SEMUA ORANG DIMUDAHKAN SESUAI DENGAN TAKDIRNYA
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Sabtu 19 Dzulqaidah 1446 H /17 Mei 2025
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Mohon ridho dan ikhlasnya, bila dalam penulisannya ada yang terlupakan tolong ditambahkan dan bila ada yang salah tolong dibetulkan.
Hadirin yang dirahmati Allah....
Ada
sebuah pertanyaan filosofis yang sering dijadikan argumen penguji tentang
otoritas Tuhan, “Kalau kita sudah ditakdirkan masuk neraka, mengapa kita masih
disuruh beramal?”
Pertanyaan mendasar ini kemudian melahirkan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Sebagian hanya karena rasa penasaran dalam perjalanannya berusaha memahami agama. Sebagian lagi juga menjadikannya argumen untuk mengkritisi konsep ketuhanan atau merendahkannya.
Untuk
menjawab kebingungan ini, Islam mengakomodasinya dengan sebuah konsep dan
beberapa argumentasi yang logis dan kritis. Karena ternyata pertanyaan ini
pernah ditanyakan para sahabat kepada Nabi ﷺ. Tentu konteks para sahabat
bertanya berbeda dengan sebagian orang yang bertanya demikian, yakni para
sahabat bertanya untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya. Pertanyaan
tersebut termaktub dalam sebuah hadis dari ‘Imran radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya
kepada Rasulullah ﷺ,
يَا رَسُولَ اللَّهِ، فِيمَا يَعْمَلُ الْعَامِلُونَ؟
“Wahai
Rasulullah, lantas untuk apa orang-orang yang beramal melakukan amalan mereka?”
(HR. Bukhari no. 7551)
Pertanyaan
semisal kemungkinan tidak ditanyakan sekali oleh para sahabat, sebab ada
riwayat lain yang memiliki narasi semisal, seperti datang dari sahabat Jabir
radhiyallahu ‘anhu. Lalu, Rasulullah menjawabnya dengan sebuah kalimat ringkas
nan indah,
كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
Beliau
ﷺ bersabda, “Setiap orang akan dimudahkan (menuju jalan) penciptaannya.”
Dari
jawaban beliau ﷺ, terdapat argumentasi yang dapat menjawab seutuhnya pertanyaan
tersebut. Pertama, kita tidak mengetahui hakikat takdir kita berakhir seperti
apa. Tidak ada yang saat ini bisa menjamin posisi akhir kita di akhirat nanti,
apakah di surga ataupun di neraka.
Kedua,
kita hanya diberitahukan tanda-tanda dan kaidah global mengenai hal tersebut.
Penghuni surga adalah mereka yang memenuhi syarat ahli surga. Ciri-ciri
penghuni surga adalah mereka yang melakukan amalan ahli surga. Informasi ini
kita ketahui datangnya dari Sang Penguasa Surga sendiri, yakni Allah ﷻ melalui
kitab-Nya dan utusan-Nya.
Argumen
ini ditegaskan Nabi ﷺ dengan ungkapan, “Setiap orang akan dimudahkan sesuai
dengan takdirnya.” Maka, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan untuk
“memastikan” takdir kita adalah surga, hanyalah dengan berusaha jujur dan
semaksimal mungkin melaksanakan amalan ahli surga.
Sering
maksiat, apakah saya ahli neraka?
Mungkin
muncul pertanyaan di benak kita, “Kok saya merasa sulit melakukan amal kebaikan
dan mudah bermaksiat? Apakah ini pertanda saya ahli neraka?”
Untuk
menjawab pertanyaan ini, kita menggunakan keterangan lain dalam Islam yang
berbeda sub-bab dari pembahasan sebelumnya. Rasulullah ﷺ memberikan keterangan
bahwasanya surga dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci hawa nafsu, sedangkan
neraka dihiasi dengan semua yang memuaskan syahwat. Dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,
حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ
الْجَنَّةُ بَالْمَكَارِهِ
“Neraka
itu tertutup (dikelilingi) dengan berbagai kesenangan dan surga itu tertutup
dengan berbagai hal yang dibenci.” (HR. Bukhari no. 6487 dan Muslim no. 2822)
Melakukan
amal surgawi itu tidaklah mudah karena ia memiliki prasyarat, yakni harus
melawan hawa nafsu. Sementara hawa nafsu adalah hal yang sudah terinstal sejak
awal dalam jiwa kita. Hawa nafsu dan akal menjadi pembeda antara manusia dengan
makhluk lainnya. Sebagaimana Allah ﷻ menjadikan kecintaan pada urusan dunia
sebagai fitrah sekaligus ujian bagi manusia.
Hal
ini disebutkan dalam firman-Nya,
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ
ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ
وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ
ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ
“Dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di
dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran:
14)
Jelaslah
bahwa melawan kesukaan jiwa itu akan sangat sulit, sebab ia telah terpatri dan
kita hidup bertumbuh dengannya. Dan menuruti hawa nafsu adalah biang dari
berbagai keburukan. Tidaklah ia mengantarkan kepada keburukan kecuali jika ia
terbimbing oleh petunjuk Allah ﷻ Dalam Al-Quran, Allah ﷻ berfirman,
إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ
إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Sesungguhnya
nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat
oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS.
Yusuf: 53)
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ
أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ
هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Maka
jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka
hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat
daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari
Allâh sedikitpun. Sesungguhnya Allâh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang zhalim.” (QS. Al-Qashshash: 50)
Namun,
ketahuilah! Sesungguhnya beratnya melawan hawa nafsu adalah jihad atau
kesempatan berjuang yang memiliki nilai berharga di sisi Allah ﷻ. Sulitnya
perjuangan itu berhikmah menambah nilai pahala yang berbalas kenikmatan dari
rahmat Allah ﷻ.
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى
ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ (40) فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ
“Dan
adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari
keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS.
An Nazi’at: 40-41)
Al-Qur’an
menggambarkan perjalanan manusia menuju kesempurnaan sebagai perjuangan. Allah
ﷻ berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ
إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَٰقِيهِ
“Wahai
manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka pasti kamu
akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)
Kesempurnaan
manusia dicapai melalui perjalanan di lautan hawa nafsu, syahwat, dan tarikan
berbagai keinginan. Dalam perjalanannya menuju Allah, manusia melawan hawa
nafsunya dengan kehendaknya sendiri. Jika hawa nafsu dihilangkan dari manusia,
maka gerakan dan perjuangannya juga akan hilang, sehingga ia tidak akan bisa
mencapai kesempurnaan spiritual, psikologis, maupun intelektual.
Maka,
mudahnya berbuat maksiat bukanlah pertanda anda ahli neraka. Justru hal itu
menjadi peluang bagi kita untuk mencapai surga tertinggi Allah ﷻ. Kesadaran
dramatis bahwa diri ini mudah berbuat dosa sebenarnya dapat dijadikan penguat
kita untuk semangat bertobat dan memperbanyak amal kebaikan sebagai
pengiringnya.Baca juga: Apakah Doa Dapat Mengubah Takdir?Teladan sahabat Nabi ﷺ
dalam menyikapi hadis takdir
Bahkan
dengan kabar dari Nabi ﷺ demikian, justru para sahabat begitu bersemangat untuk
beramal. Dalam sebagian riwayat, setelah mendengar sabda Nabi tersebut, sahabat
Nabi Suroqoh bin Ju’syum radhiyallahu ‘anhu menyatakan,
فَلَا أَكُونُ أَبَدًا أَشَدَّ اجْتِهَادًا
فِي الْعَمَلِ مِنِّي الْآنَ
“Tidak
pernah aku merasa lebih bersemangat untuk beramal (berbuat kebaikan)
dibandingkan hari ini (sejak mendengar sabda nabi tersebut).” (HR. Ibnu Hibban
no. 337)
Lihatlah
teladan para sahabat radhiyallahu ‘anhum tersebut. Mereka tidak berpangku
tangan dengan catatan takdir yang sudah digariskan. Akal mereka menghasilkan
pandangan yang bijak, hasil dari penalaran kritis terhadap jawaban Nabi ﷺ.
Mereka bersemangat mencari sebab prasyarat memasuki surga Allah ﷻ.
Perhatikanlah keadaan para sahabat yang sudah dijamin surga bahkan dipastikan
langsung oleh lisan Nabi ﷺ. Hingga akhir hayatnya, mereka semua berusaha
menjaga iman dan memperbanyak amal saleh.
Abu
Bakr tetap menyumbangkan seluruh hartanya di jalan Allah ﷻ. Umar tetap
mengkhawatirkan dirinya sebagai munafik dan terus memperhatikan imannya.
Begitupula dengan sahabat lainnya, mereka tidak jumawa dengan jaminan surga
atas diri mereka.Ingatlah! Tiada yang mengetahui takdirnya hingga ia menemui
takdir itu sendiri. Ketahuilah! Kesempatan untuk meraih surga tidak tertutup
hingga ajal di kerongkongan. Maka, bersegeralah bertobat, agar amal surgawi
kian banyak memenuhi catatan amal kita yang penuh dosa maksiat itu. Hingga
akhirnya kita mendapatkan panggilan dari Allah ﷻ Al-Halim,
يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ
() ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً () فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى
() وَٱدْخُلِى جَنَّتِى
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr: 27-30)
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Wallahu'alam Bishshowab
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Sumber : Aplikasi kumpulan tausiah Islam
Penulis: Glenshah Fauzi Artikel Muslim.or.id
Edit: Ndik
#NgajiBareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar