KEUTAMAAN
PARA SAHABAT NABI

بِسْــــــــــمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saudaraku....!
Hari ini Kamis 18 Jumadil-Ula 1448 H /29 Oktober 2026
Setelah Sholat Subuh sambil menunggu waktu pagi untuk beraktivitas, mari Kita NGOPI (Ngobrol Perkara Iman), Ungkapkan rasa Syukur Kita atas segala Nikmat yang Allah berikan, dengan memanfaatkan untuk memperbanyak Dzikir dan Sholawat sambil menikmati Santapan Rohani.
Saudaraku...!
Tulisan ini hanya sekedar berbagi atau sharing dan tidak bermaksud Menggurui, bukan berarti yang menulis lebih baik dari yang menerima atau membaca. Namun demikian saya mengajak pada diri saya pribadi dan Saudara-saudaraku Seiman, untuk sama-sama belajar dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
Hadirin yang dirahmati Allah....
para
sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang bertemu
dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beriman
kepada beliau, dan mati dalam keadaan muslim. Mereka adalah generasi terbaik
dari umat ini.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ
النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik
manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi
berikutnya.” (Hadits
shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533)
Para
sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan istimewa
di sisi Allah Ta’ala. Mereka telah diberikan anugerah yang begitu besar
yakni kesempatan bertemu dan menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Ta’ala telah memilih mereka untuk mendampingi dan membantu Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam menegakkan agama-Nya. Orang-orang pilihan Allah
ini, tentunya memiliki kedudukan istimewa di bandingkan manusia yang lain.
Karena Allah Ta’ala tidak mungkin keliru memilih mereka.
‘Abdullah
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
إِنَّ
اللهَ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ
فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ
مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوْبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ
فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى دِيْنِهِ، فَمَا رَأَى
الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا
فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ
“Sesungguhnya
Allah memperhatikan hati para hamba-Nya. Allah mendapati hati Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati yang paling baik, sehingga Allah
memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya sebagai pembawa risalah-Nya. Kemudian
Allah melihat hati para hamba-Nya setelah hati Muhammad. Allah mendapati hati
para sahabat beliau adalah hati yang paling baik. Oleh karena itu, Allah
menjadikan mereka sebagai para pendukung Nabi-Nya yang berperang demi membela
agama-Nya. Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin (para sahabat), pasti
baik di sisi Allah. Apa yang dipandang buruk oleh mereka, pasti buruk di sisi
Allah.” (Diriwayatkan
oleh Ahmad dalam al-Musnad, I/379, no. 3600. Syaikh Ahmad Syakir
mengatakan bahwa sanadnya shohih).
Para
sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang
paling tinggi ilmunya. Merekalah yang paling paham perkataan dan perilaku Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Merekalah manusia yang paling paham tentang Al-Qur’an,
karena mereka telah mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
tatkala wahyu diturunkan, sehingga para sahabat benar-benar mengetahui apa yang
diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Keberkahan
Para Sahabat radhiyallahu ‘anhum
Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah melimpahan keberkahan kepada Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam dengan para sahabat yang begitu taat dan besar cintanya
kepada beliau. Tidak ada satupun Nabi maupun para raja yang mendapatkan
keberkahan seperti ini dari umatnya.
‘Urwah
bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, tatkala dulu masih kafir, dia berkata
kepada kaumnya dan menceritakan bagaimana para sahabat radhiyallahu ‘anhum
begitu memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mengatakan,
“Wahai kaumku! Demi Allah, sungguh aku telah datang kepada para raja. Aku telah
bertemu Kaisar, Kisra, dan an-Najasyi. Demi Allah, aku tidak pernah melihat
seorang raja pun yang diagungkan oleh para sahabatnya melebihi apa yang
dilakukan para sahabat Muhammad kepada Muhammad. Demi Allah, tidaklah Muhammad
membuang dahak melainkan dahak itu jatuh ke tangan salah seorang dari mereka,
lalu dia mengusapkannya ke wajah dan kulitnya. Jika Muhammad memerintahkan
sesuatu kepada mereka, niscaya mereka melaksanakannya dengan segera. Jika
Muhammad berwudhu, mereka hampir berkelahi memperebutkan tetesan airnya. Jika
mereka berbicara, mereka memelankan suara di hadapannya. Mereka tidak berani
menatapnya karena penghormatan mereka yang besar kepadanya.” (Diriwayatkan oleh
al-Bukhari dalam Kitab Asy-Syuruuth, V/329-332).
Bandingkanlah
kemuliaan mereka dengan para sahabat Nabi Musa ‘alaihis salam. Tatkala
Nabi Musa mengajak mereka untuk beriman, mereka mengatakan,
يَا
مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللهَ جَهْرَةً (55)
“Hai
Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan
jelas.” (QS.
Al-Baqarah: 55)
Demikian
pula ketika mereka diajak berjuang di jalan Allah, mereka berkata kepada Nabi
Musa ‘alaihis salam,
يَا
مُوْسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوْا فِيْهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ
وَرَبُّكَ فَقَاتِلاَ إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُوْنَ (24)
“…
Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami
hanya duduk menanti disini saja.”
(QS. Al-Maidah: 24)
Padahal
orang-orang yang Allah Ta’ala ceritakan dalam ayat ini adalah 70 orang
terbaik dari kaumnya Nabi Musa. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
وَاخْتَارَ
مُوْسَى قَوْمَهُ سَبْعِيْنَ رَجُلاً لِمِيْقَاتِنَا … (155)
“Dan
Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya..” (QS. Al-A’raaf: 155).
Ayat
ini menunjukkan bahwa 70 orang ini adalah manusia terbaik dari Bani Israil dan
manusia pilihan dari kaum Nabi Musa ‘alaihis salam. Akan tetapi,
lihatlah sikap mereka kepada Nabinya, sampai-sampai Allah memberi teguran
kepada mereka dengan bergetarnya bumi yang mereka pijak, sehingga Nabi Musa pun
berkata kepada Allah Ta’ala,
أَتُهْلِكُنَا
بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا (155)
“Apakah
Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang berakal di antara kami?”
(QS. Al-A’raaf: 155)
Nabi
Musa ‘alaihis salam menyebut mereka sebagai orang-orang yang
kurang akal (bodoh), sekali pun mereka adalah orang-orang pilihan dari kaumnya.
Lantas, bagaimana menurut Anda dengan orang-orang yang bersama Nabi Musa, yang
bukan pilihan?
Tentang
penghormatan para sahabat radhiyallahu ‘anhum kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, kita tidak akan mendapatkan bandingannya selama-lamanya.
Bagaimana mereka menundukkan pandangannya dan memelankan suara di hadapan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Demikian pula bagaimana mereka begitu semangat meraih
berkah dari riak dan sisa air wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
sampai mereka berebut.
Kaum
muslimin rahimakumullah, perlu kami ingatkan bahwa mengambil berkah dari
riak dan air bekas wudhu ini hanya berlaku bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan tidak berlaku pada orang lain. Tidak diperbolehkan seorang
muslim mengambil berkah dari riak, sisa air wudhu atau sisa air minum ulama,
kyai atau ustadznya. Oleh karena itu suatu kekeliruan jika para santri berebut
sisa air minum kyainya karena dianggap ada berkah khusus pada minumannya.
Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita ke jalan yang lurus.
Kemuliaan
Hati Para Sahabat
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki datang
kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam mengutus seseorang untuk bertanya kepada para istri
beliau.
Mereka
menjawab, “Kami hanya punya air.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
salam bersabda: “Siapa berkenan menerima orang ini sebagai tamunya?”
Maka seorang laki-laki dari Anshar (yakni Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu)
mengatakan, “Saya bersedia.”
Lalu
dia pulang membawa tamunya ke rumah. Dia berkata kepada istrinya, “Muliakanlah
tamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Istrinya berkata, “Tapi
kita tidak mempunyai makanan apa pun selain makanan anak-anak.”
Laki-laki
itu berkata kepada istrinya, “Siapkan makanan, nyalakan lampu, tidurkanlah
anak-anakmu jika kami hendak makan malam.” Maka istrinya menyiapkan makanan,
menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya.
Kemudian
istrinya berdiri seolah-olah hendak memperbaiki lampunya, namun justru
memadamkannya. Lalu laki-laki itu bersama istrinya menampakkan kepada tamunya
bahwa mereka berdua juga ikut makan (padahal tidak makan). Di malam itu,
keduanya bermalam dalam keadaan menahan lapar.
Di
pagi hari, laki-laki itu berangkat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tadi malam Allah takjub kepada perbuatan kalian berdua. Maka Allah Ta’ala
menurunkan (firman-Nya):
وَيُؤْثِرُوْنَ
عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ
فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ (9)
“Dan
mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan
siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang orang
yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9). (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh
al-Bukhari, no. 3798 dan Muslim, no. 2054)
Kedermawanan
dan sifat mulia ini bukan hanya milik beberapa orang saja. Namun inilah sifat
para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Baca juga: Meneladani Sahabat Nabi, Jalan Kebenaran
—
Penulis:
Muhaimin Ashuri
Muroja’ah:
Ustadz Aris Munandar, MA
Artikel:
Muslim.or.id
Wallahu'alam Bishshowab
Demikian sedikit tulisan yang Allah mudahkan bagi kami untuk menyusunnya, semoga Allah berikan kita taufik untuk mengamalkannya. dan bermanfaat bagi penulis dan juga segenap pembaca.
Barakallah ..... semoga bermanfaat
-----------------NB----------------
Saudaraku...!
Mari Kita tengadahkan tangan kita, memohon ampunan dan ridho Allah SWT. :
Yaa Allah... Kami Mengetuk Pintu LangitMu, dalam Kekhusyu'an do'a... Mengawali pagi ini dengan penuh harapan... Dengan sepenuh hati kami panjatkan harapan dan do'a.
Yaa Allah... Yaa Kaafii... Yaa Ghani.., Yaa Fattah... Yaa Razzaq... Jadikanlah hari ini Pembuka Pintu Rezki dan Keberkahan, Pintu Kebaikan dan Nikmat. Pintu kesabaran dan Kekuatan, Pintu Kesehatan dan Keselamatan, dan Pintu Syurga Bagiku, Keluargaku dan Saudara-Saudaraku semuanya.
Yaa Allah... panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Yaa Allah... sehat afiatkan kami dalam kenikmatan Istiqomah dan umur yang bermanfaat. Angkatlah stiap penyakit diri kami dengan kesembuhan yang cepat... dgn tidak meninggalkan rasa sakit & kesedihan, Sungguh hanya Engkaulah yang maha menyembuhkan.
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم
آمين آمين آمين يا الله يا رب العالمين
وَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهْ
🙏🙏
Editing: Ndik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar