrahim memberikan contoh yang begitu mulia kepada kita. Tentang
bagaimana menasihati ayahnya yang musyrik dan menyembah berhala. Kata-kata yang
keluar dari mulut beliau adalah kata-kata yang manis nan mulia. Beliau panggil
ayahnya dengan sebutan yang sangat lembut, (يا أبتِ) , “Wahai ayahku”,
sebagaimana firman Allah Ta’ala,
اِذْ قَالَ
لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِيْ
عَنْكَ شَيْـًٔا
“(Ingatlah)
ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau
menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat
menolongmu sedikit pun?.” (QS.
Maryam: 42)
Jauhilah
kata-kata yang kasar dan menggurui
Allah
Ta’ala berfirman,
فَلا تَقُلْ
لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيماً
“Maka
sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan
janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan
yang baik.” (QS.
Al-Isra’: 23)
Allah
Ta’ala melarang kita menggunakan ucapan yang mengandung makna kemarahan dan
kejemuan saat sedang berbicara dengan orang tua. Allah Ta’ala juga
melarang kita dari membentak mereka, bahkan jika kita sedang tidak senang dan
marah karena kesalahan atau kemaksiatan yang dilakukan oleh orang tua sekali
pun.
Diam
dan keluar sejenak saat mendapati orang tua sedang sangat marah karena nasihat
kita
Hal
ini juga telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, ketika
beliau mengatakan,
قَالَ سَلامٌ
عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا *وَاَعْتَزِلُكُمْ
وَمَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَاَدْعُوْا رَبِّيْۖ عَسٰٓى اَلَّآ اَكُوْنَ
بِدُعَاۤءِ رَبِّيْ شَقِيًّا
“Dia
(Ibrahim) berkata, ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan
memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik
kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah
selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan
kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.’”
(QS. Maryam: 47-48)
Keluar
sejenak dan menjauhkan diri di sini bukan maksudnya menyerah dari menasihati,
akan tetapi maksudnya adalah mengubah rencana dan siasat serta berniat untuk
mengulang upaya dan usahanya di dalam menasihati.
Meminta
tolong kepada orang lain
Jika
memang dirasa sudah tidak mampu menasihati keduanya, maka jangan ragu-ragu
untuk meminta tolong kepada kerabat dekat dan orang-orang terdekat keduanya
untuk memberikan nasihat kepada keduanya. Tidak ada salahnya meminta tolong
kepada paman kita, atau teman orang tua kita untuk menyampaikan nasihat yang
kita inginkan kepada keduanya. Bisa jadi mereka lebih didengar dan menjadi
pintu hidayah untuk kedua orang tua kita.
Jika
orang tua benar-benar tidak mau mendengar nasihat kita dan tidak mau berubah,
maka teruslah berbakti kepada keduanya, teruslah berbuat baik kepada keduanya
Karena
di dalam perlakuan baik kita kepada orang lain, ada hikmah dan rahasia
mengagumkan yang terkadang tidak kita duga-duga. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَسْتَوِي
الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ
وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Dan
tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara
yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia
akan seperti teman yang setia.”
(QS. Fussilat: 34)
Di
dalam sebuah hadis disebutkan,
أنَّ رَجُلًا
قالَ: يا رَسُولَ اللهِ، إنَّ لي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي، وَأُحْسِنُ
إليهِم وَيُسِيؤُونَ إلَيَّ، وَأَحْلُمُ عنْهمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ، فَقالَ: لَئِنْ
كُنْتَ كما قُلْتَ، فَكَأنَّما تُسِفُّهُمُ المَلَّ وَلَا يَزَالُ معكَ مِنَ اللهِ
ظَهِيرٌ عليهم ما دُمْتَ علَى ذلكَ
“Ada
seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku mempunyai kerabat,
aku selalu menyambung hubungan baik dengan mereka, tetapi mereka selalu
memutuskannya. Aku berbuat baik, akan tetapi mereka membalasnya dengan
keburukan. Aku berlaku bijak, akan tetapi mereka berlaku bodoh.” Rasulullah
kemudian bersabda, “Bila keadaannya seperti yang engkau katakan, maka mereka
itu seperti meminum abu yang panas, dan senantiasa Allah akan memberikan
pertolongan kepadamu selama kamu dalam keadaan demikian itu.” (HR. Muslim no. 2558)
Sungguh
pertolongan Allah akan selalu menemani kita selama kita bersabar di dalam
berbakti kepada orang tua, membalas keburukan dengan kebaikan dan tidak
henti-hentinya berdoa serta memohon hidayah untuk diri kita dan orang tua kita.
Bisa
jadi perlakuan baik kita kepada mereka menjadi pintu hidayah bagi keduanya.
Sudah begitu banyak kisah yang menceritakan kondisi semacam itu dan membuktikan
benarnya firman Allah Ta’ala dan sabda Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi
wasallam.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga seluruh keluarga kaum muslimin. Menanamkan akidah yang benar, budi pekerti yang baik, dan teladan yang mulia pada setiap keluarga yang ada. Wallahu a’lam bisshawab.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber Artikel: Muslim.or.id
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar