BERBAKTI KEPADA ORANG TUA SETELAH MEREKA WAFAT
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Selasa 18 Jumadil-Akhir 1447 H /9 Desember 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Berbakti
kepada orang tua setelah meninggal dapat dilakukan dengan mendoakan
mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, dan melunasi hutang-hutang serta janji
yang belum ditunaikan. Selain itu, menjaga silaturahmi dengan kerabat dan
sahabat orang tua, serta mewakafkan atau bersedekah atas nama mereka adalah
wujud bakti yang dianjurkan.
Disebutkan
dalam hadis dari Abu Usaid As-Sa’idi,
بينما نحن
عند رسول اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذ جاءه رجلٌ من بني سَلمةَ، فقال: يا رسولَ
اللهِ، هل بَقِيَ مِن بِرِّ أَبَويَّ شيءٌ أَبَرُّهما به بعد موتِهما؟ قال: نعم، الصَّلاةُ
عليهما ، والاستغفارُ لهما، وإنفاذُ عَهدِهما من بعدِهما، وصِلةُ الرَّحِمِ التي لا
تُوصَلُ إلَّا بهما، وإكرامُ صديقِهما
“Ketika
kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, datanglah
seorang laki-laki dari Bani Salamah. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah
masih ada bakti kepada kedua orang tua saya setelah mereka meninggal?’
Rasulullah menjawab, ‘Ya, ada. Mendoakan mereka, memintakan ampunan untuk
mereka, melaksanakan janji-janji mereka setelah mereka tiada, menyambung tali
silaturahim yang tidak terjalin kecuali karena mereka, dan memuliakan
teman-teman mereka.’” (HR. Ibnu
Majah no. 3664 dan Ahmad no. 16059)
Hadis
ini mencakup empat contoh berbakti:
Mendoakan
dan memohonkan ampunan untuk mereka
Mendoakan
di sini berarti memohonkan segala kebaikan bagi mereka, mendoakan agar
diluaskan kubur mereka, dianugerahkan kenikmatan di dalamnya, diangkat
derajatnya, diterima amal mereka, dikumpulkannya mereka bersama para Nabi,
orang-orang saleh, Syuhada, dan para shiddiqin, serta
ditempatkannya mereka bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di
surga tertinggi.
Memohonkan
ampunan dan penghapusan dosa adalah doa yang paling berharga, sebagaimana doa
para Nabi untuk orang tua mereka. Seperti doa Nabi Nuh dan Ibrahim ‘alaihimassalam,
رَبِّ اغْفِرْ
لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Ya
Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang yang masuk ke rumahku
dengan beriman serta semua orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Nuh: 28)
رَبَّنَا
اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
“Ya
Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang mukmin pada hari
perhitungan.” (QS.
Ibrahim: 41)
Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam juga menjadikan doa sebagai tanda kesalehan seorang
hamba, Dalam Musnad Ahmad, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ
عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ:
يَا رَبِّ! أَنَّى لِي هَذِهِ؟! فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ
“Sesungguhnya
Allah akan mengangkat derajat hamba yang saleh di surga, lalu dia bertanya, ‘Ya
Tuhanku, dari mana aku dapatkan ini?’ Dikatakan kepadanya, ‘Itu karena
permohonan ampunan dari anakmu untukmu.” (HR. Ahmad no. 10610 dan Ibnu Majah setelah hadis no.
3660; Syekh Al-Albani menghasankan hadis ini)
Menunaikan
janji-janji mereka
Sebagian
ulama berpendapat bahwa yang dimaksud di sini adalah wasiat. Namun, janji
sebenarnya lebih luas daripada wasiat, meskipun wasiat adalah bagian yang
paling ditekankan. Jika wasiat itu sepertiga atau kurang dari harta, wajib
untuk dilaksanakan, selebihnya hukumnya sunah dan bentuk bakti, bukan
kewajiban.
Janji
juga mencakup jika salah satu orang tua berjanji untuk berbuat baik kepada
saudaranya karena membutuhkan, atau kepada tetangga, kerabat, atau teman
tertentu. Melaksanakan janji-janji ini adalah bagian dari bakti, selama tidak
termasuk perbuatan dosa atau maksiat.
Menyambung
tali silaturahmi kepada saudara mereka
Menyambung
tali silaturahmi pada dasarnya adalah kewajiban, dan menjadi lebih wajib
setelah orang tua meninggal dunia. Silaturahmi ini mencakup paman, bibi, dan
anak-anak mereka, saudara laki-laki dan perempuan mereka. Di antara upaya
yang bisa kita lakukan adalah dengan bertutur kata dan berakhlak yang baik
kepada mereka, serta sering mengunjungi mereka agar hubungan tidak terputus
setelah orang tua meninggal. Dengan begitu, kita akan mendapatkan pahala karena
menyambung silaturahmi dan berbakti kepada orang tua setelah mereka wafat.
Memuliakan
teman-teman mereka
Setiap
orang tua pastilah memiliki teman dekat yang sangat akrab dengan mereka. Di
antara tanda bakti, cinta, dan penghargaan yang agung kepada orang tua adalah
menjaga hubungan dengan mereka setelah orang tua wafat. Dari Ibnu
Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
إِنَّ أَبَرَّ
الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ
“Sesungguhnya
bakti yang paling utama adalah seorang anak yang menyambung hubungan dengan
teman-teman dekat ayahnya.” (HR.
Muslim no. 2552)
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam juga bersabda,
مَنْ أحَبَّ
أنْ يَصِلَ أَبَاهُ فِي قَبْرِهِ؛ فَلْيَصِلْ إِخْوَانَ أَبِيهِ بَعْدَهُ
“Barang
siapa yang ingin menyambung hubungan dengan ayahnya di kuburnya, maka
sambunglah hubungan dengan teman-teman ayahnya setelahnya.” (HR. Ibnu Hibban no. 432,
disahihkan oleh Al-Albani)
Di
antara contoh berbakti lainnya kepada kedua orangtua sepeninggal mereka adalah:
Membayar
utang, nazar, dan kafarat mereka
Sebagaimana
kita ketahui, orang yang meninggal dunia dan masih memiliki utang, maka ia akan
tertahan oleh utangnya, artinya ia terhalang masuk surga sampai utangnya
dilunasi. Dalam hadis disebutkan,
يُغْفَرُ
لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إلَّا الدَّيْنَ
“Orang
yang mati syahid diampuni segala dosanya kecuali utangnya.” (HR. Muslim no. 1886)
Adapun
nazar, disebutkan dalam hadis Ibnu
Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
أنَّ امرأةً
ركِبتِ البحرَ فنذَرَتْ إنِ اللهُ تبارك وتعالى أنجاها أنْ تصومَ شهرًا فأنجاها اللهُ
عز وجل فلم تصُمْ حتى ماتتْ فجاءتْ قَرَابَةٌ لها إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ
فذكرتْ ذلك له فقال : صومي
“Seorang
wanita melakukan perjalanan laut, lalu ia bernazar jika Allah
menyelamatkannya, maka ia akan berpuasa sebulan. Setelah itu, Allah
menyelamatkannya, namun ia meninggal sebelum sempat melaksanakan nazar
puasanya. Kerabat perempuannya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
dan menceritakan hal itu. Nabi bersabda, “Berpuasalah untuknya.” (HR. Bukhari no. 1952 dan Muslim
no. 1148, hadis ini sahih dengan syarat)
Hadis
ini juga mencakup kafarat, yang memiliki kedudukan yang sama dengan nazar.
Bersedekah
atas nama mereka
Para
ulama sepakat bahwa pahala sedekah sampai kepada orang yang telah meninggal.
Hal ini dikuatkan dengan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu
‘anhuma, bahwa ibu Sa’d bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal
ketika ia tidak bersamanya. Sa’d berkata,
يا رَسولَ
اللَّهِ إنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا، أَيَنْفَعُهَا شيءٌ إنْ
تَصَدَّقْتُ به عَنْهَا؟ قالَ: نَعَمْ، قالَ: فإنِّي أُشْهِدُكَ أنَّ حَائِطِيَ المِخْرَافَ
صَدَقَةٌ عَلَيْهَا
“Ya
Rasulullah, ibuku meninggal saat saya tidak bersamanya. Apakah akan bermanfaat
jika saya bersedekah atas namanya?” Beliau menjawab, “Ya.” Sa’d berkata,
“Saksikanlah, kebun kurma saya adalah sedekah untuknya.” (HR. Bukhari no. 2756)
Adapun
di antara sedekah yang paling baik adalah wakaf, seperti: membangun masjid,
asrama, rumah sakit, dan klinik amal untuk merawat orang yang membutuhkan,
menggali sumur, mencetak mushaf dan buku-buku ilmu yang bermanfaat, menanggung
biaya anak yatim dan janda, serta menanggung biaya para dai dan penuntut ilmu,
karena semua ini adalah amalan-amalan yang manfaatnya terus mengalir dan
dampaknya bertahan lama. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam,
إِنَّ مِمَّا
يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ
وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ،
أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا
مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
“Sesungguhnya di antara amal dan kebaikan yang akan menyertai seorang mukmin setelah kematiannya adalah ilmu yang diajarkan dan disebarkan, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai yang dialirkannya, atau sedekah yang dikeluarkannya dari hartanya saat sehat dan hidupnya. Semua itu akan menyertainya setelah kematiannya.” (HR. Ibnu Majah no. 200, dihasankan oleh Syekh Al-Albani)
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Artikel Muslim.or.id
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Artikel Muslim.or.id
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar