5 BUKTI KECINTAAN KEPADA NABI MUHAMMAD
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Jum'at 30 Jumadil-Ula 1447 H /21 November 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Khotbah
pertama
السَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ
لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ
شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ
اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي
تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا
عَظِيمًا.
أَمَّا
بَعْدُ:
فَإِنَّ
خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ
الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ,
وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan
Allah Ta’ala.
Pertama-tama,
khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada para jemaah sekalian,
marilah senantiasa menjaga kualitas ketakwaan kita dan keluarga kita kepada
Allah Ta’ala. Baik itu dengan senantiasa menjalankan apa-apa yang
diperintahkan oleh Allah Ta’ala, ataupun dengan meninggalkan
perkara-perkara yang dapat mengantarkan kita ke dalam api neraka. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ
مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Jemaah
yang dimuliakan Allah Ta’ala, sungguh kita diperintahkan oleh
Allah Ta’ala untuk mencintai Nabi kita Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam melebihi siapa pun yang ada di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman
mengancam siapa pun yang menjadikan selain Nabi Muhammad sebagai sesuatu yang
paling dicintainya,
قُلْ إِنْ
كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ
وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا
أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا
حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah
(wahai Muhammad), ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri,
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan
kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, kesemuanya itu lebih kamu
cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah
sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang fasik.” (QS.
At-Taubah: 24)
Ibnu
Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal
tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan
Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.”
Ancaman
keras ini menunjukkan kepada kita bahwa mencintai Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam melebihi kecintaan kita kepada makhluk lainnya
hukumnya adalah wajib. Di ayat yang lain, Allah Ta’ala juga
menegaskan bahwa mencintai Nabi juga harus didahulukan dan diutamakan dari
mencintai diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman,
النَّبِيُّ
أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ
“Nabi
itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ahzab: 6)
Hanya
saja, wahai jemaah yang semoga senantiasa mendapatkan rahmat Allah Ta’ala,
Di
dalam mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita
tidak boleh asal-asalan dan serampangan. Agama kita adalah agama yang berdiri
di atas dalil dan petunjuk Allah serta Rasul-Nya. Bahkan, di dalam hal
mencintai sekalipun, semuanya sudah ada petunjuk dan dalil yang mengaturnya.
Seorang muslim dituntut untuk berpedoman dengan dalil dan petunjuk tersebut di
dalam mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Berikut
ini wahai jemaah sekalian, lima bukti kuat yang apabila terdapat di dalam diri
seorang muslim, maka dia layak untuk dikatakan mencintai Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dengan sebenar-benarnya.
Yang
pertama adalah senantiasa mengikuti ajaran beliau dan menghidupkan sunah-sunah
yang telah beliau ajarkan.
Mencintai
Nabi yang benar memiliki konskuensi ketaatan penuh kepada perintah dan wahyu
yang telah diturunkan kepada beliau, begitu pula kesadaran penuh dari diri kita
untuk meninggalkan apa-apa yang beliau larang. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنْ
كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah (wahai
Muhammad), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya
Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’” (QS. Ali Imran: 31)
Tidaklah
mungkin seorang mukmin mengaku-ngaku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam, namun masih banyak sekali perintah agama yang tidak ia
kerjakan, masih banyak sekali larangan syariat yang ia lakukan dan ia langgar,
dan dirinya sama sekali tidak berhias dengan adab-adab yang telah diajarkan
oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kedua,
Memperbanyak penyebutan beliau.
Yaitu,
dengan memperbanyak selawat serta salam kepada beliau shallallahu
‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya
Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang
beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya.” (QS.
Al-Ahzab: 56)
Mereka
yang tidak berselawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala
nama beliau disebut, oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dicap
sebagai orang yang pelit. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْبَخِيلُ
مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
“Orang
yang bakhil dan pelit itu adalah orang yang jika namaku disebut di dekatnya,
namun dia tidak berselawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi no.
3546, Ahmad no. 1736, dan An-Nasa’i no. 8100)
Di
antara bentuk banyak menyebut beliau yang lain adalah dengan menyebutkan
keutamaan-keutamaan yang beliau miliki, menceritakan juga sifat dan akhlak
beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga, kaum muslimin
menjadi semangat di dalam berusaha untuk meniru beliau serta menjalankan
sunah-sunah yang telah beliau ajarkan.
Ketiga,
Mencintai orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam.
Di
antara akidah ahli sunah wal jamaah adalah mencintai ahlu bait Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, menyayangi mereka,
dan menjaga wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang
mereka di mana beliau bersabda,
أُذَكِّرُكُمُ
اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ
اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي
“Aku
ingatkan kepada kalian semua agar berpedoman kepada hukum Allah dalam
memperlakukan keluargaku.” (Beliau ucapkan sebanyak tiga kali).” (HR. Muslim no. 2408)
Hal
ini juga telah dipraktikkan oleh para sahabat dahulu kala. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah
mengatakan,
وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ
إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي
“Demi
Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada
kerabatku sendiri.” (HR.
Bukhari no. 3711 dan Muslim no. 1759)
Hanya
saja yang perlu kita garis bawahi, wahai saudaraku, bahwa kemuliaan nasab
tidaklah identik dengan kemuliaan seseorang di sisi Allah Ta’ala dan
bahwasanya tidak ada yang dapat meninggikan kedudukan seorang hamba di sisi
Allah, kecuali ketakwaannya. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُم
“Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertakwa di antara kamu.” (QS.
Al-Hujurat: 13)
Di
dalam sebuah hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga
bersabda,
وَمَنْ
بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُه
“Barangsiapa
yang lambat amalnya, maka tingginya garis keturunan tidak bisa mempercepat
amalnya.” (HR.
Muslim no. 2699)
Oleh
karena itu, kemuliaan nasab keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ahlu
bait-nya juga berkaitan erat dengan kesalehan dan amal ibadah mereka. Siapa
saja dari ahlu bait yang menjaga amalnya dan kesalehannya,
mereka itulah yang pantas mendapatkan kemuliaan. Dan siapa saja yang
mengaku-ngaku atau berbangga diri dengan nasabnya tersebut, namun tidak
dibarengi kesalehan dan amal ibadahnya, maka nasabnya tersebut tidaklah
bernilai apa-apa.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khotbah
kedua
اَلْحَمْدُ
للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ
Jemaah
salat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala.
Bukti
keempat dari kejujuran cinta seorang muslim kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam adalah besarnya harapan untuk melihat beliau dan
kerinduan untuk berjumpa dengannya. Bahkan, hal itu akan ia lakukan, meskipun
harus dengan pengorbanan harta dan keluarga.
Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam pernah bersabda,
مِنْ أَشَدِّ
أُمَّتِي لِي حُبًّا: نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ
وَمَالِهِ
“Di
antara umatku yang sangat mencintaiku adalah orang-orang sepeninggalku. Salah
seorang di antara mereka ingin melihatku dengan (mengorbankan) keluarganya dan
hartanya.” (HR.
Muslim no. 2832)
Yang
kelima dan terakhir, wahai saudaraku, adalah menghindarkan diri dari perkara
yang diada-adakan dalam agama dan segala macam bentuk ke-bid’ah-an.
Sebagian
orang mengira bahwa dirinya boleh menggambarkan dan mengekspresikan cinta dan
kasih sayangnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan
segala cara yang ia inginkan, tanpa perlu memperhatikan sama sekali petunjuk
dan kaidah-kaidah syariat yang berlaku. Mereka turuti kemauan hawa nafsu mereka
dengan dalih kecintaan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam. Padahal, Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ
أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ
“Dan
siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan
tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (QS.
Al-Qasas: 50)
Mereka
membuat ritual-ritual dan perayaan-perayaan yang sejatinya tidak diajarkan oleh
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula oleh para
sahabat radhiyallahu ‘anhum sepeninggal beliau. Sebagian dari
mereka berlebih-lebihan di dalam memuji sampai pada tahapan menyamakan
kedudukan beliau dengan Tuhan. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam mengingatkan kita agar tidak jatuh ke dalam ke-bid’ah-an.
Beliau bersabda,
إِيَّاكُمْ
وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Waspadalah
terhadap perkara-perkara baru (dalam ibadah). Sesungguhnya setiap hal yang baru
adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4607, Ahmad no.
17145, dan At-Tirmidzi no. 2676)
Ketahuilah,
wahai saudaraku, pengakuan cinta saja tidaklah cukup. Yang terpenting yang
harus kita jaga adalah keselarasan amal ibadah dan gerak-gerik kita dengan apa
yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Semoga
Allah Ta’ala menjadikan kita salah satu hamba-Nya yang
benar-benar mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menjadikan
kita salah satu umatnya yang mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. Ya
Allah, kumpulkanlah kami dan pertemukanlah kami dengan kekasih-Mu
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di surga-Mu yang penuh
dengan kenikmatan dan kerinduan.
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
رَبّنَا
لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا
إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا
مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا
فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
اللَّهُمَّ
انصر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْن الْمُسْتَضْعَفِيْنَِ فِيْ فِلِسْطِيْنَ ، اللَّهُمَّ
ارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ
الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ
تَكُنْ عَلَيْهِمْ فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ
اللَّهُمَّ
إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ
وَالْحَمْدُ
للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
عِبَادَ
اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى
ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Artikel: Muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber: https://muslim.or.id
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar