BELAJAR DAKWAH TANPA MENYAKITI HATI DARI SAYYIDINA HASAN DAN HUSAIN
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Kamis 13 Dzulqaidah 1447 H /30 April 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Di
era media sosial saat ini, ajakan berdakwah tersebar luas, melalui video,
tulisan, atau konten ilmiah. Tapi yang tak kalah penting adalah cara
menyampaikannya.
Dakwah
yang disampaikan dengan metode yang salah bisa gagal mencapai tujuan, bahkan
pesan yang seharusnya membimbing bisa terasa seperti cambuk yang menyakitkan
hati.
Semangat
berdakwah memang hal yang sangat baik, tapi cara menyampaikannya sama
pentingnya. Terutama ketika kita ingin memberikan nasihat atau mengajak orang
memperbaiki diri dari kesalahan, metode yang lembut dan penuh empati menjadi
kunci. Ingat, manusia secara alami sulit menerima kritik atau nasihat, jadi
cara menyampaikan pesan akan menentukan apakah ia diterima dengan baik atau
malah menimbulkan rasa tersinggung.
Dengan
pendekatan yang bijak, dakwah bukan hanya sampai ke telinga, tapi juga
menyentuh hati. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad menjelaskan
pentingnya berdakwah dengan sejuk dan bijak:
النصيحة سهل ، والمشكل قبولها ، لأنها في
مذاق متعي الهوى مر إذ المناهي محبوبة في قلوبهم
Artinya:
"Memberi nasihat mudah. Yang sulit itu menerimanya. Sebab, bagi orang yang
menuruti hawa nafsunya nasihat itu terasa pahit. (Sebaliknya), hal-hal yang
dilarang hati mereka menyenanginya." (Abu Hamid Al-Ghazali, Ayyuhal
Walad, [Arab Saudi: Darul Minhaj, 2014], hal. 38).
Lebih
jauh, sejatinya agama Islam menempatkan nasihat sebagai salah satu pilar
dan nilai luhur yang seharusnya menjadi nafas setiap pemeluknya. Namun, memberi
nasihat bukan sekadar menyampaikan kata-kata; cara atau metode penyampaiannya
sangat menentukan apakah pesan itu diterima dengan baik.
Baca
Juga Lima Pendekatan Dakwah Wali Songo Dalam konteks dakwah atau menasihati,
metode yang bijak dan penuh kesantunan menjadi kunci.
Sebagai
pengingat, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini patut kita simak dan
renungkan, Nabi bersabda:
عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّينُ النَّصِيحَة قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: لِلهِ
وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
Artinya,
“Diriwayatkan dari Tamim Ad-Dari, diriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda:
‘Agama adalah nasihat.’ Kami bertanya: ‘Kepada siapa?’ Rasulullah menjawab:
‘Kepada Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin-pemimpin umat Islam, dan kaum
awam mereka’.” (HR. Imam Muslim).
Berkaitan
dengan hadits ini dan cara bijak menasihati tanpa menyinggung hati perasaan
yang dinasihati. Artinya, nasihat bukan hanya soal iman kita kepada Allah,
mengikuti kitab suci yang Allah turunkan, atau meneladani para Rasul.
Nasihat juga berlaku untuk hubungan sosial,kepada para pemimpin, kita
menasihati dengan membantu menegakkan kebenaran; kepada masyarakat umum, kita
menuntun mereka ke jalan yang diridhai Allah.
Tapi
penting diingat: cara menyampaikan nasihat itu kunci. Menasihati dengan marah
atau menekan hati orang lain justru bisa menutup pintu penerimaan. Sebaliknya,
dengan keramahan, kelembutan, dan cara yang menyenangkan, nasihat lebih mudah
diterima, menyentuh hati, dan berpotensi diikuti. Jadi, dakwah atau menasihati
bukan hanya soal apa yang kita katakan, tapi bagaimana kita menyampaikannya.
Baca
Juga Gaya Dakwah Sunan Kalijaga dalam Kidung Kawedar
Lebih
jauh, Syekh Muhammad bin Abdullah dalam kitab Al-Jawahirul Lu'lu'iyyah fi
Syarhil Arba'in An-Nawawiyyah, menjelaskan pentingnya menasehati dengan bijak
dan lembut. Ia berkata;
ويطلب كون النصيحة برفق لتكون أقرب للقبول، ومن ثم كان السلف الصالح إذا أرادوا نصيحة
أحد وعظوه سرا.
Artinya:
"Nasihat tersebut hendaknya dilakukan dengan pelan-pelan (ramah dan
sopan) supaya potensi diterimanya lebih dekat (lebih besar). Dengan alasan
inilah, para ulama salaf-shaleh ketika ingin menasihati seseorang, mereka
menasihati secara samar (tidak terang-terangnya).” (Syekh Muhammad bin
Abdullah bin Abdul Lathif al-Jurdani, Al-Jawahirul Lu'lu'iyyah fi Syarhil
Arba'in An-Nawawiyyah, [Arab Saudi: Darul Minhaj, 2022], hal. 178).
Kisah
Cucu Nabi Menasihati Tanpa Menyakiti Hati Setelah Syekh Muhammad
al-Jurdani menjelaskan metode bijak dalam menasihati, kemudian menceritakan
sebuah kisah yang menunjukkan bagaimana cara menasihati tanpa terkesan
menggurui dan sama sekali tidak menyakiti hati orang yang dinasihati.
Suatu
ketika, dua cucu tercinta Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Hasan dan Husain,
menemui seorang kakek yang sedang berwudhu. Namun, cara berwudhunya ternyata
keliru. Salah satu dari mereka akhirnya berkata dengan lembut.
تعال نرشد هذا الشيخ
Artinya: “Mari kita beri bimbingan kakek ini!”
Maka salah satu dari beliau
berkata kepada kakek tersebut,
يا شيخ إنا نريد أن تتوضاً بين يديك حتى تنظر
إلينا، وتعلم من يحسن منا الوضوء ومن لا يحسنه
Artinya:
“Wahai, Kakek! Kami ingin berwudhu di hadapanmu agar kamu melihatnya dan
kamu mengetahui wudhu siapa yang bagus dan tidak bagus di antara kami berdua.”
Lalu,
kedua cucu Nabi berwudhu di hadapan si kakek dengan cara yang benar sesuai
tuntunan. Setelah keduanya selesai, si kakek menatap mereka dan berkata dengan
penuh rasa hormat dan keheranan;
أنا والله الذي لا أحسن الوضوء وأما أنتما فكل واحد منكما يحسن وضوءه.
Artinya:
“Demi Allah, saya yang wudhunya tidak bagus. Sedangkan kalian berdua
wudhunya sama-sama bagus.”
Mengomentari
kisah ini, Syekh Muhammad al-Jurdani berkata,
فانتفع
بذلك منهما من غير تعنيف ولا توبيخ
Artinya:
“Maka dengan metode dari Sayyidina Hasan dan Husain itu, nasihat tersebut
bermanfaat bagi si kakek tanpa ada unsur celaan dan menjelekkan.” (Syekh
Al-Jurdani,hal. 179).
Kisah
ini mengingatkan kita bahwa menasihati dan berdakwah tidak mengenal usia atau
kedudukan. Jika memang ada yang perlu dinasihati, termasuk yang lebih tua, kita
tetap harus melakukannya dengan cara yang bijak.
Teladan
Nabi, para sahabat, dan ulama terdahulu menunjukkan bahwa nasihat paling
efektif disampaikan dengan kesejukan dan kelembutan, tanpa menyinggung
perasaan, seperti yang terlihat dari kisah Sayyidina Hasan dan Husain.
Dari
kisah ini juga kita belajar bahwa menasihati dengan memberi contoh atau teladan
langsung adalah metode yang sangat efektif.
Cara
ini tidak hanya menyampaikan pesan, tapi juga menenangkan hati orang yang
dinasihati, sehingga lebih mudah diterima.
Dengan memadukan semangat berdakwah, memberi teladan, dan menggunakan metode yang bijak, minimal tidak menyinggung perasaan, konten dakwah, baik berupa video maupun tulisan, memiliki peluang besar untuk menembus “dinding” tabiat yang biasanya sulit ditembus oleh nasihat, sebagaimana diuraikan oleh Imam Al-Ghazali.
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Editor: Zainuddin Lubis
Kolumnis: Syifaul Qulub Amin
Sumber: https://islam.nu.or.id/
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Editing: Ndik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar